Ilustrasi - Ikan bawal bintang. ANTARA/HO-KKP
Ilustrasi - Ikan bawal bintang. ANTARA/HO-KKP

Jakarta, aktual.com – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong budidaya bawal bintang untuk mendongkrak perekonomian nasional, penyerapan tenaga kerja dan meningkatkan kesejahteraan pembudidaya, seperti di Provinsi Kepulauan Riau.

“Harapannya di Kepri sebagai provinsi kepulauan dengan 99 persen adalah laut, terbentuk sentra-sentra kawasan budidaya dengan berbagai komoditas unggulan yang dapat memberikan dampak signifikan bagi devisa negara dan perekonomian Indonesia,” kata Dirjen Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Minggu [8/3].

Slamet Soebjakto memaparkan beberapa kegiatan pembangunan perikanan budidaya laut yang telah dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya KKP adalah Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) dengan konsep sentra kawasan yakni di Provinsi Aceh pada tahun 2017-2019, di Kabupaten Meranti pada tahun 2021-2022 dan pada tahun 2021-2023 di Provinsi Kepulauan Riau.

Saat ini, ujar Slamet, KKP terus mendorong pembudidaya untuk mengembangkan berbagai komoditas ikan laut, salah satunya adalah bawal bintang.

Ia juga menuturkan bahwa ikan tersebut dikenal dengan merek dagang silver pompano yang telah berkembang di Tanah Air.

Dia menjelaskan teknologi budidaya bawal bintang sudah dikuasai dengan tingkat produksi yang dinilai cukup tinggi. Selain itu, masih menurut dia, peluang pasar ikan bawal bintang juga cukup besar baik di pasar lokal maupun ekspor.

Oleh karena itu, Slamet menilai upaya pengembangan usaha budidaya bawal bintang masih terbuka untuk dikembangkan dalam berbagai skala usaha.

Kepala BPBL Batam, Toha Tusihadi menambahkan bawal bintang mempunyai prospek yang sangat baik untuk dijadikan komoditas industri, maka pengembangan teknologi budidayanya menjadi fokus perhatian yang sangat penting.

Toha juga memaparkan bahwa budidaya ikan bawal bintang telah dikembangkan oleh BPBL Batam sejak tahun 1999 dan berhasil membenihkan secara massal sejak tahun 2007.

“Budidaya bawal bintang sangat menguntungkan, dengan harga jual rata-rata Rp 95 ribu per kilogram dan biaya produksi seperti pakan, benih, obat-obatan, listrik, tenaga kerja dan lain lain sebesar Rp68 ribu per kilo, maka keuntungan yang dapat diperoleh sekitar Rp27 ribu per kilogram,” jelas Toha.

Toha juga mengatakan bawal bintang untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal di Kota Batam masih perlu sekitar 3-4 ton per bulan dan pasarnya cukup menjanjikan.

Sebagai informasi, BPBL Batam telah berhasil memproduksi 211 ribu ekor benih bawal bintang pada tahun 2019. Sebanyak 33 ribu ekor untuk memenuhi permintaan di Provinsi Kepri dan sebanyak 110 ribu ekor untuk bantuan kelompok pembudidaya ikan di Provinsi Kepri dan Riau, sisanya untuk kegiatan perekayasaan dan pembesaran di keramba jaring apung BPBL Batam.

Padahal saat ini BPBL Batam memiliki 160 ekor induk untuk memproduksi benih bawal bintang secara massal.

(Eko Priyanto)