Mendapat kiriman buku dari Jeffrey Wonsono, tiga buku karya Ray Dalio, seorang investor ternama dengan sebutan “Steve Jobs-nya bidang investasi”. Buku pertama berjudul “Principles’; kedua, “Principle for Dealing with the Changing World Order’; ketiga, “Principle for Success”.

Yang segera menarik perhatian saya adalah buku kedua. Bahwa di dalam kehidupan yang ditandai dengan beragam disrupsi dan perubahan cepat, bagaimana kita bisa mengantisipasi masa depan.

Menurutnya, kebanyakan kita berlaku seperti semut yang menyibukkan diri dengan serpihan-serpihan kecil dan kejadian sesaat dalam rentang masa yang pendek ketimbang memiliki perspektif lebih luas menyangkut pola-pola gambaran dan siklus besar, serta keterkaitain antar berbagai faktor dan fenomena.

Kemampuan seseorang (sekelompok orang) untuk mengantisipasi dan merespons masa depan tergantung pada pemahamannya terhadap hubungan sebab/akibat yang menimbulkan perubahan, serta kemampuannya untuk memahami hubungan sebab/akibat tersebut dari wawasan yang bisa dipelajari dari pola-pola perubahan yang terjadi di masa lalu.

Untuk bisa melihat gambaran besar, kita tak bisa memusatkan perhatian pada detail. Siklus besar melahirkan perubahan pendulum antara masa kemakmuran-kedamaian-kreativitas tinggi di satu sisi dengan masa depresi-kekacauan-revolusi di sisi lain. Dengan rasio perbandingan antara masa kemakmuran dan kemunduran pada umumnya sekitar 5: 1.

Masa makmur memang lebih menyenangkan, namun sesungguhnya merupakan tolakan ke arah tingkat evolusi lebih tinggi. Sebaliknya, masa depresi dirundung banyak kekacauan, namun ibarat badai pembersih untuk menghapus segala kelemahan dan melahirkan permulaan baru dengan cara kembali ke akar fundamental (kendati menyakitkan).

Lewat pengkajian terhadap kenaikan dan kejatuhan sejumlah kekaisaran dan dinasti besar di masa lalu bisa ditarik gambaran besar. Siklus daya sintasnya sekitar 250 tahun. Tidak ada sistem pemerintahan, sistem ekonomi, sistem mata uang, dan sistem kekaisaran yang bisa terus bertahan. Untuk bisa terus berselancar mengarungi setiap gelombang perubahan ke depan, kita harus bisa memahami pola-pola perubahan gelombang di masa lalu.

Yudi Latif 

(Antara)

(As'ad Syamsul Abidin)