Ilustrasi Kaum bani israil

Jakarta, Aktual.com – Ketika Nabi Musa turun dari gunung Thursina ia terkejut, kaumnya telah tersesat. Mereka berpesta pora dan menyembah patung anak sapi yang terbuat dari emas.

Nabi Musa menegur saudaranya yaitu Nabi Harun yang telah dititipi agar menjaga umatnya. Nabi Harun berkata, bahwa ia telah memperingatkan mereka, namun mereka tidak memperdulikannya, Nabi Harun dianggap orang yang lemah.

Ia telah bersusah payah melarang mereka menyembah patung anak sapi itu, tetapi mereka tidak mau mengindahkan nasehatnya, bahkan semakin keras tindakan Nabi Harun kepada mereka, makin keras pula perlawanan mereka, bahkan Nabi Harun diancam akan di bunuhnya.

Nabi Musa marah kepada kaumnya, “Alangkah buruknya perbuatan yang kalian lakukan sesudah kepergianku,” Lalu Nabi Musa meletakkan papan Taurat di atas tanah, dan bergegas mendatangi Nabi Harun, “Hai Harun apa yang menghalangi kamu ketika melihat mereka telah sesat, sehingga kamu tidak mengikuti aku?”

Nabi Harun menjawab, “Hai putra ibuku, janganlah engkau pegang jenggotku dan jangan pula kepalaku.”

Nabi Harun memberi pengertian kepada Nabi Musa bahwa ia sama sekali tidak bermaksud menentang perintahnya, dan tidak juga menunjukkan sikap merestui penyembahan patung anak sapi tersebut.

Tetapi ia merasa khawatir, jika bani Israel ditinggalkannya, Nabi Musa akan bertanya kepadanya, mengapa mereka ditinggalkan, mengapa orang yang seharusnya bertanggung jawab justru meninggalkan mereka?

Di sisi lain, Nabi Harun juga khawatir, jika perbuatan bani Israel dihadapi dengan kekerasan, akan terjadi peperangan diantara mereka, dan Nabi Musa tentu akan bertanya, mengapa ia menciptakan perpecahan diantara mereka dan mengapa pula tidak menunggu kembalinya Nabi Musa?

Nabi Musa akhirnya menyadari bahwa Nabi Harun telah melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya. Ia meminta ampun kepada Allah SWT bagi dirinya dan juga saudaranya Nabi Harun.

Setelah diselidiki ternyata Samirilah orang yang mengajak mereka membuat patung anak sapi dan menyembahnya. Nabi Musa marah sekali. Samiri di usir, tidak boleh bergaul dengan masyarakat, sebab Samiri terkena kutukan, jika ia disentuh atau menyentuh manusia, maka badannya akan menjadi demam-panas, itulah siksa di dunia, adapun nanti di akhirat akan di masukkan ke dalam neraka.

Kemudian Nabi Musa memerintahkan kaumnya yang telah tersesat menyembah patung anak sapi itu supaya bertaubat kepada Allah dengan sebenar-benarnya tobat.

Tujuh puluh orang diantara kaumnya diajak ke gunung Thursina, mereka adalah orang-orang terbaik, diajak Nabi Musa untuk memohon ampun buat kaumnya yang berdosa.

Setibanya diatas gunung, datanglah awan tebal yang meliputi seluruh gunung. Nabi Musa dan kaumnya masuk ke dalam awan itu dan mereka segera bersujud. Selagi bersujud itu mereka mendengar percakapan Nabi Musa dengan Tuhannya. Pada saat itu timbullah keinginan di benak mereka untuk melihat Allah secara langsung.

Setelah Nabi Musa selesai bercakap-cakap dengan Allah, mereka berkata kepada Nabi Musa, “kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami dapat melihat Allah dengan jelas.”

Sebagai jawaban, kontan atas kelancangan mereka itu Allah mengirim Halilintar yang menyambar dan merenggut nyawa mereka sekaligus.

Nabi Musa sedih melihat nasib mereka itu. Mereka adalah orang-orang terbaik yang dikumpulkan dari kaumnya. Ia memohon kepada Allah agar mereka diampuni dosanya dan dihidupkan kembali.

Allah mengabulkan doanya. 70 orang yang sudah meninggal itu dihidupkan lagi. Nabi Musa kemudian menyuruh orang-orang itu bersumpah untuk berpegang teguh pada kitab Taurat sebagai pedoman hidup. Melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Waallahu a’lam

(Rizky Zulkarnain)

(Arie Saputra)