Jakarta, Aktual.com – Dirjen Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jarman menyampaikan 34 proyek pembangkit listrik yang disebut mangkrak oleh Presiden Joko widodo tidak berpengaruh pada pasokan listrik.

Hal ini karena 34 proyek tersebut tidak mempunyai daya yang signifikan dan tidak terfokus pada daerah tertentu.

“Rata-rata kecil-kecil. Ada yang 2 MW, 3 MW, 10 MW, paling besar 25 MW. Totalnya ratusan MW, nggak banyak. Itu di luar Jawa semua, tersebar di Sumatra, Kalimantan, Nusa Tenggara,” kata Jarman saat ditemui di Kementerian ESDM, Senin (27/6).

Kemudian Jarman menambahkan alasan penyebab mangkraknya proyek-proyek itu karena pada saat melakukan lelang, terjadi ‘banting-banting’ harga, sehingga para kontraktor kehabisan finansial ketika proyek belum selesai.

“Karena banting-bantingan harga. Sekarang kan aturannya dalam pemilihan kontraktor dilihat dulu kemampuan finansialnya, baru teknikal, dan sebagainya. Nggak boleh banting-bantingan harga lagi, ngomong harga belakangan, sudah ada batasannya,” tandasnya.

Diketahui sebelumnya Presiden Joko Widodo dalam rapat di Istana pada Rabu (22/6) lalu menyoroti adanya 34 proyek pembangkit listrik yang telah mangkrak selama bertahun-tahun.

Menurutnya sebagian besar pembangkit listrik itu bagian dari Fast Tracking Project (FTP) yang ditangani saat Pemerintahan sebelum dirinya (SBY).

Jokowi mencontohkan, seperti proyek di Kalimantan Barat yang mangkrak selama 8 tahun dengan menghabiskan anggaran Rp 1,5 triliun. Kemudian Gorontalo, dalam 8 tahun, pembangkit berkapasitas 2-25 MW baru selesai 47 persen. (Dadangsah)

(Dadangsah Dapunta)

(Eka)