Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan menyampaikan materi saat menjadi pembicara pada Diplomasi Maritim Indonesia di Jakarta, Jumat (22/2/2019). Acara tersebut untuk memperluas pandangan antara pembuat kebijakan, akademisi, dan komunitas diplomatik mengenai tujuan pemerintah Indonesia dalam bidang maritim. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/ama.

Jakarta, Aktual.com – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan membidik potensi ekspor ke China pada tahun depan menyusul rencana negara tirai bambu itu untuk menggelontorkan stimulus ekonomi sebesar 500 miliar dolar AS guna mendongkrak ekonomi.

“Tahun depan China beri stimulus untuk ekonomi dia. Apa dampaknya buat kita? Ini peluang ekspor kita. Makanya kita genjot sekarang ini untuk memperbaiki produk kita yang bisa diekspor ke dia (China),” katanya dalam diskusi Sarasehan 100 Ekonom yang digelar secara daring, Selasa(15/9).

Upaya memperbaiki produk yang dimaksud Luhut yakni dengan mendorong hilirisasi yang penting untuk
​​​​​yang menciptakan nilai tambah dalam transformasi ekonomi Indonesia.

“Hilirisasi ini punya peran penting karena memberi nilai tambah yang sangat bagus, mulai dari pajak, pendidikan, hingga potensi UMKM. Kita kan tidak mau terus-terusan mengandalkan komoditas,” katanya.

 

Luhut mengatakan pemerintah pun menargetkan untuk bisa mendorong ekspor besi dan baja menjadi sekitar 13-35 juta dolar AS pada tahun depan. Sementara pada tahun ini, total ekspor besi dan baja ditargetkan mencapai sekitar 10 juta dolar AS.

“Target kita tadinya tahun ini 13 miliar dolar AS tapi karena Covid terjadi juga penundaan. Tahun depan, kami sudah targetkan 13-15 miliar dolar AS dan pada tahun 2004 itu akan 30 miliar dolar AS. Itu belum termasuk lithium battery,” katanya.

Meski akan mendongkrak ekspor, Luhut menambahkan volumenya akan terlebih dahulu mengutamakan kebutuhan dalam negeri.

Luhut menambahkan pemerintah saat ini terus mendorong hilirisasi untuk menambah nilai tambah ekspor. Hal itu dilakukan agar Indonesia tidak lagi mengekspor material mentah yang tidak memiliki nilai tambah.

“Kami membandingkan dari tahun ke tahun membaik, value added dari nikel ore (yang diolah) jauh lebih tinggi dari 40-50 tahun kendaraan Jepang roda empat atau roda dua yang ada di Indonesia. Ini fakta yang ada sekarang ini,” katanya.

Dalam catatan Kemenko Maritim dan Investasi, selama periode 2014-2019, ekspor besi dan baja di luar kendaraan telah meningkat dari angka 1,1 miliar dolar AS menjadi 7,4 miliar dolar AS.

Pengolahan bijih nikel ke stainless steel slab juga memberikan nilai tambah secara signifikan. Dari 612 juta dolar AS menjadi 6,24 miliar dolar AS, atau meningkat 10 kali lipat.(Antara)

(Warto'i)