Malang, aktual.com – Sejumlah mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Muhammadiyah Malang menyemangati para santri Pondok Pesantren Metal, Pasuruan dengan menonton film, dengan harapan bisa mengambil pelajaran dari tontonan itu untuk menghadapi tantangan hidup.

Melalui mobil bioskop keliling UMM, mahasiswa praktik event organizer (EO) Prodi BPSI tersebut, memutar film “Garuda di Dadaku 2” dengan harapan bisa memotivasi anak-anak (santri) yang sebagian kurang beruntung itu, agar pantang menyerah dan selalu bekerja sama dalam menghadapi segala tantangan yang mereka hadapi.

“Berbeda dengan pesantren lainnya atau pada umumnya, Ponpes Metal ini menerima santri yang kurang beruntung, seperti tuna grahita, rehabilitasi korban narkoba, anak telantar, dan anak yatim, sehingga perlu perhatian lebih,” kata Ketua Kelompok Argya Project (yang menginisiasi edukasi di Ponpes Metal), Viki Setiawan, di Malang, Minggu (12/1).

Selain menonton film berjudul “Garuda di Dadaku 2”, melalui iven bertajuk “Sebar Nobar Pondok Metal” (Seneng Bareng Nonton Bareng Pondok Pesantren Metal), kelompok Argya Project juga berbagi kebahagiaan dengan mereka (santri) yang rata-rata berusia 1-12 tahun.

Kegiatan mahasiswa praktik EO itu juga dikemas dengan berbagai kegiatan edukasi permainan tradisional, seperti badut, “outbound”, membaca buku oleh Mobil Kamis Membaca UMM (Mobil KaCa), belajar Bahasa Inggris, dan nonton bareng.

Viki mengemukakan kegiatan itu selain sebagai penyelesaian praktikum EO mata kuliah Keterampilan Berbahasa Produktif, juga sebagai rasa ingin menumbuhkan jiwa sosial dan kepedulian sosial kepada sesama.

Dia mengemukakan anak-anak atau santri yang berada dalam Ponpes Metal, Rejoso tersebut, perlu mendapatkan perhatian yang lebih.

“Harapan kami ada pihak luar yang tergugah hatinya untuk berbagi kepada anak-anak luar biasa ini. Pemilihan rangkaian kegiatan juga diharapkan dapat memberikan alternatif kegiatan yang menyenangkan, yang berbeda dengan kegiatan di pondok pada umumnya,” katanya.

Dosen pengampu mata kuliah Keterampilan Berbahasa Produktif, Mohamad Isnaini, mengapresiasi keberanian mahasiswa praktikum tersebut masuk menjadi bagian dari kegiatan Ponpes Metal.

Ia menilai pemilihan ponpes tersebut memang tepat, sebab pondok tersebut berbeda dengan pondok pada umumnya.

“Harapannya ideologi-ideologi yang kadang-kadang berbeda, dapat disatukan di sini. Ini merupakan suatu khazanah positif, ketika teman-teman menjalankan kegiatan di sini,” ucapnya.

Selain itu, lanjutnya, keterampilan berbahasa produktif sebenarnya merupakan ekspresi dalam berbahasa Indonesia yang diwujudkan dalam berbagai bentuk.

Cakupan linguistik yang cukup luas, katanya, merupakan implementasi dari bagaimana cara berkomunikasi, negosiasi, dan keterampilan berbahasa lainnya, sehingga diwujudkan dalam pengorganisasian iven.

“Fokus kita adalah bagaimana melakukan komunikasi negosiasi kepada beberapa pihak, bagaimana mengemas acara ini dengan berbagai ide kreatif, tim yang kuat dan bagaimana mengorganisasi sebuah acara,” katanya.

(Eko Priyanto)