Jakarta, Aktual.co — Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) tahun ini menargetkan keluar dari negara berpendapatan rendah. Memasuki usia ke-15, pihak KPPU pun kembali menghelat syukuran dan pembukaan ‘Jakarta International Competition Forum’ pada 9 – 10 Juni 2015 yang diselenggarakan di Gedung Museum Nasional. Jl. Merdeka Barat no. 12 Jakarta. Rencananya acara tersebut bakal dibuka oleh Wakil Presiden RI, H.M Jusuf Kalla.

Ketua KPPU RI, M Nawir Messi mengatakan keinginan keluar dari negara berpendapatan rendah menjadi pencapaian utama meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

“Kebijakan yang sehat yang dihasilkan dalam forum ini diharapkan bisa menyelesaikan persoalan negeri ini dan Indonesia bisa keluar dari predikat sebagai negara berpenghasilan rendah. Kami juga ingin Indonesia bisa setara dengan negara maju lainnya,” ujar M Nawir Messi dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Senin (8/6).

Menurutnya, tantangan kedua dalam mengentaskan Indonesia dari predikat negara berpendapatan rendah adalah defisit perdagangan.

“Kedua, kami menemui defisit dalam neraca perdagangan Indonesia. Bahkan, tantangan besarnya adalah menghadapi perdagangan impor internasional. Apakah dalam kompetisi ini, Indonesia bisa meningkatkan daya saing terhadap perdagangan asing tersebut,” jelasnya.

Terkait dengan persoalan kemiskinan yang dihadapi, Indonesia perlu melakukan perubahan dalam bidang ekonomi terutama dalam meningkatkan pendapatan negara. Persoalan terkait tekanan impor bisa menjawab Indonesia menghadapi tantangan untuk mencapai perubahan yang baik dalam bidang ekonomi.

“Selama ini kita menghadapi tekanan dalam hal impor, lalu kekuatan kita apa untuk mengantisipasinya,” tambahnya.

Dirinya berharap dengan adanya kebijakan persaingan ini nantinya akan membawa Indonesia lebih dikenal di dunia.

“Dengan kondisi sekarang dan dalam konteks membangun lembaga ekonomi. Kami berharap persoalan rendahnya produktifitas, persoalan moral bangsa yang menjadi hambatan tidak terjadi lagi ke depannya. Indonesia bakal bisa kembali menata perekonominya,” pungkasnya.

(Eka)