Jakarta, Aktual.com – Ini bermula dari gerakan kesukuan. Tentang bersatunya kaum Yahudi. Modernitas telah memberikan mereka peluang. Masa Romawi, klan Yahudi luluh lantak. Masa kedigdayaan Gereja Roma di Eropa, kaum Yahudi juga masih terasing.

 

Mereka belum memiliki kekuasaan dan wilayah. Dan ketika Islam hadir, Yahudi juga berada dalam ‘anak bawang’. Klan yang seolah terpinggirkan. Perang Salib, perebutan antara muslimin dan Nasrani soal Yerusalem, klan Yahudi seolah tak ikut dalam pertarungan. Karena klan itu tengah porak poranda.

Berabad-abad, klan dan agama itu, seolah tak lagi menemukan masa kejayaan. Tapi Yahudi kerap memegang mitos kejayaan. Tentang era Nabi Daud Allaihisalam dan Sulaiman Allaihisalam. Karena kaum Yahudi selalu memegang ‘mitos’, suatu saat pasti akan kembali kejayaan untuk mereka.

Dan sejarah telah berkata, sesiapa yang menguasai Yerusalem, dialah penguasa dunia. Simaklah dari era Romawi klasik hingga masa Romawi Nasrani. Yahudi tak pernah memegang kendali atas kota itu. Islam hadir, kendali kemudian beralih. Islam memegang kendali. Sejak era Sayidinna Umar Bin Khattab, sempat kemudian lepas di tangan Dinasti Fatimiyya yang Syiah. Lalu direbut kaum Nasrani dalam kerajaan Baldwin. Tapi kemudian hadir Sultan Salahuddin al Ayyubi dan kaum muslimin yang kuat. Setelah mereka kembali pada ajaran yang sahih. Amalan tassawuf, berkat pengajaran Imam Al Ghazali, Shaykh Abdalqadir al Jilani dan para suyukh lainnya, menghasilkan generasi Amal Ahlul Madinah, yang mewarisi kekuatan Dinul Islam. Disitulah Yerusalem kembali ke tangan muslimin. Hingga kemudian periode Daulah Utsmaniyya berjaya. Yerusalem dan seisinya masih dalam kekuasaan Islam. Yahudi masih tersingkirkan. Tapi mereka terlindungi dengan apik.

Masa Islam itulah masa ketenangan.
Tapi klan Yahudi yang terserak, mereka seolah tak memiliki rumah. Maka mitos “tanah yang dijanjikan” pun menggema. ini menjadi misi utama klan Yahudi. Menciptakan sebuah rumah bagi klan itu. Abad pertengahan, mereka belum menemukan formula. Tapi era modernisme, sejak itulah peluang dan arah telah tertera.

Modernitas telah menjadi batu tunggangan apik kaum Yahudi. Misi “tanah yang dijanjikan” seolah bisa terwujud. Tapi musuh besar masa itu adalah muslimin, yang masih memegang kendali kekuasaan. Di bawah Daulah Utsmaniyya tentunya. Modernitas inilah yang harus dilihat. Ketika kaum Eropa memulainya dengan “rennaisance”. Ini yang disebut “pencerahan”.

Dua pandangan berbeda dalam melihat kata itu. Tassawuf memiliki makna utuh tentang “pencerahan”. Tentang tersingkapnya ilmu Laduni, berkat totalitas dalam penghambaan. Maka disitulah “pencerahan” akan tertoreh. Disitu pula manusia insan kamil akan merasakan bagaimana kembali ke Alamul Qubro, alamul Allastu. Tentang wilayah “perjanjian” antara manusia dan Allah Subhanahuwataala, sebelum ditiupkan ruh ke dunia. “Allastu bi Rabbikum?” (Bukan kah Aku Tuhanmu?). Ruh menjawab. Disitulah kala mampu menyingkap tabir alam materi (alamul mulki), maka manusia akan mengalami yang disebut “pencerahan”. Dan merasakan bagaimana Tajjali, pancaran. Itulah kekuatan untuk kehidupan selama di alam dunia.

