(ilustrasi/aktual.com)

Jakarta, Aktual.com – Mega proyek satu sabuk satu jalan (Belt Road Initiative/ BRI) dari Republik Rakyat China menimbulkan sikap kehati-hatian dari kalangan cendekiawan Republik Indonesia (RI).

Belt and road iniative itu perlu diteliti dampaknya terhadap kepentingan nasional,” ujar Wakil Ketua Bidang UMKM, Koperasi dan Industri Kreatif Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Sandiaga Uno, di Jakarta, Rabu.

Sandiaga mengatakan banyak sekali investasi-investasi yang kadang menyajikan begitu banyak dampak positif tetapi karena tidak dihitung dengan baik akhirnya menimbulkan masalah terkait dengan penciptaan lapangan kerja, dampak terhadap lingkungan, maupun dampak ekonomi secara menyeluruh.

Meskipun investasi dibutuhkan untuk membuka lapangan kerja, menurut dia, proyek BRI itu harus bisa dipastikan oleh Pemerintah RI berguna untuk kepentingan nasional.

“Pemerintah harus tegaskan yaitu lapangan kerja yang baik, berkualitas untuk kepentingan bangsa dan negara Indonesia. Jangan sampai mereka investasi di sini tetapi tidak membuka lapangan kerja, melainkan kesempatan itu dibuka kepada tenaga kerja negara asal,” ujar Sandiaga.

Sementara itu, ketua Centre for Dialogue and Cooperation among Civilisations (CCDC), Din Syamsuddin, mengatakan proyek BRI itu suka tidak suka, setuju tidak setuju sudah mulai diterapkan di dunia.

“Ada yang menyebutnya obsesi, ada yang menyebutnya mimpi pemerintah Republik Rakyat Cina,” ujar Din usai diskusi Mega Proyek One Belt One Road (OBOR) di Jakarta, Rabu.

Mantan Ketua Pimpinan Pusat Organisasi Massa Muhammadiyah itu merasakan mega proyek tersebut tidak terlepas dari keinginan memimpikan kebangkitan budaya Tiongkok (renaissance of Tionghoa Culture).

“Pada tingkat ini sebenarnya positif, karena dijelaskan ‘Tiong’ mengandung arti jalan tengah dan ‘Hoa’ berhubungan dengan kesejahteraan,” ujar Din.

Walaupun begitu, ujar Din, pada pelaksanaannya bisa saja terjadi praktik-praktik bernada negatif seperti ketika BRI itu tampil sebagai sebuah arus besar untuk mengukuhkan hegemoni dari China itu sendiri.

“Satu kebangkitan dari negara raksasa dengan ambisi yang besar tadi maka wajar sekali kalau menimbulkan harap cemas,” ujar Din.

Ditemui di tempat yang sama, akademisi, Rocky Gerung, mengatakan bahwa bangsa Indonesia tengah mengalami kegagapan dalam bertanding dalam persaingan Internasional karena tidak pernah mengalami revolusi yang luar biasa.

“Kalau saya tanya apa sosial imajinasi kita selama pemerintahan Pak Jokowi? Enggak ada. Konsep bahwa Indonesia menuju apa juga tidak ada. Yang ada hanya infrastruktur-infrastruktur. Infrastruktur hanya kerjaan teknis, semua orang bisa melakukan,” ujar Rocky di Jakarta, Rabu.

Menurut Rocky, seharusnya di dalam pembangunan infrastruktur harus terkonsep buat apa pembangunan itu dilakukan.

Yang terjadi saat ini, kata Rocky, justru manufaktur dari luar negeri yang tersampaikan ke daerah dengan adanya infrastruktur tadi.

“Kalau memang infrastruktur dibuat untuk kepentingan nasional, kepentingannya apa kepentingan nasional itu,” kata Rocky.

(Arbie Marwan)