Surabaya, Aktual.com — Kekeringan menjadi siklus tahunan yang melanda beberapa daerah. Tak hanya kekeringan, siklus tahunan hujan salju juga melanda empat kabupaten di wilayah Papua.

“Inikan siklus tahunan. Maka dari itu cadangan pangan yang berada di daerah potensial kekeringan atau hujan salju harus disiapkan sebelumnya. Kebutuhan tidak harus disentrakan di ibu kota,” kata Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansah, Jumat (25/9).

Khofifah menerangkan, bahwa perlunya pangan cadangan di wilayah potensial kekeringan atau hujan salju tersebut sebagai pemenuhan kebutuhan.

Contohnya, lanjut Khofifah, untuk Kabupaten Puncak yang berada di Papua, kerap dilanda hujan salju. Untuk memasok kebutuhan pangan, tentu akan kesulitan transportasi karena tidak bisa dilewati oleh kendaraan darat.
Padahal, menurut ia, lokasi tersebut masih ada tanaman yang bisa tahan ketika hujan salju seperti tanaman kentang, wortel dan kol.

“Kentang paling bisa diawetkan. Kemudian ketela rambat yang mereka menyebutnya ubi potetos. Tetapi mereka tidak terinformasikan bahwa ketela rambat ketika didiamkan dalam waktu dua bulan, bisa menjadi ubi yang mengandung gula atau disebut ubi madu,” urainya memberikan saran.

Dengan demikian, masih dari Khofifah, berbagai informasi tentang pangan yang bisa disimpan di gudang tingkat lokal, harus bisa benar-benar tersampaikan.

Agar ketika terjadi cuaca ekstrim, daerah potensi salju atau kekeringan bisa tercukupi kebutuhan pagannya dengan baik.

Mengenai kebutuhan air bersih di wilayah kekeringan, Kementerian Sosial juga berkoordinasi dengan Kementrian Pertanian untuk menciptakan irigasi teknik, dengan target untuk tahun 2015 bisa tercapai. Yaitu, irigasi teknik di tiga juta hektar sawah.

“Tidak hanya irigasi saja. Soal kebutuhan tanaman yang cocok dengan perubahan wilayah ekstrim, kita juga mengkoordinasikan dengan Kementerian Pertanian termasuk membuatkan gudang cadangan pangan,” kata ia menutup pembicaraan.

()