Nur-Sultan, Aktual.com – Mantan Presiden Kazakhstan Nursultan Nazarbayev pada Selasa (18/1) muncul untuk pertama kalinya sejak kerusuhan mengguncang republik bekas Uni Soviet itu bulan ini.

Dalam pidato melalui video, mantan presiden berusia 81 tahun itu menyatakan tidak ada konflik di antara kelompok-kelompok elite.

Nazarbayev, yang sebelumnya berkuasa selama tiga puluh tahun di negara penghasil minyak itu, mengatakan dirinya tetap tinggal di Kazakhstan saat negara itu mengalami kekerasan terburuk dalam sejarah pasca-Soviet.

Kerusuhan yang terjadi bulan ini meletus terkait kenaikan harga bahan bakar dan kemudian berlanjut menjadi gerakan anti pemerintah. Kemarahan publik mengarah pada Nurbayev.

Kantor kejaksaan mengatakan sedikitnya ada 225 orang yang tewas selama rangkaian kerusuhan tersebut.

Ketika berbicara, dua pekan setelah aksi protes mulai muncul, Nazarbayev mengatakan dirinya sudah tidak memiliki wewenang di Kazakhstan, negara terkaya di kawasan Asia Tengah.

“Saya sudah menyerahkan kekuasaan (presidensial) kepada Presiden Kassym-Jomart Tokayev pada 2019 dan sejak itu saya pensiun, dan sekarang tinggal sebagai pensiunan di ibu kota Kazakhstan dan selama in belum pergi ke mana-mana,” katanya.

Ia mengeluarkan pernyataan itu untuk membantah desas-desus bahwa ia berada di luar negeri.

“Presiden Kassym-Jomart Tokayev punya wewenang penuh,” katanya.

Menghilangnya Nazarbayev secara tiba-tiba selama rentetan aksi protes serta penahanan mantan kepala badan keamanan negara Karim Masimov –atas tuduhan makar, telah memunculkan spekulasi bahwa hubungan sang mantan presiden dengan Presiden Tokayev retak.

“Tidak ada konflik ataupun konfrontasi di kalangan elite,” kata Nazarbayev.

“Rumor tentang ini sama sekali tidak berdasar,” ujarnya.

Ketika pasukan keamanan telah kembali mengendalikan situasi di negara yang berpenduduk 19 juta jiwa tersebut, Presiden Tokayev mengatakan ia menginginkan orang-orang yang dulu mengumpulkan kekayaan pada era kekuasaan Nazarbayev untuk menyumbangkan dana bagi masyarakat.

Sejak 15 Januari, ketiga putra menantu Nazarbayev sudah mengundurkan diri dari jabatan tinggi di perusahaan-perusahaan milik negara dan sebuah kelompok pelobi bisnis.

Sementara itu, Tokayev telah memecat keponakan Nazarbayev dari jabatan orang kedua di Komite Keamanan Nasional. (Reuters)

(Antara)

(As'ad Syamsul Abidin)