Abu Yazid al-Busthami

Jakarta, Aktual.com – Thayfur bin Isa atau yang lebih dikenal sebagai Abu Yazid al-Busthami adalah salah seorang sufi besar dalam dunia Islam. Lahir pada tahun 804 M dan wafat pada tahun 875 M di wilayah Bisthami, Qumis, Iran.

Ia memiliki nama asli Thayfur bin Isa, akan tetapi dikenal sebagai Abu Yazid karena ia memiliki anak bernama Yazid, sedangkan al-Busthami merupakan nama daerah tempat ia tinggal.

Suatu malam Abu Yazid sewaktu masih kecil menemui ayahnya, bernama Isa, yang sedang membaca al-Quran, sampai pada saat membaca surat al-Muzzammil, ia bertanya kepada ayahnya.

“Ayah, siapa yang diperintahkan oleh Allah untuk melaksanakan qiyamul lail?” tanya Abu Yazid.

“Rasulullah SAW, Nabi Muhammad anakku,” jawab ayahnya.

Mendengar jawaban sang ayah, Abu Yazid menyindir sang ayah, “Lalu, mengapa ayah tidak melakukan qiyamul lail sebagaimana dikerjakan oleh Nabi Muhammad SAW,” tanya Abu Yazid.

Sang ayah mengelak, “Itu adalah perintah di mana Allah SWT memuliakan Nabi Muhammad SAW,”

Sang ayah melanjutkan bacaannya sampai pada surat al-Muzammil ayat 20:

إِنَّ رَبَّكَ يَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُومُ أَدْنَىٰ مِن ثُلُثَىِ ٱلَّيْلِ وَنِصْفَهُۥ وَثُلُثَهُۥ وَطَآئِفَةٌ مِّنَ ٱلَّذِينَ مَعَكَ ۚ وَٱللَّهُ يُقَدِّرُ ٱلَّيْلَ وَٱلنَّهَارَ ۚ عَلِمَ أَن لَّن تُحْصُوهُ فَتَابَ عَلَيْكُمْ ۖ فَٱقْرَءُوا۟ مَا تَيَسَّرَ مِنَ ٱلْقُرْءَانِ ۚ عَلِمَ أَن سَيَكُونُ مِنكُم مَّرْضَىٰ ۙ وَءَاخَرُونَ يَضْرِبُونَ فِى ٱلْأَرْضِ يَبْتَغُونَ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ ۙ وَءَاخَرُونَ يُقَٰتِلُونَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۖ فَٱقْرَءُوا۟ مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ ۚ وَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ وَأَقْرِضُوا۟ ٱللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا ۚ وَمَا تُقَدِّمُوا۟ لِأَنفُسِكُم مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِندَ ٱللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا ۚ وَٱسْتَغْفِرُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌۢ

“Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS: Al-Muzammil: 20)

Sang anak yang mendengar, bertanya lagi, “Ayah mereka itu siapa?”

“Mereka adalah sahabat-sahabat Rasulullah SAW,” jawab sang ayah.

“Mengapa ayah tidak melakukan qiyamul lail sebagaimana para sahabat Rasulullah SAW melakukannya?” tanyanya lagi.

Sang ayah mengelak lagi, “Wahai anakku, mereka adalah orang-orang yang diberikan kekuatan oleh Allah untuk melakukan qiyamul lail,”

“Ayah, sungguh tidak terdapat kebaikan pada orang-orang yang tidak mengikuti Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya,” ujar Abu Yazid kecil.

Setelah percakapan ini, ayah Abu Yazid merasa malu. Ia menerima logika sang anak, dan akhirnya ia mulai membiasakan shalat malam.

Waallahu a’lam

(Rizky Zulkarnain)

(Arie Saputra)