Ilustrasi: Dua orang muslim sedang melakukan sholat

Jakarta, Aktual.com – Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam at Tirmidzi dari Abu Khurairoh dan juga diriwayatkan oleh an Nasaa’i dikatakan bahwa hal pertama yang akan dihisab nanti pada hari kiamat adalah ibadah sholat. Hadist ini menurut Kiyai Marwadzi murid Syeihk Muhammad Yasin bin Muhammad Isa al Fadani dalam kajian hadist Tirmdzi tiap ahad di Zawiyah ar Raudhioh Tebet Jakarta selatan adalah termasuk hadis shohih, begitu juga al hafidz at Thohir mengatakan hal demikian.

Dari Abu Khurairoh RA berkata, Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seseorang hamba pada hari kiamat adalah sholatnya. Maka, jika sholatnya baik sungguh dia telah beruntung dan berhasil, dan jika sholatnya rusak, sungguh ia telah gagal dan rugi. Jika berkurang sedikit dari sholat wajibnya, maka Allah Ta’ala berfirman “Lihatlah apakah hambaku memiliki sholat sunnah (tatowwu’), maka disempurnakanlah dari apa yang kurang dari sholat wajibnya, kemudian demikian pula dengan seluruh amalnya.” (HR Tirmidzi dan an Nasaai)

Berkenaan dengan ibadah sholat ini, Banyak juga orang yang bertanya mengenai “bagaimanakah caranya agar bisa melakukan sholat dengan khusuk?” Bahkan tidak jarang juga diadakan Pelatihan pelatihan dan seminar mengenai tata cara untuk mendapatkan sholat khusuk tersebut. Kenapa hal demikian diperlukan. Karena memang selain merupakan kewajiban dan rukun Islam dan termasuk juga karena alasan hadist diatas tadi, karena di dalam sholat ini juga kita dijanjikan untuk mendapatkan kebahagiaan yang haqiqi serta mejadi sarana komunikasi dengan Allah swt dengan langsung (mi’raj).

Untuk mendapatkan shalat yang khusuk ini tidak bisa serta merta (instant) dan langsung dengan seketika, misalnya setelah melakukan pelatihan sholat khusuk atau dengan cara memahami kata perkata ayat ayat yang dibaca maka yang bersangkutan akan bisa shalat dengan khusuk tadi. Sebenarnya sholat yang khusuk itu adalah pemberian dari Allah SWT kepada hambanya setelah melalaui proses yang panjang. Namun salah satu syarat yang penting di perhatikan oleh orang yang ingin mendapatkan sholat khusuk ini yaitu agar selalu berhati hati dan selalu menjaga kebersihan dirinya. Oleh karena itulah dalam beberapa kitab fiqih Islam bab thoharoh ( bersuci) adalah bab yang pertama yang di bahas sebelum masuk ke bab Sholat tadi. Bersih disini tidak tidak hanya bersifat bersih fisik (jasmani) saja tapi juga bersih jiwa dan bathin dari yang bersangkutan, karena “Allah menyukai orang yang kembali kejalan-Nya (taubat) dan menyukai orang orang yang selalu membersihkan dirinya. (Qs 2 : 222).

Jadi bisa difahami bahwasanya seseorang tidak akan mencapai rasa khusuk dalam sholatnya jika dia belum menyempurnakan hal yang wajib sebelum dimulainya sholat yaitu hal thoharoh (bersuci) tadi. Termasuk juga suci dalam hal rezeki yang dimakannya sebagaimana Allah SWT mengatakan dalam firmannya : “Hendaklah manusia itu memperhatikan apa yang dimakannya.”  (QS Abasa : 24). Jadi tidaklah mengherankan jika kita membaca kisah seorang waliyullah (Imam As-Syadzili) yang gagal khusuk dalam sholatnya dari sholat sholat sebelumnya, setelah ia periksa ternyata gara gara hewan ternak gembalaannya memakan rumput dari rumput yang bukan miliknya tapi dari rumput petani lainnya. dan setelah ia meminta maaf dan minta ridha kepadanya baru ia bisa menemukan kembali rasa khusuk dalam beribadah tadi. Inilah yang dinamakan dengan wara’ yaitu kehati hatian dari rezeki yang bersifat subhat (masih abu-abu alias belum jelas hal dan haramnya).

Banyak orang mengaggap remeh masalah bersuci ini padahal baginda Nabi sudah menyatakan bahwasanya “annadzoofatu minal iman” (kebersihan itu merupakan sebagian dari iman). Dan juga Allah SWT telah mengatakan bahwa “innallah yuhibbutawwabuna wayuhiibbu mutatohhirin”. Allah menyukai orang yang betaubat dan juga selalu mensucikan dirinya.

Jadi perhatikan kebersihan diri kita baik jasmini dan rahani insya Allah syarat awal untuk masuk ke sholat yang khsusu‘ bisa dirasakan.

Wallahu A’lam

(Ahmad Himawan)

(A. Hilmi)