Tapi filosof memiliki defenisi berbeda. “Pencerahan” ala rennaisance berarti manusia menyingkap segala sesuatu (being) berlandas rasionya semata. Dan kaum “rennaisance” mengutipnya dari fase mu’tazilah, kala filsafat menggema dalam Islam. Dari sanalah “pencerahan” menyeberang dari Andalusia menuju Italia. Melahirkan “pencerahan” kosmosentris, tentang alam semesta. Dan ternyata “rennaisance” itu menjadi senjata ampuh untuk melawan dogma Gereja Roma, yang kala itu menjadi sentral kekuasaan kaum Eropa barat. Copernicus, Galileo hingga Bruno menjadi bukti nyata.

Masa rennaisance, Yerusalem tentang masih dalam kekuasaan Islam. Proyek gagal “perang Salib”, sebuah gerakan merebut Yerusalem kembali, telah terhenti. Raja Inggris, King Richard berjuluk “the lion”, tetap tak mampu menaklukan kelembutan Sultan Salahuddin dan pasukan muslimin. Alhasil Eropa menemui kebuntuan. ‘Rennaisance’ dianggap sebagai pilihan jalan. Karena di sana juga terpatri tentang kekecewaan. Rasionalisme menjadi kata kunci untuk perlunya ‘pembaharuan’. Agama yang perlu diperbarui.

Rennaisance kemudian tak lagi sekedar menteorikan kosmosentrisme. Melainkan juga perlihal ‘kekuasaan.’ Siapa yang berhak menjadi Raja? Benarkah Raja itu wakil Tuhan? Dari mana datangnya kekuasaan. Machiavelli memulai. ‘Il Principe’, kitabnya beredar sembunyi-sembunyi. Tentang perlawanan atas dogma ‘Vox Rei Vox Dei’ (suara Raja suara Tuhan). Karena dulu, kekuasaan, perihal siapa yang berhak menjadi Raja, mutlak tafsir tinggal dari agamawan. Maka ‘kekuasaan’ pun harus dicerahkan. Diteorikan, dengan rasionalitas. Plato dan Aristoleles pun mewarnai. Tentang “idea” dan “konsepsi”. Semuanya haruslah diteorikan, buah dari penyelidikan akal manusia. Itulah yang disebut “pencerahan”. Kaum Yahudi mulai melirik ‘rennaisance’. Karena mereka merasakan ada peluang. Untuk sekaligus memukul dua entitas besar: Nasrani dan Muslim.

Dinamika di belantara Eropa menggeliat. Karena Eropa mengalami kisruh, bak dunia Islam kini. Perang antar kerajaan, antara Perancis dan Inggris, antara Jerman dan Perancis dan lainnya. Padahal mereka dalam satu area yang sama. Sementara Daulah Utsmaniyya makin perkasa. Makin menguatkan kekuasaan Islam, membentang dari Eropa timur hingga nusantara. Pertanda kuatnya pengaruh Islam –yang bukan mu’tazilah apalagi salafisme, melainkan dengan tassawuf—atas kehidupan dunia. ‘Pancaran’ dengan’tajjaliyyat’ membahana. Ma’rifatullah menjadi bahasan hingga pelosok Eropa. Hingga John Wolfgang Goethe, pujangga Jerman, pun terkesima. Dan dia menghembuskan nafas akhir di dunia sebagai muslim.

Masa Goethe itu pula Islam menjadi mercusuar dunia. Sultan Sulaiman al Qanuni, begitu menjadi idola. Sekaligus dibenci kaum Eropa. Karena kedigdayaan Islam, dengan pengajaran tassawuf yang menembus batas-batas alam. Itulah buah ‘pancaran’ bersifat Laduni. Bukan ‘pancaran’ produksi’ akal manusia.

Tapi rennaisance memiliki banyak pengikut. Filsafat makin dikagumi. Soal kekuasaan pun diteorikan ulang. Karena filsafat –inilah rennsaince—meletakkan ‘qudrah dan iradah’ berada pada manusia. Bukan pada Tuhan. Karena akal, dianggap sebagai jalan mengungkap Kebenaran. Maka, siapa yang berkuasa, juga harus dikonsepsi dan diteori-kan. Lahirlah filosof penteori seperti Jean Bodin, John Locke, Hobbes hingga Rosseau. Mereka menteorikan, bahwa kekuasaan bukanlah kehendak Tuhan. Melainkan kehendak manusia.

