Foto kombo Menkeu Bambang Brodjonegoro memberikan keterangan terkait realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan 2015 di Gedung kemkeu, Jakarta, Rabu (5/8). Realisasi pendapatan negara pada semester pertama mencapai Rp.771,4 triliun atau 43,8 persen sedangkan realisasi belanja negara mencapai Rp.913,5 triliun atau 46 persen dari pagu belanja negara. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/nz/15

Jakarta, Aktual.com —  Menteri Keuangan (Menkeu) Bambang Brodjonegoro mengutarakan mimpinya terhadap Indonesia, yaitu masyarakat kalangan menengah ke bawah bisa memiliki kartu pintar yang dapat digunakan sebagai transaksi nontunai sekaligus subsidi, baik subsidi beras maupun pupuk.

“Saya ingin pendistribusian subsidi bisa tepat sasaran, digunakan dengan sebaik-baiknya,” ujar Bambang dalam acara Forum Sistem Pembayaran Indonesia di Gedung Thamrin Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (27/8).

Lebih lanjut dikatakan dia, dengan kartu yang diinisiasi bernama “Kartu APBN” tersebut, masyarakat diharapkan bisa lebih menghargai arti kehadiran negara.

“Itu bentuk support negara terhadap masyarakat. Nanti masyarakat bisa mengatakan bahwa dia bisa lebih produktif karena negara,” jelasnya.

Namun dirinya juga mengakui bahwa “Kartu APBN” tidak bisa dengan cepat terealisasi. Pasalnya, proses pembuatan single identity number di Kementerian Dalam Negeri hingga saat ini belum 100 persen.

Mimpi Bambang tersebut secara tidak langsung mengatakan bahwa selama ini kinerja pemerintah terhadap pendistribusian subsidi tidak efektif. Dia juga mengakui banyak kesalahan di lapang yang dimanfaatkan oleh sebagian kalangan.

“Subsidi pupuk banyak yang dipakai perkebunan besar, seperti sawit, bahkan ada petani yang kerjanya bukan menanam padi tapi menjual pupuk subsidi. Ini sangat mudah terjadi moral hazard,” pungkasnya.

(Eka)