Jakarta, Aktual.com – Wacana Bela Negara yang dicanangkan pemerintah agar lebih fokus pada kegiatan di luar kemiliteran. Misal bersaing pada ilmu pengetahuan. Pendapat itu disampaikan Wakil Ketua DPD RI Komjen (Purn) Prof. Farouk Muhammad.

“Seharusnya pemerintah lebih fokus pada konsep ancaman multifungsional tidak hanya ancaman militer namun ancaman di luar militer,” kata Farouk, saat diskusi di Jakarta, Jakarta, Minggu (1/11).

Sambung dia, membangun semangat negara tidak hanya membangun semangat nasionalisme saja, melainkan ada beberapa tahapan.

“Pertama, ada nasionalisme bela negara sifatnya merebut dan mempertahankan wilayah yang bersifat militer,” ucap dia.

Kemudian, gelombang kedua nasionalisme mengisi kemerdekaan yakni dengan mengawal ancaman militer dari pihak luar.

“Gelombang ketiga, yakni Indonesia baru atau pembangkitan indonesia, tahapan terakhir ini adalah kemampuan non fisik bersifat keahlian yang kita kembangkan sekarang,” ujar dia.

Ditekankan dia kembali, kalau mau Bela Negara yang harus dibangun adalah semangat penyelenggara bela negara. “Dan harus transparan sesuai dengan prinsip prinsip governance ‘clean governance’,” ujar dia.

Senada dengan Farouk, di kesempatan yang sama Kepala Lembaga Demografi UI, Dr. Sonny Harry B. Harmadi, mengatakan program bela negara harus jelas bukan hanya soal militer semata.

“Konsepnya harus jelas, jangan hanya militer dan militer. Sehingga orang terbanyang bela negara itu buat perang saja, perang sekarang lebih moderen bukan konvesional lagi,” ucap dia.

()