Ini dimulai dari teori ‘cogito ergo sum’-nya Descartes. Yang memulai era modernitas. Cartesius resmi mengeliminasi Kebenaran ala Wahyu. Filsafatnya berbeda dengan Aquinas, yang masih mengakui “tweez warden theorie” (kebenaran dua belah pedang). Aquinas mengutip Al Farabi, tentang teori emanasi, kebenaran ganda. Kebenaran ala Wahyu dan Kebenaran ala akal. Descartes mengeliminasinya. Kebenaran, katanya, hanya bisa sahih jika merujuk pada rasionalitas semata. Tak lagi merujuk kitab suci. Muncul lagi teori baru dari Immanuel Kant. Ration scripta. Tentang empirisme. Kebenaran, katanya, hanya sahih jika telah diuji dalam sebuah hasil pengalaman. Itulah yang melahirkan “penelitian,” yang kini menjadi pakem kaum rasionalitas dalam menentukan ‘kebenaran’.

Cartesius dan Kantian ini begitu mempengaruhi Eropa. Hingga Hobbes pun menteorikan tentang kekuasaan. Siapa yang berhak menjadi raja, adalah berdasarkan kehendak manusia. Karena Tuhan didudukkan sebagai pembuat jam. Kala jam selesai dibuat, maka jam berjalan dengan sendirinya. Dari Hobbes, muncul juga Jean Bodin, yang menteorikan ulang tentang “republik”, yang berbeda dengan apa yang diutarakan Cicero dan Plato.

Puncaknya berada pada Jean Jacques Rosseau. Dia berteori, kekuasaan itu murni kehendak rakyat. Karena manusia yang menentukan, siapa yang layak menjadi penguasa. Dari ‘le contract sociale’, lahirlah konstitusi. Hukum ala manusia. Inilah eliminasi atas kitab suci.

Gejolak modernitas, melahirkan dinamika panjang di Eropa. Yahudi mulai melirik. Karena ditengah gempuran pertarungan antara dogma dan filsafat, kaum Yahudi ternyata setia sebagai pebisnis. Mereka menguasai lini “penggandaan uang”. Dari sudut pelabuhan Venezia, Italia, mereka memulai dengan bisnis “Banco”, cikal bakal bank. Banco inilah pebisnis penitipan uang Dinarius (emas) dan Dracham (perak). Lalu memberikan pinjaman. Mereka tak sibuk berfilsafat atau mematuhi dogma. Karena cita-cita tentang “tanah yang dijanjikan” tadi. Banco pun menggeliat. Dari nasabah hanya orang per orang, kemudian mereka memiliki nasabah seorang Raja.

Dan itu dimulai kala Revolusi Inggris meledak, 1668. Kerajaan Inggris berhasil lepas dari kekuasaan imperium Gereja Roma. Karena buah perang aqidah antara pengikut Gereja Roma, yang disebut Katolik, melawan pengikut Marthin Luthern dan John Calvin, yang sempat divonis sebagai bid’ah. Karena kedua tokoh Nasrani itu memulai tentang ‘pembaharuan’ dalam tubuh Nasrani. Dan ‘pembaharuan’ itu bergandengan dengan ‘pencerahan’ ala rennaisance. Maka mereka pun bertemu. Revolusi Inggris berhasil menyingkirkan pengikut Gereja Roma. Maka Inggris pun dikuasai kaum Protestan. Puncaknya, Raja William of Orange, Raja Inggris, didapuk menjadi Raja. Tapi kemudian diberi pinjaman modal oleh kaum bankir, para penguasa Yahudi yang bersatu dalam “banco” tadi. Mereka memberikan pinjaman pada sang Raja sebesar 25 juta Poundsterling, kala itu masih dalam emas. Tapi dengan utang berbunga. Itulah “utang nasional” pertama di dunia. Itulah catatan pertama, kaum Yahudi berhasil “mengkooptasi” sebuah kerajaan. Karena utang itu melahirkan kesepakatan, “Kalian boleh jadi raja, tapi kami yang mengatur keuangannya,” kata sang banco. Inggris pun beralih kendali. Dulu di bawah kekuasaan Gereja Roma. Tapi pasca Revolusi, beralih di bawah kekuasaan ‘Banco’.

