Akhirnya, teka-teki tentang pesawat tempur andalan, yang akan menggantikan jajaran F-5E/F Tiger II yang mulai uzur, terjawab sudah. Dalam beberapa tahun mendatang, ruang udara Indonesia tampaknya akan dijaga oleh “Sang Penggentar” Sukhoi Su-35. Kehadiran pesawat tempur multiperan buatan Rusia ini akan memberi efek gentar bagi negara-negara, yang mau coba-coba mengusik ruang udara Indonesia.

Sejauh ini memang belum ada penandatanganan kontrak pembelian secara resmi antara pihak Indonesia dan Rusia. Namun rencana pembelian Sukhoi Su-35 ini disampaikan Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu, saat melakukan inspeksi Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) di Markas Kopassus, markas Batalyon Kavaleri (Yonkaf) I Kostrad, dan Batalyon Infanteri (Yonif) Mekanis 201/Jaya Yudha, 2 September 2015.

Menurut Menhan, rencana pembelian Sukhoi Su-35 ini didasarkan pada kesepakatan dan kajian dari Kepala Staf Angkatan Udara, Marsekal TNI Agus Supriatna, dan Panglima TNI, Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, selaku pengguna alutsista tersebut. Indonesia akan membeli Su-35 minimal satu skuadron atau 16 pesawat. Namun, jumlah ini akan disesuaikan dengan alokasi anggaran yang ditetapkan pemerintah. Pembelian akan dilakukan bertahap, tidak langsung satu skuadron lengkap. Harus dimaklumi juga, Indonesia saat ini sedang menghadapi banyak masalah ekonomi.

Menurut Menhan, salah satu alasan memilih Su-35 adalah karena Indonesia sudah memiliki pesawat Sukhoi, yaitu Su-27/30, sehingga teknologinya sudah ada dan tinggal meneruskan. Meski demikian, keputusan membeli Sukhoi tidak akan berpengaruh pada kedekatan dan hubungan dengan produsen lain.

Tidak hanya dari Rusia, Indonesia juga memiliki rencana untuk membeli alutsista dari Amerika Serikat, seperti helikopter Chinook dan pesawat angkut kelas berat C-130 Hercules. ”Ada yang dari Eropa, dari Amerika, dari Cina, balance-lah. Kita negara netral kok, semua kawan, tidak ada musuh. Jadi kita tidak berpihak ke mana, kita beli semua,” lanjut Ryamizard, yang mantan KSAD itu.

Berbagai pesawat tempur modern, canggih, dari generasi di atas 4 (tapi belum sampai ke generasi 5) telah ditawarkan kepada Indonesia, dan bertarung sengit untuk menggantikan armada pesawat F-5E/F Tiger II TNI Angkatan Udara yang sudah semakin tua. Sampai saat artikel ini ditulis, Kementerian Pertahanan RI belum melakukan tender dan belum resmi memutuskan pesawat mana yang akan dipilih untuk menggantikan F-5E/F.

Meskipun demikian, ada beberapa kandidat yang sudah jelas dan disebut-sebut berpotensi menggantikan F-5E/F, dalam tugasnya menjaga kedaulatan di ruang udara Negara Kesatuan RI. Kandidat itu antara lain: Saab JAS 39 Gripen, Sukhoi Su-35BM, F-16 Block 60, Eurofighter Typhoon, dan Dassault Rafale. Ada yang bermesin tunggal (Gripen dan F-16), dan ada juga yang bermesin ganda (Su-35BM, Typhoon, dan Rafale).

Masing-masing kandidat pengganti F-5E/F tersebut memiliki keunikan dan keunggulan masing-masing. Misalnya, dari aspek kecepatan, kelincahan bermanuver, kekuatan mesin, jarak tempuh, penggunaan bahan bakar, persenjataan yang bisa diangkut, jenis dan kemampuan radar yang digunakan, kompatibilitas dengan sistem pertahanan Indonesia yang sudah ada, dan banyak aspek teknis lain.

Tetapi pilihan pesawat tempur tidak semata-mata karena aspek teknis. Termasuk yang diperhitungkan oleh Indonesia tentunya: aspek harga, dukungan purna jual, suku cadang, tawaran kemitraan dalam bentuk alih teknologi, kemungkinan ancaman embargo, pertimbangan politik, dan sebagainya. Namun, aspek ancaman embargo dan politik tidak disinggung dalam tulisan ini.

Sukhoi Su-35BM

Sukhoi Su-35, yang oleh NATO diberi nama kode Flanker-E, adalah pesawat tempur multiperan, berdaya jelajah panjang, dan bertempat duduk tunggal buatan Rusia. Pesawat yang mampu melakukan manuver super ini dikembangkan dari Su-27 Flanker, dan awalnya diberi nama Su-27M, sebelum diubah namanya menjadi Su-35. Su-35 juga dikenal dengan sebutan Super Flanker.

