Jakarta, Aktual.com — Meskipun sikap pemerintah optimis menghadapi ekonomi Indonesia tahun 2016, sebagaimana yang pernah disampaikan oleh Presiden Joko Widodo dalam kata sambutannya pada saat Pembukaan saham perdana di tahun 2016, namun Anggota Badan Anggaran (Banggar) DPR, M Misbakhun, mewanti-wanti pemerintah terhadap kendala perekonomian yang menghadang di 2016.

Misbakhun mengatakan, penurunan harga komoditas ekspor Indonesia baik mineral maupun migas, kemudian ditambah harga komoditas minyak sawit (crude palm oil/CPO) dan karet yang telah cukup lama ajlok sangat memukul ekonomi Indonesia.

“Mineral, migas, harga komoditas minyak sawit (crude palm oil/CPO) dan karet menurun,” katanya, dalam siaran pers di Jakarta, Rabu (6/1).

Ia menyarankan agar pemerintah mengambil langkah sigap dengan memperkuat perekonomian domestik. Ia melihat potensi Indonesia dengan jumlah penduduk yang mencapai 255 juta jiwa akan memperkuat perekonomian dari sisi daya beli dan konsumsi.

“Potensi ini harus bisa dikelola dengan baik. Kemudahan investasi baru harus dipermudah sehingga banyak tercipta lapangan kerja baru,” tuturnya.

Selain itu, ia menekankan harus ada sinkronisasi kebijakan sektor fiskal dan moneter melalui realisasi pembangunan infrastruktur di seluruh pelosok penjuruh Tanah Air, untuk mendorong pertumbuhan sektor riil.

“Dengan demikian secara regional lahir daerah dan kawasan pertumbuhan ekonomi baru yang akan memberikan kontribusi secara agregat pada pertumbuhan ekonomi nasional,” pungkasnya.

(Arbie Marwan)