Jakarta, Aktual.com – Majelis Ulama Indonesia (MUI) memperingatkan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) dan PBB untuk mengeluarkan Israel dari keaggotan PBB karena dikhawatirkan Presiden Donald Trump nekat membantu Israel menganeksasi Tepi Barat untuk mendapatkan dukungan Yahudi dalam pemilihan umum di Amerika Serikat (AS).

“Makanya kita warning agar Dewan Keamanan PBB dan PBB mengadakan pertemuan dan membahas supaya Israel dikeluarkan keanggotaannya dari PBB,” kata Wakil Ketua Umum MUI, KH Muhyiddin Junaidi, Kamis (2/7).

Kiai Muhyiddin mengatakan, kalau Israel dikeluarkan dari PBB, dia tidak akan ada lagi hubungan dengan negara-negara lain. Sehingga bila Israel tetap melakukan aneksasi terhadap wilayah Tepi Barat, maka anggota PBB akan marah dan mengucilkannya.

MUI juga mengingatkan DK PBB dan PBB agar mengajukan Israel ke meja hijau atau The International Court of Justice (ICJ) atau The International Criminal Court (ICC). Sebab Israel sudah memenuhi standar untuk dibawa ke sana, karena banyak sekali melakukan pelanggaran hukum yang begitu masif, terstruktur serta melakukan genosida.

Menurut Kiai Muhyiddin, Israel tidak bisa diajak bicara dengan damai, dia hanya bisa diajak bicara dengan bahasa militer dan kekerasan. Rencana aneksasi Israel atas wilayah Tepi Barat adalah bagian dari test the water untuk menganeksasi negara-negara lain di sekitarnya.

“Karena Israel punya Grand Design The Great Israel Raya, jadi Israel Raya itu meliputi Yordania, Suriah, Lebanon, dan sebagian wilayah Mesir,” imbuhnnya.

Kiai Muhyiddin menilai, kalau Israel berhasil menganeksasi wilayah Palestina di Tepi Barat, maka ke depan Israel akan melakukan ekspansi ke negara-negara tetangganya. Apalagi Yordania dianggap tidak memiliki kekuatan militer. Kalau Yordanisa sudah dikuasai maka dengan sendirinya Al Aqsa sepenuhnya ada di bawah kekuasaan Israel.

Sehubungan dengan itu maka semua gerakan dan organisasi dunia seperti Gerakan Non-Blok, G7, G20, Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan Liga Arab harus bersatu padu menekan Israel dan AS. Menurutnya, kalau AS tidak ditekan akan semakin semana-mena. Maka ini momentum terbaik untuk menekan AS agar tidak menerapkan double standard dalam masalah konflik Palestina dan Israel.