Menteri ESDM Bahlil Lahadalia (kanan) didampingi Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya (kiri) menjawab pertanyaan pers di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (16/4/2026). ANTARA/HO-Humas Kementerian ESDM

Jakarta, aktual.com – Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia membidik pasokan minyak dan gas bumi (migas) dari Rusia di tengah keterbatasan ketersediaan global akibat perang di Timur Tengah.

Menurut Bahlil, Indonesia memiliki pasokan energi domestik, namun jumlahnya terbatas dan masih di bawah konsumsi nasional.

Maka dari itu, berbagai langkah strategis dilakukan pemerintah untuk menjaga pasokan energi agar dapat memenuhi permintaan masyarakat dan industri, salah satunya melalui penjajakan kerja sama dengan Rusia sebagai salah satu produsen energi dunia, kata Menteri ESDM, dalam keterangannya yang dikutip di Jakarta, Jumat (17/4).

Bahlil mengatakan, dalam pertemuan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, telah disepakati kerja sama jangka panjang di bidang energi.

“Di tengah kondisi global yang seperti ini, kita harus mampu mencari cadangan-cadangan minyak dari berbagai sumber. Tidak hanya dari satu negara, tapi semua negara. Alhamdulillah, kemarin atas arahan Bapak Presiden, saya sudah bertemu Menteri Energi dan Utusan Khusus Presiden Putin. Alhamdulillah, kabarnya cukup menggembirakan,” ujar dia di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (16/4).

Menurut Bahlil, Indonesia akan mendapat pasokan minyak mentah dari Rusia.

Tak hanya itu, Rusia juga siap berinvestasi dan membangun berbagai infrastruktur untuk mendukung ketahanan energi Indonesia.

“Kita akan mendapat pasokan crude (minyak mentah) dari Rusia dan Rusia juga siap membangun beberapa infrastruktur yang penting dalam rangka meningkatkan cadangan dan ketahanan energi nasional kita,” katanya menambahkan.

Dengan kebutuhan minyak mentah Indonesia yang begitu besar, yakni mencapai sekitar 300 juta ton setiap tahun, Bahlil mengatakan Indonesia harus membuka peluang kerja sama dengan seluruh negara penghasil energi dunia, termasuk Rusia, Amerika Serikat, dan negara-negara Afrika.

“Pemerintah Indonesia selalu mengedepankan politik bebas aktif, dan dalam politik bebas aktif itu juga ada ekonomi bebas aktif. Jadi, kita boleh belanja dari mana saja, selama kita komitmen dengan orang-orang atau negara-negara yang kita ajak kerja sama. Termasuk, Rusia, kemudian Afrika seperti Nigeria dan lebih khusus kita hargai juga perjanjian kita dengan Amerika,” ujar dia.

Dengan berbagai kerja sama tersebut, ia memastikan pasokan minyak mentah Indonesia hingga akhir 2026 tersedia.

“Bapak Presiden selalu berpikir untuk bagaimana caranya agar ketersediaan kita satu tahun itu harus tetap ada. Atas arahan Bapak Presiden, saya menindaklanjuti untuk pasokan crude satu tahun dari mulai bulan ini sampai dengan bulan Desember, insya Allah sudah aman. Jadi, kita nggak perlu risau, tinggal kita meningkatkan produksi kilang kita,” katanya menjelaskan.

Sebelumnya, pada Senin (13/4), Bahlil mendampingi Presiden Prabowo Subianto menemui Presiden Rusia Vladimir Putin di Istana Kremlin, Moskow, Rusia.

Pertemuan tersebut dilakukan untuk membahas potensi kerja sama energi yang berorientasi pada kepentingan nasional.

Bahlil menegaskan komitmennya dalam mengawal diplomasi energi guna menjaga stabilitas pasokan energi domestik.

Langkah itu mencakup pengembangan kilang minyak dan penguatan perdagangan minyak.

Kemudian, pada Selasa (14/4), ia mengatakan menemui Menteri Energi Rusia Sergey Tsivilev di Kantor Kementerian Energi, Moskow, Rusia, sebagai tindak lanjut pembicaraan Presiden Prabowo dan Putin sehari sebelumnya.

Pada pertemuan itu, dibahas peluang konkret kerja sama energi yang dapat segera ditindaklanjuti, terutama kepastian pasokan minyak mentah dan LPG.

Menyambut keinginan Indonesia, menurut Bahlil, pihak Rusia pun menyatakan kesiapannya mendukung ketahanan energi Indonesia, melalui suplai migas serta penyimpanannya.

“Alhamdulillah, apa yang sudah menjadi kesepakatan itu, kita mendapatkan hasil yang cukup baik, yang mana kita bisa mendapatkan tambahan cadangan crude. Di samping juga, kita akan mendapatkan LPG,” kata Bahlil.

Kerja sama itu, lanjutnya, dijajaki melalui skema antarpemerintah (government to government/G2G) maupun antarbisnis (business-to-business/B2B), yang diharapkan dapat memberikan kepastian terhadap ketersediaan cadangan energi nasional, khususnya untuk minyak mentah dan LPG di Indonesia.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain