Ilustrasi pelaku UMKM

Semarang, Aktual.com – Usaha Mikro Kecil Menengah atau UMKM di Jawa Tengah terus tumbuh positif sejalan dengan masa pemulihan ekonomi nasional pasca pandemi Covid-19.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Bank Pembangunan Daerah (BPD) atau Bank Jateng di bawah arahan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo pun membuktikan komitmennya terhadap UMKM lewat penguatan akses permodalan, dan kapasitas pelaku UMKM melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Pada tahun 2022, Pemprov Jateng diketahui menyalurkan KUR hingga Rp 55,27 triliun. Tak heran, daerah ini dinobatkan sebagai provinsi penyalur KUR untuk UMKM terbesar se-Indonesia.

Posisi Jateng dalam penyaluran KUR mengungguli Jawa Timur dan Jawa Barat, masing-masing dengan nilai penyaluran sebesar Rp 54,33 triliun dan Rp 42,15 triliun.

Berkat maksimalnya akses pembiayaan UMKM, optimisme masyarakat pun semakin menguat.

Berdasarkan data Pemprov Jateng, jumlah UMKM binaan terus mengalami kenaikan sejak tahun 2018 sebanyak 143.738; tahun 2019 sebanyak 161.458; tahun 2020 sebanyak 167.391; tahun 2021 sebanyak 173.431; dan tahun 2022 sebanyak 178.821.

Adapun UMKM berdasarkan sektor di triwulan 4 tahun 2022, yakni dari sektor produksi sebanyak 64.115; pertanian sebanyak 28.373; perdagangan sebanyak 65.391; dan jasa sebanyak 20.942.

Sedangkan jumlah tenaga kerja UMKM binaan yakni sudah mencapai 1.320.953 orang. Naik dari tahun 2018 sebanyak 1.043.320; tahun 2019 sebanyak 1.293.240; tahun 2020 sebanyak 1.298.007; tahun 2021 sebanyak 1.311.015; dan tahun 2022 sebanyak 1.320.953.

Kenaikan UMKM binaan juga diikuti dengan kenaikan omset dan asset. Untuk omset, tahun 2018 sebesar Rp55,69 triliun; tahun 2019 sebesar Rp67,55 triliun; tahun 2020 sebesar Rp67,08 triliun; tahun 2021 sebesar Rp68,24 triliun; dan 2022 sebabnyak Rp68,48 trliiun.

Pelaku UMKM, Yuni (55), tak pernah menyangka, kucuran kredit Bank Jateng telah memberinya berkah bagi keluarga. Berkat suntikan modal, warga Kota Semarang itu bisa melanjutkan bisnis UMKM-nya, berupa kerajinan tangan dan snack, yang digeluti sejak 2006 silam.

Yuni mengajukan pinjaman modal melalui program Kredit Mitra Jateng 25 sebesar Rp 25 juta, dengan suku suku bunga tiga persen. Sebenarnya dia berharap mendapatkan KUR, tapi saat itu kuotanya sudah penuh.

Pinjaman itu kemudian dimanfaatkan untuk modal usaha, di antaranya membeli bahan baku. Sebelumnya, dia mengaku usahanya kurang optimal, karena terbentur akses permodalan.

”Saat mengurus di Kantor Cabang Pembantu (KCP) Pasar Johar, semua proses sangat mudah dan nggak berbelit-belit. Yang bikin senang, pencairannya cepat, cuma dua hari,” kata Yuni, saat dihubungi yang dikutip, Jumat (13/1).

Dia bercerita, bisnisnya yang diberi nama ‘Yuni Kreasi, sempat limbung saat pandemi Covid-19. ”Dengan pinjaman itu, kami sangat terbantu. Selain angsurannya ringan sekitar Rp 660 ribu per bulan, bunganya juga rendah, hanya tiga persen. Berkat usaha ini, kami bisa menguliahkan anak sampai lulus dan beli motor,” tutur ibu satu anak ini.

Kemudahan mengajukan kredit di bank plat merah itu juga dirasakan Ahmad Fadlan. Nasabah asal Mranggen, Kabupaten Demak itu, pada 2022 mengajukan pinjaman melalui jalur KUR, dengan plafon Rp 400 juta beserta bunga ringan 0,2 persen.

Pinjaman itu kemudian dimanfaatkan untuk mengembangkan toko yang diberi nama ‘Nisa Hijab’, yang dikelola bersama sang istri.

Dia menambahkan, kini usaha toko busana islaminya yang beromzet sekitar Rp 40 juta per bulan, telah berkembang. Fadlan pun mengaku bersyukur mendapatkan KUR ini, dan tetap menaruh kepercayaan kepada Bank Jateng.

Selama dua periode kepemimpinan Gubernur Ganjar Pranowo, Jateng telah menjadi provinsi yang menjadi kiblat atau rujukan UMKM di level Nasional.

