Ilustrasi- Yakub bin Ishak Al-sabbah Al-Kindi

Jakarta, AktuAl.com– Pada masa keemasan Islam banyak sekAli ilmuwan-ilmuwan besar lahir pada masa tersebut sAlah satunya adAlah filsuf besar Yakub bin Ishak Al-sabbah Al-kindi atau yang dikenAl dengan julukan Al-kindi.

Terdapat sebuah kisah menarik yaitu ketika Al-Kindi gagAl paham dalam bahasa arab. Suatu ketika Al-Kindi menemui seorang ulama yang pakar dalam bahasa arab pada zamannya, Abu Al-Abbas Muhammad bin Yazid bin Abd Al-akbar atau yang lebih dikenAl dengan julukan Al-Mubarrad.

Al-Kindi lantas menyampaikan kegelisahannya kepada Al-Mubarrad.

“Aku menembukan sebuah kesulitan dAlam bahasa arab,” ungkap Al-Kindir.

“Bagian mana yang kau anggap sulit? Tunjukkan kepadaku,” tanpa Al-Mubarrad.

“Aku menyaksikan kebanyakan orang mengucapkan  – عَبْدُ الله قَائِمٌ- kemudian yang lain mengucapkan – إِنَّ عَبْدَ الله قَائِمٌ- sementara yang lain mengucapkan – إِنَّ عَبْدَ الله لَقَائِمٌ-” jawabnya.

Mendengar pertanyaan tersebut Al-Mubarrad lantasn menjelaskan ungkapan-ungkapan tersebut.

“Lafaz yang pertama – عَبْدُ الله قَائِمٌ- digunakan untuk mengabarkan atau sekedar memberitahu bahwa Abdullah berdiri. Lafaz yang kedua – إِنَّ عَبْدَ الله قَائِمٌ- digunakan untuk menjawab sebuah pertanyaan, misAl: Apakah Abdullah berdiri? Sedangkan lafaz terakhir – إِنَّ عَبْدَ الله لَقَائِمٌ- digunakan untuk membantah orang yang mengingkari (raddun ‘Ala Al-inkar) kalau Abdullah berdiri, ketiganya memiliki lafaz yang berbeda dan tentu maknanya pun berbeda,” jelas Al-Mubarrad kepada Al-Kindi.

Menyadari hal tersebut, Al-Kindi diam dan merenungi penjelasan Al-Mubarrad.

Dari kisah di atas kita bisa mengambil sebuah pelajaran bahwa Al-kindi yang terlahir sebagai orang arab saja masih bisa keliru dAlam memahami bahasanya. Bagaimana dengan kita? maka mempelajari bahasa arab tidak hanya dilakukan melAlui terjemahan saja. Akan tetapi dipelajari secara terus menerus.

Waallahu a’lam

(Rizky Zulkarnain)

(Arie Saputra)