Jakarta, Aktual.com Seorang orientalis bernama Ignac Goldziher mengatakan bahwa hadits-hadits yang ada di zaman sekarang adalah hasil dari perbuatan pemerintahan Umar bin Abdul Aziz dalam melanggengkan kekuasaannya.

Mereka juga berdalih bahwa sebelumnya di masa Sahabat, Nabi tidak menganjurkan penulisan hadits berdasarkan sabda beliau yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Said al-Khudri:

  عن أبي سعيد الخدري أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال لا تكتبوا عني ومن كتب عني غير القرآن فليمحه

Diceritakan dari Abu Sa’id al-Khudri bahwa Rasulullah bersabda “Jangan kalian menulis (selain Al-Qur’an) dariku. Barang siapa yang menulis dariku selain Al-Qur’an hendaknya ia menghapusnya” (HR Muslim).

Padahal, disisi lain Rasulullah SAW menganjurkan kepada para sahabatnya untuk menuliskan hadits-hadits Nabi SAW:

  عن عبد الله بن عمرو قال كنت أكتب كل شيء أسمعه من رسول الله صلى الله عليه وسلم أريد حفظه فنهتني قريش وقالو أتكتب كل شيء تسمعه ورسول الله صلى الله عليه وسلم بشر يتكلم في الغضب والرضى، فأمسكت عن الكتاب، فذكرت ذالك لرسول الله صلى الله عليه وسلم، فأومأ بأصبعه إلى فيه فقال اكتب فوالذي نفسي بيده ما يخرج منه إلا حق

Diceritakan dari Abdullah bin ‘Amr, beliau berkata “Dahulu aku menulis seluruh yang aku dengar dari Rasulullah, aku ingin menghafalkannya, maka kaum Quraisy mencegahku. Mereka (kaum Quraisy) mengatakan “Apakah engkau menulis seluruh hadits yang engkau dengar (dari Rasulullah), padahal Rasulullah adalah manusia yang terkadang bersabda dalam keadaan marah terkadang dalam keadaan senang?” Maka aku menahan diri dari menulis (hadits Nabi).

Kemudian, aku menceritakan hal tersebut kepada Rasulullah, maka Rasulullah memberikan isyarat dengan jarinya kepada mulutnya, Rasulullah bersabda “Tulislah (hadits), demi Allah dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya tidaklah keluar darinya (mulutku) kecuali kebenaran” (HR Abu Dawud).

Lantas bagaimana menurut pandangan ulama terkait hal ini?

Pertama, menurut sebagian ulama pada mulanya ditetapkan larangan hadits. Hal ini dikarenakan khawatir tercampurnya penulisan al-Quran dan Hadits. Hingga ketika jumlat umat Islam bertambah banyak serta umat Islam telah mengetahui perbedaan di antara al-Quran dan hadits, larangan menulis hadits pun digugurkan dan dihilangkan.

Kedua, menurut sebagian ulama larangan menulis hadits dalam riwayat Abu Sa’id al-Khudri adalah larangan menulis hadits dalam satu halaman yang sama dengan penulisan al-Quran.

Ketiga, menurut Ibnu Hajar al-Asqalani riwayat Abu Sa’id al-Khudri yang menjelaskan karangan menulis hadits berderajat mauquf ‘alaih (disandarkan kepada sahabat). Oleh karena itu, riwayat Abu Said al-Khudri ini tidak dapat digunakan sebagai dalil pelarangan hadits.

Keempat, sebagian ulama mengatakan larangan menulis hadits ditunjukkan kepada orang-orang yang memiliki daya hafal yang kuat. Sedangkan izin kebolehan menulis hadits ditunjukkan kepada orang-orang yang lemah daya hafalnya.

Kesimpulannya adalah penulisan hadits telah ada semenjak zaman Sahabat. Hal ini ditunjukkan dengan catatan hadits yang ditulis oleh sahabat Abdullah bin ‘Amr bin Ash. Oleh karena itu, tuduhan orang-orang orientalis tidaklah benar dan tidak dapat dipertanggung jawabkan.

Waallahu a’lam

(Rizky Zulkarnain)

(Nusantara Network)