Jakarta, aktual.com – Seorang guru sufi terkadang memberikan sebuah pelajaran kepada muridnya bukan melalui kitab-kitab yang diajarkan di madrasah-madrasah atau perguruan tinggi. Biasanya guru sufi tersebut memberikannya dengan praktek secara langsung untuk mengetahui hakikat kehidupan. Seperti kisah berikut ketika seorang guru memberikan nasihat secara langsung kepada muridnya:

Ketika itu, Seorang guru sufi melihat muridnya sedang dalam keadaan yang kurang baik, terlihat dari raut wajahnya yang murung dan sedih. Lalu ia bertanya kepada muridnya tersebut, “Kenapa kamu sentiasa murung dan sedih. Bukankan banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu?” Sang guru bertanya.

“Guru, belakangan ini hidupku penuh dengan masalah. Sangat sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah senantiasa datang tiada akhir,” jawab si murid itu.

Mendengar permasalahan tersebut sang guru justru tersenyum lalu berkata, “Ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah ke mari, biar ku perbaiki keadaan hatimu itu,”

Ketika sudah diambil oleh sang murid, guru tersebut memerintah sang murid lagi, “Ambil segenggam garam dan masukkan ke dalam segelas air itu. Setelah itu, coba kau minum airnya sedikit,” kata si guru.

Karena perintah dari gurunya langsung, sang murid pun melakukannya tanpa pikir panjang. Wajahnya kini berkerut karena meminum air yang sangat asin.

“Bagaimana rasanya?” tanya si guru.

“Asin dan perutku menjadi mual,” jawab si murid.

Si guru tersenyum sekali lagi apabila melihat wajah muridnya yang berkerut keasinan.

“Sekarang kau ikut aku,” ujar sang guru.

Guru tersebut membawanya ke sebuah danau yang dekat dengan tempat mereka, “Ambil garam yang segenggam lagi itu dan taburkan ke danau ini,” perintahnya.

Si murid menaburkan segenggam garam itu ke danau tanpa bersuara.

“Sekarang coba kau minum air danau itu,” kata si guru.

Si murid menciduk dengan kedua tangannya untuk meminumnya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir ditenggorokannya, si guru bertanya, “Bagaimana rasanya?”

“Sangat segar guru,” kata sang murid.

“Masih adakah rasa garam yang kau taburkan tadi?” tanya si guru.

“Tidak sama sekali,” kata si murid.

Ketika sang murid telah selesai menghilangkan rasa asin dan mualnya tersebut sang guru berkata kepada sang murid, “Segala masalah dalam hidup ini seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang hidupmu sudah ditakdirkan Allah Swt, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap begitu, tidak berkurang, tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi , yang bebas dari penderitaan dan masalah,” ucap sang guru memberikan nasehat kepada muridnya.

 

Si murid hanya terdiam dan mengangguk-angguk kepalanya mendengar nasehat dari gurunya.

“Tetapi, rasa tidak enak dari penderitaan yang dialami itu sangat bergantung dari besarnya hati yang menampungnya. Jadi, supaya tidak terus menderita, berhentilah menjadikan hatimu seperti gelas. Jadikanlah ia sebagai danau yang sangat luas,” ujar sang guru.

Hikmah yang didapat dari kisah di atas sangatlah berguna bagi kita, bahwa tidak ada seorangpun yang bebas dari penderitaan serta masalah-masalah di Dunia ini. Ketika seseorang mengalami penderitaan jadikanlah penderitaan tersebut seperti garam yang ditaburkan ke dalam danau yang sangat luas, artinya masalah-masalah yang kita hadapi jangan menjadi beban dalam hidup, justru jadikan penyemangat yang mendongkrak kedekatan kita dengan Allah Swt.

Waallahu a’lam

(Rizky Zulkarnain)