Jakarta, Aktual.com – Kata riya’ (ingin pamer) di dalam Al-Quran terdapat surat Al-Maaun (106 : 1-7) dan dijelaskan disitu bahwa riya’ ini adalah hal yang membahayakan bagi jiwa seorang muslim, yang masuk kedalam katagori penyakit hati. Jika terdapat dalam dirinya, maka dia akan dicap sebagai orang yang mendustakan agama. Di dalam kitab AL-Anwaaru Qudsuiah karangan sidi Seikh Abdullah bin Muhammad bin Siddiq al Ghumari menjelaskan juga berbagai tingkatan mengenai riya’ ini, dan salah satu hal yang paling penting disebut dalam kitab tersebut, menghindari sebuah perbuatan agar tidak kelihatan riya’ malah itu adalah riya’ yang sesungguhnya dan disebut sebagai syirik yang tersembunyi.

Kata riya’ berasal dari bahasa Arab yang sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi riya dan memiliki arti – sebagaimana tertuang di dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia – sombong atau congkak. Amin Al-Kurdi memaknai kata riya’ yakni berharap adanya kedudukan dirinya di hati umat manusia karena pamer atas perbuatan baiknya kepada orang-orang tersebut.

Berbeda denga riya’ tadi, ujub itu datang dengan diam-diam tanpa kita sadari. Kadangkala Riya’ dapat dihindari, tapi Ujub masih ada. Misalnya, Kita sholat tahajjud/dzikir secara diam dalam hati tidak ada yang tahu dan tidak kita ceritakan pada orang lain, dengan harapan agar tidak riya’. Maka saat kita tidak menceritakan amalan kita, kita berhasil menghindari riya’. Semata-mata kita beribadah karena Allah, bukan karena ingin dipuji orang lain. Namun Jangan cepat berpuas diri dulu, karena syaitan terus berusaha menggelincirkan diri kita.

Tiba-tiba dalam hati berkata-kata, karena muncul rasa bangga terhadap diri sendiri. “Hebat aku ini, bisa bangun setiap malam tak pernah ketinggalan sholat tahajjud, sementara orang lain tertidur pulas.” Saat hati berkata begitu, itulah yang dinamakan Ujub. Walaupun berhasil untuk tidak riya’, tetapi masih belum berhasil untuk tidak Ujub.

Apa itu Ujub ?

Ujub adalah perasaan kagum atas diri sendiri. Merasa diri hebat, berbangga diri, terpesona dengan kehebatan diri. Ujub juga adalah penyakit hati yang paling tersembunyi. Perasaan Ujub bisa datang dalam berbagai bentuk, diantaranya :

“Orang yang rajin ibadah merasa kagum dengan ibadahnya”.

“Orang yang berilmu, kagum dengan ilmunya”.

“Orang yang cantik, kagum dengan kecantikannya”.

“Orang yang mengelola majlis Taklim kagum dengan banyaknya jamaah & mampu menghadirkan ustadz ustadz yang menjadi pematerinya”

“Orang yang dermawan, kagum dengan kebaikannya”.

“Orang yang berdakwah, kagum dengan dakwahnya”.

Sufyan At-Tsauri mengatakan, Ujub adalah perasaaan kagum pada diri sendiri, sehingga merasa bahwa diri kita lebih mulia dan lebih tinggi derajatnya dibanding orang lain”.

Padahal semua kelebihan yang kita dapatkan adalah kelebihan yang kita dapatkan dari Allah.

Karena itu selayaknya kekaguman hanyalah kepada Allah, bukan kepada diri sendiri. Dan ingatlah syaitan akan selalu menggiring manusia untuk masuk ke dalam fikiran berbangga kepada diri sendiri, agar amalan manusia tidak mendapat nilai.

Imam Nawawi Rahimahulloh berkata :

“Ketahuilah bahwa keikhlasan niat terkadang dihalangi oleh penyakit ujub. Barangsiapa ujub dengan amalnya sendiri, maka akan terhapus amalnya.” (Syarh Arba’in).

Naa’udzu billaahi min dzalik. Jauhi sifat Ujub, jadikan amalan kita murni dan ikhklas karena pengabdian kepada Allah. (karena Lillah Taala)

BAGAIMANA CARA MENGURANGI SIFAT UJUB

1. Setiap kali terbetik di hati tentang kehebatan diri, segera istighfar memohon ampun kepada Allah.

2. Mengganggap semua kelebihan adalah milik Allah.

3. Berdoa mohon bantuan Allah agar hati kita bisa beribadah dengan ikhlas.

قُلْ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

Katakanlah hai (Muhammad), sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (Qur’an surat Al An’am – 162)

Semoga Allah membantu kita mengikis penyakit ujub dan semua penyakit yang ada di hati. Aamin.

(Ahmad Himawan)

(A. Hilmi)