Gede Suardika Widi Adnyana mengaku terpaksa berutang dan membayar sebesar Rp 70 juta supaya dapat bekerja di Inggris (BBC News)

Aznil Tan | Direktur Eksekutif Migrant Watch

Banyak yang belum tahu sejarah, kenapa Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang sekarang dikenal sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) disebut Pahlawan Devisa? Kenapa TKI/PMI ini tidak disebut ‘penghasil devisa’ saja, bukan dengan menyematkan kata ‘pahlawan’. Apakah menyebut PMI/TKI sebagai Pahlawan Devisa hanya merupakan ungkapan lebay atau berlebihan saja?

Tidak ! Sebelum membahasnya, mari kita bahas dulu, apa itu devisa?

Devisa adalah mata uang negara lain yang masuk ke Indonesia. Ini terjadi akibat transaksi perdagangan antarnegara. Sebagai alat pembayaran antarnegara, disepakatilah mata uang yang digunakan dan diterima oleh dunia internasional.

Di negara Indonesia, mata uang negara lain yang diakui sebagai alat transaksi adalah Dolar Amerika, Ringgit Malaysia, Euro (negara Eropa), Riyal (Arab), Yen (Jepang) dan lainnya.

Transaksi perdagangan internasional ini tidak bisa dihindari, karena suatu negara dengan negara lain saling ketergantungan. Terutama untuk memenuhi kebutuhan pangan, energi, konstruksi, transportasi, hiburan, kesehatan, dan ketenagakerjaaan. Semakin besar suatu negara mendapatkan devisa, semakin kuat ekonomi negara tersebut.

Negara yang minus devisa, mudah terdampak krisis moneter. Harga-harga akan melambung naik. Hal tersebut pernah terjadi di Indonesia pada tahun 1997, yaitu krisis moneter.

Negara Indonesia memiliki ketergantungan produk luar dan diperparah oleh cadangan devisa dalam negeri yang minus. Alhasil kondisi ekonomi Indonesia pun rentan ambruk.  Hutang Indonesia ke negara luar akan jatuh tempo pembayarannya, tetapi Indonesia tidak memiliki cadangan devisa yang cukup untuk membayarnya.

Hukum transaksi perdagangan global yang berlaku adalah pinjam dollar dan bayar dengan dollar. Karena itu hutang Indonesia pun mesti dibayar dollar.

Untuk itu, Indonesia mesti membeli dollar untuk membayar hutang pokok berkisar 138 miliar dollar AS plus bunga. Sementara cadangan devisa yang hanya senilai 14,44 miliar dolar AS yang dimiliki Indonesia jauh dari cukup untuk membayar hutang.  Apalagi beserta bunganya.

Karena tingginya permintaan pasar, harga dollar AS pun langsung melambung tinggi. Biasanya, nilai tukar 1 dollar AS berkisar Rp 2.300-an, tiba-tiba naik tajam mencapai Rp 16.500-an. Akibat kenaikan kurs dollar ini mengakibatkan pembengkakan hutang Indonesia berlipat-lipat ganda.

Ekonomi Indonesia lumpuh dan gejolak sosial terjadi dimana-mana. Negara Indonesia diambang kehancuran dan terpecah-pecah.

Di saat kondisi Indonesia krisis tersebut, datanglah TKI (Tenaga Kerja Indonesia) yang diperkirakan berkisar 6 juta orang menyebar berbagai negara ikut menyelamatkan ekonomi Indonesia. Para TKI berbondong-bondong mengirim uang hasil keringatnya ke negara asalnya, Indonesia. Gerakan TKI ini diperkirakan berkontribusi atas masuknya nilai uang sekitar 2 miliar dolar AS per bulan yang masuk ke Indonesia dari TKI/PMI yang bekerja di luar negeri.

Di sinilah sejarah TKI atau PMI disematkan sebagai PAHLAWAN DEVISA. Meski tidak tercatat dalam sejarah, namun atas aksi gerakan tersebut, TKI telah berjasa menyelamatkan Indonesia dari krisis moneter dan perpecahan.

(Megel Jekson)