Menurut Ganjar, capaian itu merupakan hasil kinerja pemprov, beserta seluruh jajaran pemkab dan pemkot se-Jateng, dalam mengembangkan sektor UMKM.

Saat meluncurkan Kredit Lapak Bank Jateng dan Kredit Mitra Jateng 25 di Solo, pada September 2022 lalu, Ganjar Pranowo menegaskan, pemberian kredit murah ini sebagai bentuk kehadiran Bank Jateng untuk masyarakat kecil.

”Ini upaya kita menggerakkan ekonomi, agar menggelinding lebih kencang. Mumpung pandemi sudah membaik, mereka kita bantu bisa jualan lagi. Kalau pasarnya ramai, dagangan laku, maka Insya Allah membikin mereka semangat,” tandasnya.

Sementara itu, Direktur Utama Bank Jateng, Supriyatno, mengatakan, pihaknya mendukung segala ikhtiar untuk mendorong perekonomian daerah dan UMKM. Supriyatno membeberkan, pihaknya punya empat program yang menjadi ekosistem dalam pengelolaan UMKM, yaitu UKM Virtual Expo, Co Working Space dan Penyaluran Kredit.

”Ada 11 ribu UMKM yang kami latih dan dampingi, karena tantangan yang dihadapi mereka meliputi tiga hal, permodalan, pemasaran, dan manajemen,” katanya.

Berdasarkan data Dinas Koperasi UKM Jateng, pertumbuhan omzet KUKM di Jateng tahun 2022 sebesar 9,94 persen atau melebihi target sebesar 9,88 persen.

Kemudian, pertumbuhan tenaga kerja KUMKM di Jateng sebesar 21,19 persen atau lebih besar dari target sebesar 21,10 persen.

Jika dilihat dari indikator program, realisasinya juga mayoritas jauh melebih dari target yang direncanakan. Misalnya, jumlah koperasi sebesar 83,72 persen dengan target sebesar 66 persen.

Koperasi provinsi yang berkualitas realisasinya 35,59 persen dari target 18 persen.

Selanjutnya realisasi usaha mikro menuju kecil sebesar 31,45 persen dengan target 12,59 persen. Usaha Kecil Menuju Menengah sebesar 30,97 persen dengan target 23 persen.

Sementara SDM KUKM yang terampil sebesar 99,26 persen dengan target sebesar 82 persen.

Pelayanan kredit yang dilakukan Bank Jateng ini, ternyata telah memantik Universitas Diponegoro untuk meneliti dampak KUR.

Mengacu hasil riset universitas ternama itu pada 2022 itu, 80 persen dari responden yang ditelitinya, mengalami peningkatan dana, 79 persen responden menyatakan mengalami pertumbuhan keuntungan usaha setelah menerima dana KUR, dan 77 persen menyatakan peningkatan aset setelah digelontor KUR.

”Hasil kajian juga menunjukkan, atas penyaluran KUR meniupkan angin perubahan dalam pemulihan ekonomi di Jateng dan nasional,” imbuhnya.

Gebrakan yang dilakukan Ganjar melalui Bank Jateng memang cespleng, dalam melajukan usaha UMKM. Apalagi reputasi bank ini, sudah tak diragukan lagi. Pada 2021, Bank Jateng sukses menorehkan capaian laba bersih tertinggi Nasional.

Atas berbagai inovasi layanan, termasuk digitalisasi yang bermuara pada kenaikan efisiensi dan profitabilitas, membawa Bank Jateng meraih prestasi pada penghargaan ‘The Most Profitable Regional Bank 2021’, di ajang CNBC Indonesia Award. Prestasi lainnya adalah Rising Star BPD pada Indonesia FX Award 2022.

Mengacu data Dinas Koperasi dan UKM Jateng, sejak tahun 2013 tercatat ada 90.339 UMKM binaan Pemprov Jateng, dan terus berkembang jumlahnya mencapai 177.256 UMKM binaan di tahun 2022.

Kepala Dinas Koperasi UKM Jateng, Ema Rachmawati mengatakan, dari tahun ke tahun pemprov terus membina UMKM. Mulai dari pelatihan, edukasi perizinan hingga pemasaran.

Dikatakannya, pelatihan dan pembinaan terus dilakukan dengan menggandeng sejumlah marketplace besar. Beberapa program yang digagas Ganjar pun, membantu perkembangan UMKM di Jateng.

Di antaranya Lapak Ganjar, Hetero Space, maupun inovasi kredit kerakyatan. Bahkan Hetero Space kini menjadi rumah nyaman bagi pelaku UMKM serta start-up, dan memungkinkan keduanya berkolaborasi dalam mengembangkan bisnisnya.

(Wisnu)