Jakarta, aktual.com – Ketua KPU Provinsi Sumatera Utara Yulhasni, membantah video viral terkait dengan rusuh massa yang memprotes surat suara yang telah tercoblos untuk pasangan calon presiden/wakil presiden tertentu.

“Kejadian tersebut terjadi dalam pilkada di Tapanuli Utara pada tahun 2018,” kata Yulhasni di Kantor KPU RI, Jakarta, Minggu (3/3).

Ia menjelaskan peristiwa itu bermula ketika massa yang tidak puas dengan hasil rekapitulasi di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 8 Desa Siborong Borong Kabupaten Tapanuli Utara sehingga mendatangi KPU Kabupaten Tapanuli Utara.

Menurut dia, kebetulan yang menang adalah petahana dengan nomor urut 01. Oleh karena itu, dalam video tersebut terdengar massa berteriak 01 yang dianggap melakukan kecurangan dan KPU Kota Medan dianggap terlibat.

“Massa mendatangi KPU Kota Medan, ada form C1 yang harus di-‘scan’ karena harus diunggah di KPU RI dan dalam amplop dibuka, lalu mereka teriak-teriak. Amplop yang diangkat-angkat itu berisi C1 ‘scan’ yang akan diunggah, bukan sudah tercoblos untuk paslon tertentu,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa sampai saat ini KPU Kota Medan belum menerima surat suara Pemilu Presiden.

KPU Kota Medan merencanakan pelipatan surat suara pada tanggal 5 Maret mendatang.

Yulhasni juga memastikan gudang surat suara yang dimiliki KPU Kota Medan berada di bekas Bandara Polonia Medan dan dijaga ketat aparat kepolisian.

“Kabar surat suara sudah tercoblos itu bohong dan tidak ada karena memang surat suara belum datang dan peristiwa yang viral itu kejadian sudah lama di KPU Tapanuli Utara yang kasusnya sudah selesai,” katanya.

Yulhasni menjelaskan bahwa informasi terkait dengan kabar hoaks itu diketahuinya pada hari Sabtu (2/3) pukul 19.00 WIB dan banyak yang menanyakan kepada dirinya serta anggota KPU Provinsi Sumatera Utara.

Ia langsung mengecek informasi tersebut dengan memanggil dan kroscek kepada anggota KPU Kota Medan untuk memastikan kabar yang viral tesebut.

“Teman-teman KPU Tapanuli Utara mengatakan ini peristiwa di kantornya dan mereka tahu betul peristiwa itu karena menyimpan rekaman tersebut,” ujarnya.

Ant.

(Zaenal Arifin)