Presiden Joko Widodo bersama Presiden Filipina Rodrigo Duterte menyapa para pengunjung Pasar Tanah Abang, Jakarta, Jumat (9/9). Kedatangan Jokowi dan Duterte ini disambut riuh pengunjung Tanah Abang. Kunjungan ini kemudian dilanjutkan dengan pertemuan bilateral di Istana Negara. AKTUAL/TINO OKTAVIANO

Manila, Aktual.com – Pertimbangan Filipina atas kesertaannya dalam pelatihan militer bersama pasukan Amerika Serikat akan menentukan keberlanjutan atau penurunan tingkat pelatihan tersebut. Penilaian akan dilakukan oleh pembesar pertahanan dan pejabat mengenai manfaat pelatihan yang telah berlangsung beberapa dasawarsa di antara kedua negara bersekutu tersebut.

Demikian disampaikan juru bicara Angkatan Darat Filipina Restituto Padilla, Sabtu (8/10). Penegasan itu sejalan dengan pernyataan Presiden Filipina Rodrigo Duterte dalam pidatonya pada Jumat (7/10) yang kembali mencerca Washington. Duterte mengulang pernyataaan sepekan sebelumnya bahwa pelatihan perang Filipina-AS tahun ini adalah yang terakhir.

“Prosedur tersebut saat ini bahwa mereka mempertimbangkan dan menilai untuk mengetahui manfaat yang diperoleh oleh Filipina. Mungkin ada rekomendasi untuk melanjutkan semuanya atau beberapa dan menangguhkan yang lainnya yang manfaatnya tidak berpihak kepada kami,” kata Padilla kepada ABS-CBN News Channel.

Keretakan persekutuan tersebut meluas dalam beberapa pekan setelah Duterte meningkatkan serangan verbal terhadap siapa pun yang mengkritik kampanye brutal antinarkoba hingga menewaskan ribuan orang sejak Juli lalu.

Ada 28 latihan setiap tahun antara Filipina dan AS, termasuk tiga program latihan berskala besar. Marinir kedua belah pihak hingga Rabu melangsungkan latihan perang, termasuk pendaratan amfibi dan simulasi penembakan dengan peluru.

Sekitar 500 pegiat Filipina menggelar unjuk rasa di luar Istana Kepresidenan pada Sabtu untuk mendukung sikap Duterte yang anti-Amerika Serikat dengan mengusung slogan-slogan “Pasukan AS keluar” dan “Hapuskan imperialisme”.

“Kami punya presiden yang memikirkan kedaulatan nasional dan kepentingan nasonal serta tidak membungkuk kepada AS,” kata koordinator aksi, Renato Reyes.

Menteri Pertahanan Delfin Lorenzana, Jumat (7/10), mengatakan bahwa keputusan untuk menghentikan keikutsertaan patroli maritim akan diambil yang oleh juru bicaranya, Padilla, anggap lebih mudah dilaksanakan karena belum terlambat.

Angkatan Laut kedua negara telah melakukannya dua kali pada tahun ini, namun mereka berada dalam 12 mil laut wilayah perairan Filipina dan bukan di perairan yang disengketakan. Mereka tidak melakukan kesepakatan melakukan patroli bersama di Laut China Selatan.

Presiden AS Barack Obama sebulan yang lalu kecewa dengan menyatakan bahwa dia punya perhatian yang mendalam dengan membatalkan pertemuan bilateral jika pemimpin Filipina itu terus mencelanya.

Menandai 100 hari masa jabatannya pada Jumat, Duterte kepada AS menyatakan, “Jangan perlakukan kami seperti keset. Dia menentang Washington untuk mengerahkan agen intelijen CIA dengan menyatakan, “Anda ingin menggulingkan saya. Silakan!”

(Antara)

()