Jakarta, aktual.com – Maulana Syekh Yusri Rusydi menjelaskan Konsep Ihsan yang didapatkan daripada kisah Luqman Al-Hakim yaitu sulukiat (adab), atau yang biasa dikenal dengan tasawwuf (pembersihan jiwa). Dalam hal ini diantara Lukman Al-Hakim memberikan nasehat kepada anaknya tentang beberapa hal, diantaranya adalah apa telah difirmankan Allah Swt:

وَلا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلا تَمْشِ فِي الأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong), dan jangan pula kamu berjalan di muka bumi ini dengan rasa angkuh, karena sesungguhnya Allah tidak suka terhadap setiap orang yang sombong dan membanggakan diri,” (QS. Lukman: 18).

Syekh Yusri mentafsirkan, bahwa larangan untuk tidak memalingkan muka dari manusia itu memiliki dua arti, yaitu larangan untuk sombong dan larangan untuk tidak merendahkan diri dihadapan orang lain. Adapun larangan yang berikutnya adalah seorang mukmin tidak boleh melakukan sesuatu tanpa tujuan yang mulia, sebagaimana Al Qur’an menta’birkannya dengan kata “Maraha” yang berasal dari kata “al-marah” yang berarti tempat peristirahan hewan apabila sudah selesai digembala.

Dimana para hewan tersebut bermain-main, tanpa ada tujuan ataupun faidahnya. Kata ini juga mengisyaratkan, bahwa jangan sampai kita seperti hewan, yang tidak memiliki tujuan hidup kecuali hanya untuk memenuhi kebutuhan perut dan syahwatnya saja, tegas syekh Yusri.

Imam Ghazali Ra telah mengatakan, bahwa:

مَنْ لَيْسَ لَهُ وِرْدٌ فَهُوَ قِرْدٌ

“Barang siapa yang tidak memiliki wirid maka dia adalah monyet,”

Beliau mencontohkan, diantara makhluk Allah yang menunjukan bahwa dirinya tidak memiliki tujuan hidup adalah monyet, yang hanya mengisi kehidupannya dengan makan, syahwat, dan bermain-main, pindah dari ranting ke ranting untuk menghabiskan hari-harinya.

Maka dari itulah para ulama tasawwuf membebankan kepada para muridnya untuk mengamalkan wirid atau dzikir-dzikir, untuk mengisi setiap waktunya dengan berdzikir kepada Allah serta membantu agar senantiasa istiqamah dalam menjalankan tugas ubudiyahnya (kehambaannya) melakukan perintah dan menjauhi larangan Sang Tuhannya.

Sehingga seorang murid tidak merasa memiliki waktu kosong yang bisa ia gunakan untuk melakukan sesuatu yang tidak ada faidahnya (al laghwu).

“Karena sesungguhnya, tidaklah setiap nafas terhembus, kecuali ada kewajiban yang harus dilakukan. Dan apabila tidak dilakukan, maka kewajiban itu akan terus menumpuk dan tidak akan pernah bisa untuk diqadhanya. Waktu tidak akan pernah bisa terbeli, meski kita membayarnya dengan dunia beserta isinya,” pesan syekh Yusri.

Wallahu A’lam

(Rizky Zulkarnain)