Jakarta, aktual.com – Nabi Muhammad saw diberjalankan dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsa, dinaikan dari Masjid al-Aqsa ke Sidratul Muntaha, turun dari Sidratul Muntaha ke Masjid al-Aqsha dan kembali lagi ke Masjid al-Haram.

Jalaluddin Rumi pernah mengatakan “jika anda ingin sampai ke langit tidak usah menggunakan tangga, tidak usah memakai apollo, cukup dengan kepala, tundukan kepala, letakan kepala dibawah kaki nanti akan bisa naik ke langit”.

Letakan kepala kita di bawah kaki kita [jangan adigung], sebagaimana di katakan oleh para Masyaikh Sufi, seperti Imam al-Ghazali, Imam al-Qusyairi, Imam ibu Atha illah “kalau kepala kita sudah di diletakan di bawah kaki berarti kita sudah merasa rendah”, cirinya kita mau sujud, tapi sujudnya asli merendahkan diri kepada Allah swt”.

Oleh-oleh Isra Miraj adalah sujud kepada Allah, untuk naik kepada Allah adalah shalat, aslikan shalatnya, sujudnya yang betul, sujud dengan penuh kerendahan hati, hilangkan penyakit-penyakit batin di dalam hati, baca Minhaj al-Abidin dan Ihya Ulumuddin.

ketika kepala diletakan di bawah kaki, rasakan diri kita dan tanah itu sama, seolah-olah masuk kedalam kuburan, nanti kita bisa terbang, kalau Syaikh Mansuruddin terbang dari Mekah ke Banten dan Syaikh Khalil Bangkalan dari Mekah ke Madura.

Inti dari Isra Miraj adalah menaikan diri kepada Allah swt, kalau kanjeng Nabi langsung naik kepada Allah swt, sedangkan kita bisa naik derajatnya.

Misal kita bodoh wudhu, bodoh shalat, mirajkan [naiakan] dengan mengaji, orang yang sedang ngaji berarti sedang miraj [menaikan derajat], yang awalnya gak terlalu bisa mambaca kitab, mirajkan [naiakan] dengan datang ke pondok pesantren, ngaji nahu, balagah dan lain sebagainya, miraj kita seperti itu, jika hal ini kita peraktekan maka derajat kita semakin hari akan semakin naik.

Amanatnya sedikit, mirajkan diri kita, kita ubah dari bodah menjadi pinter, dari tidak tahu menjadi tahu, karena menurut Imam jalaludin Rumi Isra adalah berkelana dan Miraj adalah merubah diri.

Sumber: kutipan ceramah Abuya Uci Turtusi dalam peringatan Isra Miraj, cilongok tangerang, 21 maret 2020

(Eko Priyanto)