Terbang perdana pada 1988, Su-35 didesain oleh Sukhoi dan dibangun oleh Komsomolsk-on-Amur Aircraft Production Association (KnAAPO). Pesawat ini awalnya dikembangkan untuk menandingi F-15 Eagle dan F-16 Fighting Falcon. Karena kesamaan fitur dan komponen yang dikandungnya, Su-35 dianggap sebagai sepupu dekat Sukhoi Su-30MKI, sebuah varian Su-30 yang diproduksi untuk India. TNI-AU sudah mengoperasikan Su-27 dan Su-30, meski dari varian yang berbeda.

Desain Su-35 versi awal sangat identik dengan Su-27, tetapi memakai canard seperti Su-33 (versi yang bisa mendarat di kapal induk) dan dengan mesin yang lebih bertenaga, ditambah sistem fly-by-wire digital baru. Pesawat Su-35 juga dilengkapi dengan sebuah radar multi-mode baru yang lebih canggih, detektor infra merah, dan senjata yang telah ditingkatkan kemampuannya.

Perubahan lainnya di antaranya kokpit kaca, probe pengisian bahan bakar di udara, gir moncong roda-kembar, dua penyangga tambahan di bawah sayap, kapasitas bahan bakar yang lebih besar, dan sirip ekor yang lebih lebar dengan ujung serat karbon horisontal.
Su-35 merupakan seri Flanker terakhir dan merupakan pengisi kekosongan generasi antara generasi 4 dan generasi 5, sehingga bisa dimasukkan dalam generasi 4++.

Pesawat Su-35 perdana kemudian dikembangkan lagi menjadi Su-35BM, yang bertempat duduk tunggal dengan avionik yang diperbarui dan aneka modifikasi badan pesawat. BM itu singkatan dari Bolshaya Modernizatsiya (Modernisasi Besar). Su-35BM versi domestik Rusia dinamakan Su-35S, sedangkan Su-35BM versi ekspor dinamakan Su-35K.

Pada 2007, Sukhoi mengumumkan bahwa Su-35BM mulai diproduksi masal untuk AU Rusia. Versi produksi ini menggunakan mesin yang lebih bertenaga, thrust vectoring nozzle kedua yang telah dikembangkan, dan air intake yang lebih besar. Su-35BM tidak memakai canard seperti purwarupanya, tetapi canard ini dapat dipasang sesuai keinginan konsumen. Pembaruan lain termasuk radar yang lebih canggih, kokpit, kompatibilitas dengan senjata tambahan, dan pemakaian alat elektronik terbaru.

Berat kosong Su-35 adalah 18.400 kg, berat terisinya 25.300 kg, dan berat maksimumnya saat lepas landas 34.500 kg. Ditenagai dengan dua mesin turbofan Saturn 117S, masing-masing mesin memiliki dorongan kering 86,3 kN dan dorongan dengan afterburner 14.500 kgf. Su-35 memiliki kecepatan maksimum Mach 2,25 atau 2.390 km/jam. Jarak jangkaunya 3.600 km, dan bisa mencapai 4.500 km dengan tangki bahan bakar tambahan. Batas tertinggi terbangnya adalah 18.000 m.

Persenjataannya adalah sebuah kanon internal Gryazev-Shipunov GSh-30-1 kaliber 30 mm. Ada dua rel ujung sayap untuk peluru kendali udara ke udara R-73 (AA-11 “Archer”) atau poda ECM. Juga ada 12 tempat di sayap untuk mengangkut berbagai persenjataan sampai 8.000 kg, termasuk peluru kendali udara ke udara, peluru kendali udara ke darat, roket, dan bom.

Angkatan Udara Rusia memesan 48 pesawat Su-35S, dan telah mengoperasikan 12 pesawat Su-35 sejak 2008. Sedangkan Angkatan Udara Venezuela memesan 24 pesawat Su-35. Model-model Su-35 sudah coba dipasarkan ke beberapa negara, termasuk Brasil, China, Aljazair, Malaysia, India, Indonesia, dan Korea Selatan. Sejauh ini belum ada yang resmi memesannya, walau harus diakui minat terhadap pesawat ini cukup besar. Sukhoi awalnya memproyeksikan akan mengekspor lebih dari 160 Su-35 versi modernisasi kedua ke seluruh dunia.

Jakarta, Oktober 2015

E-mail: arismunandar.satrio@gmail.com

Artikel ini ditulis oleh: