Jakarta, Aktual.co — Kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat (Fed Rate) diperkirakan mundur dari target semula semester I 2015 menjadi Oktober 2015, karena pemulihan ekonomi AS yang belum signifikan dan juga pengaruh kebijakan moneter global.

Ekonom PT Mandiri Sekuritas, Aldian Taloputra mengatakan bahwa selain waktu kenaikan yang mundur, besaran kenaikan juga tidak akan drastis, seperti perkiraan sebelumnya yang mencapai kenaikan suku bunga 1,375 persen dari 0,25 persen.

“Perkiraan kami tetap di bawah 1 persen jika naik,” ujar dia di Jakarta, ditulis Aktual, Kamis (16/10).

Perkiraan tim ekonom Bank Mandiri, kata Aldian, juga berdasarkan informasi terakhir dari Rapat Dewan Gubernur The Fed, dimana dari forum itu banyak terbesit kemungkinan ekspetasi pertumbuhan ekonomi dan laju inflasi AS akan meleset.

Para pejabat The Fed, menurut Aldian, menunjukan gestur-gestur pesimistis mengenai perbaikan data makro ekonomi AS.

Salah satu indikatornya, kata Aldian, adalah sinyal pemulihan ekonomi AS dalam beberapa waktu terakhir, yang berasal dari asumsi berkurangnya tingkat pengangguran di AS dari 10 persen hingga di bawah enam persen.

Menurut Aldian, banyak pihak yang meragukan sinyal pemulihan itu karena jutsru banyak tenaga kerja yang keluar dari program pencatatan dari pemerintah, dan memilih bekerja di sektor informal.

“Banyak yang menganggap itu semu,” ujarnya.

Dari perkembangan kebijakan moneter global, ujar Aldian, The Fed juga akan sangat memperhitungkan sikap yang diambil Bank-bank Sentral di Eropa, Tiongkok dan Jepang, yang pada beberapa waktu belakangan memberikan respon yang kurang positif.

Meskipun demikian, kata Aldian, kebijakan penghentian stimulus oleh The Fed akan tetap terjadi. Negara-negara berkembang, termasuk Indonesia harus mempersiapkan instrumen moneter dan fiskal untuk antisipasi dana keluar.

Aldian optimisis, otoritas moneter Indonesia dapat mengantisipasi dampak dari kebijakan The Fed. Menurut dia, dengan asumsi besaran kenaikan suku bunga The Fed, di bawah 1 persen, gejolak pada kurs rupiah juga tidak akan terlalu fluktuatif.

“Apalagi kalau kita lihat jarak ‘spread’ suku bunga kita dengan AS cukup lebar, biasanya dari suku bunga acuan Bank Indonesia kan empat persen, tapi sekarang tujuh persen,” ujarnya.

()

(Eka)