Jakarta, aktual.com – Ketua MPR RI Bambang Soesatyo meminta masyarakat bukan hanya memasyarakatkan nilai-nilai Pancasila, tapi juga harus mengaktualisasi dalam kehidupan sehari-hari.

“Pancasila harus menjadi nyata. Rakyat Indonesia harus merasakan bahwa dalam negara, Pancasila, segenap bangsa Indonesia, dan seluruh tumpah darah Indonesia merasa dilindungi dan maju dalam kesejahteraan,” kata Bambang Soesatyo dalam peringatan Hari Konstitusi dan HUT ke-77 MPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (18/8).

Menurut dia, penghapusan kemiskinan dan jaminan kesejahteraan rakyat harus menjadi prioritas dalam segala bentuk pembangunan. Dia menilai rakyat Indonesia harus dapat merasakan bahwa dalam negara, Pancasila dapat hidup secara terhormat, sejahtera, dan adil.

Peringatan Hari Konstitusi dan HUT ke-77 MPR RI merupakan wahana untuk melakukan refleksi diri dan melakukan proyeksi ke depan, katanya.

“Sebagai generasi pewaris, kita harus mampu memaknai bagaimana proses konseptualisasi MPR yang telah melintasi waktu melalui rangkaian perjalanan yang panjang,” jelasnya.

Perubahan kedudukan, wewenang, dan tugas MPR sebagai akibat perubahan Undang-Undang Dasar (UUD) Negara RI Tahun 1945, menurut dia, tidak mengurangi kehormatan MPR.

Dia mengatakan MPR RI, sebagai lembaga negara yang mengemban visi sebagai Rumah Kebangsaan, Pengawal Ideologi Pancasila, dan Kedaulatan Rakyat, tetap memiliki tugas mulia, yaitu membangun karakter bangsa melalui sosialisasi Pancasila, UUD Negara RI Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika.

“Sebagaimana telah diingatkan Bung Karno, bahwa kita sekarang ini berada dalam tingkatan kedua dari revolusi, yaitu tingkatan pembangunan nasional dan karakter, tingkat membina karakter bangsa,” tambahnya

Di masa kemerdekaan, lanjutnya, idealisme membumbung tinggi dan menyala-nyala dan rajawali Indonesia benar-benar menggaruda di sapta angkasa. Menurut dia, situasinya sangat berbeda pada masa nation and character bulding. Biasanya, katanya, idealisme agak luntur, sedangkan egosentrisme dan aku-sentrisme makin tumbuh.

“Tidak salah jika dikatakan bahwa kemiskinan terparah suatu bangsa bukan kemiskinan sumber daya, melainkan kemiskinan jiwa, kemiskinan karakter,” ujarnya.

Bambang Soesatyo mengatakan masyarakat wajib bersyukur karena para pendiri bangsa telah mewariskan nilai-nilai fundamental bangsa. Kelahiran dan proses perumusan Pancasila sebagai dasar negara, menurutnya, merupakan mercusuar tingginya tingkat pemahaman dan tingkat kebudayaan Indonesia.

(Antara)

(Rizky Zulkarnain)