Gejala Super Flu dan Cara mengantisipasinya. Ilustrasi: chatgpt

Jakarta, Aktual.com – Kasus Super Flu merebak di sejumlah daerah sejak Agustus 2025. Berjalan hampir 6 bulan, penyakit ini masih mengancam masyarakat Indonesia tidak hanya lanjut usia (lansia) namun juga anak-anak dan remaja.

Bahkan, beberapa pasien dilaporkan meninggal akibat infeksi Influenza A H3N2 subclade K ini. Terbaru, seorang pasien Super Flu meninggal di RSUP Hasan Sadikin Bandung (RSHS), Jawa Barat.

Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dr. Farindira Vesti Rahmasari, M.Sc., Ph.D., menjelaskan, istilah Super Flu merujuk pada varian baru virus influenza yang pertama kali teridentifikasi di Amerika Serikat.

Varian ini dilaporkan oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) pada Agustus 2025 dan sejak itu menyebar ke berbagai negara.

“Super flu ini sebenarnya merupakan varian lain dari virus influenza yang sudah lama kita kenal. Virus ini termasuk influenza tipe A dengan subtipe H3N2, tetapi yang membedakan adalah munculnya subklade baru, yakni K, yang sebelumnya belum banyak ditemukan,” ujar dr. Farindira.

Menurut hasil pemeriksaan Whole Genome Sequencing (WGS), kasus Influenza A subclade K telah terdeteksi di Indonesia sejak Agustus 2025. Per Desember 2025, sebanyak 62 kasus ditemukan di sejumlah daerah.

Jawa Timur sebagai provinsi dengan kasus terbanyak (23 kasus), disusul Kalimantan Selatan (18 kasus) dan Jawa Barat (10 kasus). Kasus ini juga ditemukan di Bali, Yogyakarta, dan Kepulauan Riau.

Gejala Super Flu

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dr. Agus Widyatmoko mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai gejala Super Flu yang umumnya muncul mendadak.

Beberapa gejala yang sering dialami seperti flu biasanya, antara lain demam tinggi, nyeri kepala, nyeri otot yang intens, serta kelelahan ekstrem.

“Gejalanya hampir sama, tetapi cenderung lebih berat. Demam bisa tinggi, nyeri otot lebih terasa, tubuh sangat lemas, dan masa pemulihan bisa berlangsung lebih dari dua minggu. Risiko komplikasinya juga lebih besar,” kata dr. Farindira.

Kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, ibu hamil, serta individu dengan penyakit penyerta seperti diabetes, penyakit jantung, ginjal, dan gangguan paru-paru memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi berat akibat infeksi ini.

Antisipasi dan Penanganannya

Dalam menghadapi situasi ini, upaya pencegahan tetap menjadi kunci utama. Vaksinasi influenza musiman dinilai masih efektif dalam menurunkan risiko sakit berat, meskipun terdapat sedikit penurunan perlindungan akibat mutasi virus.

Selain vaksinasi, penerapan perilaku hidup bersih dan sehat, etika batuk dan bersin, penggunaan masker saat sakit, serta kebiasaan mencuci tangan secara rutin merupakan langkah sederhana namun sangat krusial dalam mencegah penularan.

“Mitigasi bukan hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan, tetapi juga tanggung jawab bersama. Jika sedang sakit, gunakan masker dan kurangi kontak dengan orang lain. Langkah kecil ini memiliki dampak besar dalam menekan penyebaran penyakit,” jelas dr. Agus.

Sedangkan, Dosen Mikrobiologi FK-KMK UGM, Tri Wibawa mengatakan pencegahan dari penularan varian virus ini dengan cara menerapkan etika batuk yang baik, menggunakan masker bagi untuk orang yang sedang mengalami gejala flu, mencuci tangan secara periodik, beristirahat cukup, serta memastikan ruangan memiliki ventilasi yang cukup. Menurutnya vaksinasi tetap dilakukan untuk kelompok rentan.

“Vaksinasi tetap dianjurkan untuk kelompok rentan, seperti anak-anak, orang lansia, ibu hamil, dan orang dengan penyakit kronis,” paparnya.

Adapun menurut dr. Farindira, sebagai langkah pencegahan menekankan pentingnya vaksinasi influenza untuk menurunkan risiko sakit berat dan komplikasi. Selain itu, penerapan perilaku hidup bersih dan sehat tetap menjadi kunci utama.

“Gunakan masker saat sakit, terapkan etika batuk dan bersin, rajin mencuci tangan, istirahat yang cukup, serta jaga daya tahan tubuh. Kebiasaan ini penting untuk mencegah penularan dan melindungi kelompok rentan,” ujarnya.

Bagi yang sudah mengalami gejala, disarankan untuk secepatnya memeriksakan ke pusat layanan kesehatan, seperti klinik, puskesmas. Pemeriksaan pun disarankan untuk melakukan pengecakan darah agar diketahui apakah flu biasa atau Super Flu.

Artikel ini ditulis oleh:

Eroby Jawi Fahmi