Jakarta, aktual.com – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Bintang Puspayoga menyatakan bahwa Hari Ibu pada 22 Desember 2022 merupakan waktu untuk mengenang perjuangan Kongres Perempuan Indonesia.

“Ini kesempatan yang sangat berharga untuk mengenang dan menghormati terselenggaranya Kongres Perempuan Indonesia pertama pada 1928,” kata Bintang dalam dalam pameran “The Truth Inside You” di Jakarta, Kamis (15/12).

Bintang menuturkan Kongres Perempuan pertama di Indonesia, sesungguhnya telah menyambungkan tali ikatan sejarah perempuan di masa lalu, masa kini, dan masa datang. Kongres ini juga menandakan bahwa kaum ibu ingin bangkit kembali, merebut kedaulatan dan peran pentingnya di masa lalu, untuk dapat dimanfaatkan dalam membangun bangsa yang merdeka.

Kongres Perempuan juga mengajarkan bahwa sosok ibu Indonesia melukiskan dekatnya hubungan ibu dan anak, tetapi juga dekatnya hubungan ibu dengan keluarga, komunitasnya dan dekatnya semangat ibu dengan semangat bangsanya.

“Peringatan Hari Ibu mengandung kekayaan dimensi peran ibu yang memang khas para ibu dan perempuan Indonesia. Sehingga peringatan Hari Ibu bukanlah mother’s day sebagaimana yang diperingati di negara lain,” katanya.

Di sisi lain, Hari Ibu juga harus dijadikan waktu mengenang dan menghargai kaum ibu yang telah berjuang untuk memperkuat jati dirinya sendiri, untuk memajukan anak-anak Indonesia, masyarakat Indonesia, dan Bangsa Indonesia.

“Kaum ibu Indonesia adalah ibu bagi dirinya sendiri, ibunya anak-anak, ibunya masyarakat dan ibu bangsa. Mereka adalah sosok yang berintegritas, bekerja untuk keluarga, untuk masyarakat dan untuk bangsa,” ujarnya.

Melalui pameran yang diselenggarakan Museum Nasional bertajuk “The Truth Inside You: Alunan Kisah tentang Perempuan”, Bintang mengajak semua pihak untuk mengenang para perempuan masa lalu dengan menelusuri peninggalan masa lalu, guna melihat betapa para perempuan Nusantara adalah sosok yang multidimensi dan multiperan.

Menurut dia, perempuan Nusantara adalah sosok yang ulet, pekerja keras, kreatif tetapi juga pengasih. Perempuan Nusantara menguasai berbagai keterampilan, dan juga lincah di kancah perjuangan, baik sebagai anggota maupun pemimpin gerakan.

Banyak pengalaman para perempuan yang belum diketahui dan luput diapresiasi. Tanpa pengetahuan tersebut, maka perempuan akan terus dipandang rendah dan terbelakang. Padahal para ibu telah meletakkan dasar bagi terbangunnya Bangsa Indonesia.

Oleh karena itu, Bintang menekankan jika pameran koleksi benda sejarah dan etnografi itu, memberikan pemandangan nyata bahwa warisan budaya leluhur sesungguhnya tak dapat dilepaskan dari keringat, tenaga dan pikiran para perempuan, para ibu di masa lalu.

Menurut dia, negara harus melestarikan warisan yang ditinggalkan oleh para ibu terdahulu, supaya masyarakat memiliki kebanggaan pada setiap hal atau karya yang dilakukan oleh perempuan Indonesia.

“Saya kira inilah tugas penting kita untuk terus mempromosikan karya para perempuan, termasuk melalui pameran ini. Setiap sektor pembangunan sangat penting untuk turut serta memajukan kaum perempuan dan mempromosikan kerja-kerja para perempuan. Bila kita dapat melakukan hal ini bersama-sama, saya yakin peran perempuan akan semakin terangkat,” kata Bintang.

(Antara)

(Rizky Zulkarnain)