Seabad kemudian, kekuasaan Yahudi makin menguat. Selepas mengendalikan Inggris dan Belanda, mereka mulai merebut kerajaan terkuat di Eropa: Perancis. Maka meluncurlah ‘Revolusi Perancis’. Polanya serupa. Kaum modernitas –buah dari rennaisance—menyatu dengan ordo ‘banco’. Inilah ordo Bankir, yang dikomandani kaum Yahudi tadi. Atas nama ‘pembaharuan’, mereka melancarkan revolusi di Paris. Robbispierre, memimpin revolusi menggunakan teori Rosseau. Bahwa kekuasaan haruslah ditangan manusia, bukan Tuhan. Maka “liberte, fraternite, egalite” pun menjadi semboyan. “Liberte” (merdeka) dari apa? Dari kekuasaan Tuhan. Fraternite (persaudaraan) ialah sesama kaum modernitas. Musuhnya adalah pengikut Gereja Roma. Egalite (keadilan), tentang kesetaraan antar sesama manusia, tak ada lagi diskriminasi antara agamawan dan bangsawan yang kebal hukum. Ini menjadi bahasan utama. Paris pun menggelora. Kaum agamawan dan bangsawan di kudeta. Disitulah menggema “modern state” kali pertama. Setelah dikudeta, maka lahirkan “constutitio” sebagai buah dari manusia yang berhak membuat hukum. Hukum rasio. Hukum ala manusia. Kitab suci di eliminasi.

Robbispierre kemudian dikudeta. Setelah berhasil memenangkan revolusi. Diangkatlah Napoleon Bonaperte. Siapa yang mengangkatnya? Ternyata 25 kaum bankir dari Nantes. Mereka telah berkumpul, untuk mendapuk Napoleon sebagai Kaisar Republik Perancis. Napoleon dijadikan pemimpin, dengan modal utang dari bankir senilai 75 juta Franc (emas). Yang dibayar dengan bunga saban tahun. Itulah utang nasional, turun temurun. Perancis merdeka, sejak itu pula mereka dibawah kendali ‘kaum Banco’. Disitulah Yahudi mulai berkuasa, memegang kendali atas Eropa. Merambah hingga seantero Eropa.

Seabad kemudian, revolusi serupa dilancarkan. Kali ini sasarannya adalah Daulah Utsmaniyya. “Pembaharuan Islam” diluncurkan. Atas nama modernitas tadi. Atas nama “rennaisance” tadi. Islam pun seolah perlu diperbarui. Lahirlah fiqih kontemporer. GH Jansen, dalam “Islam Militant”, menyebut, eksponen gerakan ini muncul dari Jamaluddin al Afghani, Rasyid Rida, Abduh. Mereka meluncurkan “pembaharuan” yang melahirkan, seolah Islam harus disesuaikan jaman. Intinya, disesuaikan dengan kehendak kaum Eropa baru tadi. Gerakan ini menyatu dengan salafisme yang berasal dari Arabia, dengan tokohnya Abdul Wahab. Apa yang diungkapkan Jansen, memang sepenuhnya benar.

Tanzimat pun meluncur di Utsmaniyya. Reformasi. Utsmaniyya mengganti hukum. Tak lagi merujuk syariat, melainkan merujuk pada konstitusionalisme ala Perancis. Bank-bank pun berdiri di Istanbul. Sultan mengeliminasi Syaikhul Islam, sang Mursyid, yang selama ini mendampingi. Tapi kemudian mendengarkan nasehat dari bankir. Dari sinilah Zionisme mulai membahana. Hingga kemudian Theodore Hezrl berani menawarkan harga tanah Yerusalem pada Sultan Abdul Hamid II. Tapi Sang Sultan masih perkasa. Tanah Yerusalem bukan diperjual belikan. Melainkan itu tanah milik kaum muslimin.

