Petani memisahkan butiran padi usai panen di cibarusah, Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (29/8). Musim kemarau panjang menjadi duka bagi sejumlah petani Jawa Barat. Hasil panen padi tahun ini anjlok. Tak hanya itu, pasokan air tambahan di wilayah tersebut sulit didapat, karena sumber mata air sangat minim. Sejak kemarau melanda beberapa bulan lalu, padi yang dihasilkan dua kuintal dari sepuluh petak sawah. Padahal di musim penghujan, sawah yang digarap bisa menghasilkan sembilan kuintal padi. AKTUAL/TINO OKTAVIANO

Jakarta, Aktual.com — Musim kemarau yang terjadi di Kabupaten Rejanglebong, Provinsi Bengkulu sekarang ini menyebabkan 20 hektar persawahan di Kecamatan Kota Padang mengalami kekeringan. Wilayah persawahan yang mengalami kekeringan di Kecamatan Kota Padang tersebut akibat mengeringnya saluran irigasi tersier yang menjadi pemasok air ke sawah petani.

“Air di saluran irigasinya kering sehingga tidak bisa mengairi sawah petani. laporan sawah kekeringan ini baru terjadi di wilayah Kecamatan Kota Padang, sedangkan untuk daerah lainnya belum ada,” kata Kepala Dinas Pertanian Rejanglebong Harun Rasid saat dihubungi, Minggu (6/9).

Dia pun mengaku telah mengecek lokasi sawah kekeringan di wilayah itu dan telah akan memberikan bantuan berupa benih unggul, pupuk dan obat-obatan pertanian kepada petani setempat yang persawahannya kekeringan sehingga pada musim tanam selanjutnya tetap dapat bercocok tanam kembali.

Datangnya musim kemarau di daerah itu sejak beberapa bulan belakangan kata dia, mengakibatkan sejumlah lahan pertanian menunda penanaman padi serta adanya lahan pertanian yang diserang penyakit mentek atau tungro yang diakibatkan cuaca ekstrem dan kurangnya pasokan air.

Kendati terdapat areal persawahan yang gagal tanam dan sawah yang gagal panen, namun dirinya memperkirakan produksi beras Kabupaten Rejanglebong pada tahun ini tidak akan mengalami permasalahan mengingat pada musim tanam Oktober 2014 sampai dengan Maret 2015 belum memasuki musim kemarau.

“Untuk musim tanam pertama Oktober-Maret kemarin belum memasuki musim kemarau dan untuk musim tanam kedua April-September 2015, padi yang ditanam sudah berumur di atas dua bulan sehingga tidak terlalu banyak membutuhkan air sehingga masih bisa panen,” ujarnya.

Sementara itu menurut Kasman 55 tahun, petani di Desa Cawang Lama Kecamatan Curup Timur, saat ini kalangan petani di daerah itu baru akan melakukan penanaman. Musim tanam ini agak terlambat karena pembagian air irigasi di daerah itu dilakukan secara bergiliran.

“Airnya mulai menyusut sehingga pembagiannya dilakukan secara bergiliran, kalau sebelumnya bisa tanam serentak tapi musim tanam ini tampaknya tidak bisa dilakukan serentak,” ujarnya.

(Ant)

(Wisnu)