Muhammad Sutisna, Pemerhati Sosial-Politik & Jakmania Progresif

Jakarta, Aktual.com – Tragedi Kanjuruhan sudah satu minggu berlalu. Tapi lukanya masih melekat dalam kalbu. Kabut duka masih menyelimuti negeri. Bagaimana tidak,  antusias masyarakat terhadap sepakbola Indonesia sangat tinggi.

Jika merujuk data dari Liga Indonesia terbaru, jumlah penonton dalam setiap pertandingan tidak pernah sedikit. Selalu di atas ribuan penonton yang menyaksikan langsung di stadion.

Belum lagi dalam melihat performa timnas yang sedang meningkat di level internasional, memang sepak bola kita akan betul-betul semakin naik kelas.

Apalagi setelah dihantam pandemi yang berkepanjangan, geliat sepak bola tanah air sangat lesu dan redup. Bahkan hampir mati suri.

Maka tak ayal, dalam melihat jumlah penonton di setiap pertandingan animo masyarakat begitu tinggi. Semacam ada kerinduan batin yang begitu menggebu. Sehingga sepakbola kita kembali bercahaya.

Namun cahaya yang bersinar itu kembali redup dalam sekejap, usai tragedi Kanjuruhan yang menelan korban ratusan jiwa. Dampaknya dari tragedi tersebut, menguji rasa persatuan kita sebagai anak bangsa, karena lebih disibukan mencari kambing hitam.

Saling caci, saling dengki tak terelakan. Dan hal tersebut tidak bisa menjadi solusi. Serta tak berefek apapun. Bahkan tak bisa mengembalikan  jiwa   Nawak-Nawak Aremania yang sudah tinggal nama.

Melihat situasi ini, sempat saya berfikir untuk menggantungkan syal dan atribut sebagai suporter. Tidak kembali ke stadion menyaksikan pertandingan sepakbola di negeri ini yang cukup carut marut.

Bahkan ibu saya, melalui pesan What’s App untuk melarang nonton bola stadion. Sebab khawatir, melihat berita berita yang bersliweran di tv maupun media sosial.

Sebagaimana isi dari ‘kotak pandora’ kita tidak boleh menyerah dengan keadaan, tak boleh larut dalam kesedihan. Harapan itu masih selalu bersemayam dalam diri. Semua elemen bangsa saling bersatu padu untuk kemajuan sepakbola tanah air.

Apalagi dengan memperhatikan keadaan saat ini. Ketika kehadiran negara yang betul-betul serius menangani tragedi ini menjadi titik balik kebangkitan sepakbola tanah air.

Mulai dibentuknya Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) Tragedi Kanjuruhan yang dipimpin langsung Menkopolhukam Prof Mahfud MD serta komunikasi intens antara Presiden Joko Widodo dengan Gianni Infantino selaku Presiden FIFA menjadi titik awal kebangkitan sepakbola negeri ini, yang sudah meredup dan akan memancarkan cahaya keindahannya.

Benar saja, setelah melihat konferensi Pers Presiden Joko Widodo yang menyampaikan hasil surat dari FIFA bahwa pihaknya akan serius melakukan transformasi besar terhadap sepakbola tanah air.

Ini adalah langkah yang jenius, mungkin berkaca pada sangsi FIFA pada 2015, akibat pemerintah langsung intervensi terhadap kisruh di tubuh PSSI silam. Karena memang dalam statuta FIFA, pemerintah tidak bisa ikut campur terlalu mendalam terhadap urusan federasi.

Setidaknya surat tersebut bisa menjadi cambuk bagi PSSI, untuk melakukan perubahan besar, nyata, cepat dan berbenah secara menyeluruh terhadap sepak bola tanah air. Selain itu terdapat poin menarik, di antara lima point yang dikeluarkan oleh Pemerintah dalam merespon surat dari FIFA.

Yakni perlu adanya keterlibatan klub-klub serta perwakilan suporter dengan melakukan sosialiasi dan diskusi tentang apa yang harus diformulasikan ke depannya. Mungkin yang kita ketahui bersama bahwa selama suporter hanya dijadikan objek. Objek dari industrialiasi olahraga.

Ke depan paradigma tersebut harus dirubah. Suporter perlu dijadikan subjek. Karena sepakbola dan suporter merupakan suatu kesatuan yang tak bisa dipisahkan.

Jangan lagi ada “jarak” antara suporter dengan para pemangku kebijakan sepakbola. Seperti kedekatan FA (Otoritas Sepakbola Inggris) yang kerap melakukan komunikasi dengan para hooligan di setiap momentum apapun.

Sebagai contoh, ketika ribuan suporter The Three Lions yang meneriakkan ‘persetan IRA’ ketika melawan Skotlandia di laga persahabatan di Celtic Park, Glasglow.  Pihak FA dengan cepat langsung melakukan pertemuan dengan suporter Inggris untuk menunjukan rasa hormat terhadap Irlandia.

Maka dari itu kerja-kerja kebangsaan seperti ini yang harus dilakukan.

Mencari titik temu mulai dari hulu sampai hilirnya. Bukan hanya sibuk saling menyalahkan banyak pihak yang tanpa ujung. Semua mesti berbenah diri!

Sehingga sembari menunggu hasil kerja TGIPF yang dipimpin oleh Menkopolhukam, sudah saatnya kita saling bermawas diri dan meningkatkan sense of crisis di masa-masa duka seperti saat ini. Apalagi dengan melihat narasi perdamaian yang sudah digaungkan oleh para suporter yang dulunya kerap berseteru.

Hal Ini merupakan pertanda baik untuk masa depan sepakbola tanah air. Meskipun tidak ada sepakbola sebanding dengan nyawa. Atas nama kebangkitan sepak bola, jangan sampai ada lagi manusia yang tinggal nama.

Semoga tragedi Kanjuruhan tidak lagi terulang, di lain kesempatan.

Salam Satu Jiwa, dalam Sepak Bola untuk Bangsa Indonesia.

Oleh: Muhammad Sutisna, Pemerhati Sosial-Politik & Jakmania Progresif

(Nurman Abdul Rahman)