Gagal pada Sultan Abdul Hamid II, Zionisme tak menyerah. Mereka mendidik “modernis” Turki menjadi pemimpin. Bak Napoleon dalam Perancis. Muncullah Attaturk, yang jenazahnya konon tak diterima bumi. Attaturk bertindak mengikuti kemauan “tuannya”. Tassawuf dilarang. Shaykhul Islam dibubarkan. Dan Utsmaniyya pun dibubarkan. Turki berubah menjadi republik. Berubah menjadi ‘nation state’. Maka, Yerusalem pun dengan mudah diambil alih Yahudi. Karena Attaturk telah diberikan utang berbunga, dalam memimpin Turki. Sejak itulah, Turki melemah, dan Yerusalem lepas dari pangkuan kaum muslimin. Karena “pembaruan Islam” telah merubah fiqih, telah mengubah tradisi tentang ke-Islam-an.

“Islam tak perlu diperbarui, tapi kita-lah yang harus menyesuaikan diri kembali dengan Islam,” kata Shaykh Abdalqadir as sufi, ulama besar dari Eropa.

Zionisme menemukan bentuknya. Yahudi seolah menemukan “tanah yang diperjanjikan”. Tapi pola mereka merebut Yerusalem, bukan dengan pedang. Melainkan dengan membangkitkan nafsu syahwati manusia. Mulanya “rasionalitas” disodori. Tapi kemudian rasio mudah bergeser. Seperti pesan Imam Ghazali, “Akal tak sepenuhnya benar, jangan sekali-kali mengambil hakekat ajaran agama darinya,” katanya dalam ‘Tahafut al Falasifah. Dan modernitas telah membuktikan bagaimana “rennaisance” tak lagi melahirkan Kebenaran. Melainkan “pembenaran”. Ini yang disebut Martin Heidegger bahwa filsafat tak lagi melahirkan kebenaran eksistensialisme. Melainkan ‘kebenaran essensialisme’. “Dan itu bukan Kebenaran,” katanya dalam ‘Being and Time.’

Zionisme tentu mereguk untung dengan pertemuan antara “modernitas” dan syahwati manusia. Karena modernitas telah berganti menjadi gerakan hawa nafsyu. Hubudunya membahana. Inilah buah dari filsafat. Karena saintifistik, tak membuat Andalusia perkasa. Melainkan mudah dikalahkan musuh, yang bahkan belum mengenal kopi.

Dari sini, kita mahfum bagaimana membebaskan Yerusalem. Seperti kala Sultan Salahuddin al Ayyubi hadir dengan ribuan muslimin, yang bukan produk mu’tazilah. Mereka merupakan produk pengajaran tassawuf, yang kembali mengajarkan “pencerahan” yang berujung pada Ma’rifatullah. Model insan kamil inilah yang bisa mengelak dari sihir “Banco” tentang pemberian uang bak kepada Napoleon maupun Attaturk tadi. Kaum yang mampu mengalahkan syahwati dan akal, di bawah kendali Qalbu. Inilah para sufi. Sebagaimana muslimin awalun dalam Perang Badar. Yang telah “tercerahkan” dalam pemahaman utuh atas “pancaran (tajjaliyat)”.

Yerusalem tak akan bebas hanya dengan mengirimkan dinar emas dan dirham perak. Karena yang diperlukan Yerusalem bukanlah benda. Melainkan manusia insan kamil, yang utuh dalam barisan berjamaah, yang berdzikir pada Allah Subhanahuwataala. Inilah ‘pembebas’ yang sesungguhnya. Dan itulah perlunya pengajaran tassawuf yang sahihan. Insha Allah.

Karena Zionisme lahir dari modernitas, yang berakar pada nafsyu syahwati, dan memancarkan pengaruhnya kemana-mana.

 

Irawan Shiddiq

Penulis buku “Bahaya Filsafat Terhadap Aqidah” dan “Kembalinya Hukum Islam”

(As'ad Syamsul Abidin)