Surabaya, Aktual.com – Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin meninjau langsung progres pembangunan Manyar Smelter Project milik PT Freeport Indonesia (PTFI) di kawasan Java Integrated and Industrial Port Estate (JIIPE) Gresik, Jawa Timur, Selasa (7/2).

Dalam peninjauan itu, Wapres Ma’ruf Amin didampingi Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, Presiden Direktur PTFI, Tony Wenas, dan Direktur Utama PT Berkah Kawasan Manyar Sejahtera (BKMS), Bambang Setyono.

Wapres Ma’ruf mengapresiasi progres pembangunan smelter di Gresik yang telah mencapai 54 persen, dan menjadi Smelter Design Singel Line terbesar di dunia dengan kapasitas pengolahan konsentrat 1.700.000 dmt per tahun.

Wapres Ma’ruf juga menanyakan sejumlah kendala dalam proses pembangunan kawasan smelter di Gresik kepada Direktur Utama PT BKMS, Bambang Setyono.

Pada kesempatan itu, Direktur Utama PT BKMS Bambang Setyono mengakui kendala itu kini telah dalam proses penyelesaian, yakni jalan atau akses utama masuk kawasan JIIPE serta pembangunan Tol Kawasan Bunder.

Sebelumnya Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia Airlangga Hartarto mengatakan, optimistis konstruksi smelter Manyar akan selesai tepat waktu pada Desember 2023.

“Saya sangat mengapresiasi kerja keras PTFI dalam mengejar target konstruksi smelter Manyar yang kini telah mencapai 51,7 persen sesuai kurva-S yang disetujui pemerintah,” kata Airlangga dalam kunjungan kerja ke Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) JIIPE, Manyar, beberapa hari lalu.

Menurut dia, progres tersebut merupakan capaian luar biasa yang dapat menjadi contoh bagi perusahaan lain, terlebih mengingat proyek smelter Manyar memiliki komposisi tenaga kerja Indonesia hingga 98 persen.

Pembangunan smelter Manyar hingga akhir Desember 2022 telah mengeluarkan biaya investasi sebesar 1,63 miliar dolar Amerika Serikat atau setara Rp25 triliun dari nilai total investasi sebesar tiga miliar dolar Amerika atau setara dengan Rp45 triliun.

Smelter Manyar dengan desain single-line terbesar di dunia akan mampu mengolah konsentrat tembaga dengan kapasitas produksi 1,7 juta dry metric ton (dmt) dan menghasilkan katoda tembaga hingga 600.000 ton per tahun.

(Warto'i)