Jakarta, Aktual.com — Partai Golkar tidak lama lagi akan menggelar Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub), setelah didera konflik dan perpecahan hampir setahun lamanya.

Momentum Munaslub diharapkan menjadi ajang rekonsilisasi antara Kubu Aburizal Bakrie dan Agung Laksono demi menyongsong kesuksesan Partai Golkar menghadapi Pilkada Serentak 2017 dan Pemilu 2019.

“Memanasnya suhu politik menjelang Munaslub yang rencananya akan diselenggarakan pada akhir Maret 2016 nanti membuat publik bertanya apakah rekonsiliasi akan benar-benar terwujud? Atau justru Munaslub akan berujung dengan pecahnya Partai Golkar seperti pasca Munas Riau yang melahirkan Partai Nasdem?,” ujar Direktur Eksekutif Institut Proklamasi, Arief Rachman, dalam keterangan tertulisnya, Senin (22/2).

Setidaknya, kata dia, bibit-bibit percahan itu sudah mulai tampak. Pertama, adanya praktik money politics yang dilakukan oleh calon ketua umum di Sulawesi Utara. Kedua, beredarnyaa kabar intimidasi yang dialamai pengurus DPD II didaerah. Ketiga, munculnya klaim politik dari salah satu calon ketua umum yang mengaku didukung pemerintah untuk menjadi ketua umum.

Dari ketiga hal tersebut menunjukan bahwa pola meraih simpati dan dukungan dari peserta Munaslub masih sangat primitif dan jahilyah.

“Partai Golkar sebagai partai kader yang modern harus meninggalkan cara-cara primitif dan menghalalkan segala cara seperti itu. Karena akan membawa partai ke jurang kehancuran,” ucap dia.

Munaslub akan berhasil menyatukan kembali partai Golkar kalau caketum menghentikan praktik money politics, intiminasi pengurus DPD I & II serta tidak melacurkan diri pada pihak luar Partai Golkar.

Siapapun yang menang di Munaslub nanti harus dipastikan hasil pilihan segenap kader yang merdeka tanpa bujuk rayu uang dan tekanan dari pihak tertentu serta bekerja total mengurus partai demi kejayaan Golkar.

()