Jakarta, Aktual.com – Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Jim Mattis, mengatakan dia tidak melihat hubungan antara AS dan China semakin memburuk. Walaupun ia tak menyangkal, terdapat ketegangan di antara kedua negara.

“Ada titik-titik ketegangan dalam hubungan itu, tetapi berdasarkan diskusi yang keluar dari New York (pertemuan Majelis Umum PBB) pekan lalu dan hal-hal lain yang kami hadirkan, kami tidak melihatnya semakin memburuk,” kata Mattis seperti dikutip dari Reuters, Selasa (2/10).

Ia mengatakan AS harus belajar bagaimana mengelola hubungannya dengan Cina. “Kami berdua (AS dan Cina) seperti yang Anda katakan, kekuatan besar, dua negara Samudra Pasifik. Kami memiliki berbagai masalah diplomatik, ekonomi, keamanan. Kami harus mencari cara untuk menyelesaikannya,” ujar Mattis.

Para pejabat pertahanan AS mengatakan Mattis telah membatalkan rencana kunjungannya ke Cina di tengah meningkatnya ketegangan dengan Beijing. Namun Mattis memang belum mengumumkan rencana kunjungan itu secara publik.

Hubungan antara AS dan Cina memang sedang menghadapi krisis. Hal itu dipicu sengketa perdagangan berupa perang tarif. Kedua negara diketahui telah menaikkan tarif impor untuk produk-produk dari masing-masing negara.

Hubungan keduanya diperparah dengan keputusan AS menjual peralatan militer senilai 330 juta dolar kepada Taiwan. Beijing telah menganggap Taiwan sebagai provinsi yang memberontak.

Cina pun memprotes misi pesawat pengebom B-52 AS yang berkekuatan nuklir di Laut Cina Selatan. Beijing menyebut misi tersebut bersifat provokatif.

AS memang telah lama menolak klaim teritorial Cina atas Laut Cina Selatan. Washington menilai, Laut Cina Selatan adalah wilayah perairan internasional. Oleh sebab itu, AS secara teratur berusaha menunjukkan kebebasan navigasi dengan menerbangkan pesawatnya di atas Laut Cina Selatan.

Klaim Cina atas wilayah Laut Cina Selatan tidak hanya ditentang AS, tapi juga negara-negara Asia Tenggara, seperti Vietnam, Malaysia, Indonesia, dan Filipina. Namun, Cina dan ASEAN telah menyepakati sebuah rancangan yang akan menjadi dasar Code of Conduct (COC) atau kode etik di Laut Cina Selatan.

Dengan rancangan COC tersebut ASEAN dan Cina berharap sengketa klaim di Laut Cina Selatan dapat diselesaikan melalui jalur diplomasi atau tanpa konflik.

()