Jakarta, aktual.com – Sejumlah warga binaan atau narapidana Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Kelas IIA Cipinang, Jakarta Timur menghasilkan karya kerajinan tangan selama selama pandemi COVID-19 bernilai jual hingga jutaan rupiah.

“Karya ini kita buat di dalam penjara. Selama COVID-19 sejak Maret sampai sekarang, membuat kita lebih produktif selama menjalani masa tahanan,” kata salah satu warga binaan, Erik Ardian (25), di Lapas Narkotika Cipinang, Jumat siang.

Pria yang terjerat hukum penyalahgunaan narkoba sejak 2018 itu memiliki kemampuan memintal benang menjadi karya kerajinan tangan kaligrafi bernilai jutaan rupiah.

Salah satunya adalah kaligrafi yang dibuat menggunakan pintalan benang pada kerangka yang dibuat dengan rangkaian paku kecil.

Dengan teliti, Erik menancapkan ribuan paku menggunakan media kayu seukuran 100 x 50 sentimeter sebagai kerangka kaligrafi.

Kemudian pada bagian paku dipintal benang hingga membentuk kaligrafi Allah dan Muhammad.

“Lama pekerjaan tergantung model, paling lama sepekan untuk bentuk paling rumit,” katanya.

Erik menyebutkan salah satu karyanya bersama seorang rekan warga binaan bernama Dedi (44) berhasil terjual Rp1 juta hingga Rp2,5 juta per bingkai.

“Pernah dibeli sama Pak Yasonna Laoly pada tahun lalu Rp1 jutaan. Ada juga yang dipasarkan via Koperasi Lapas Cipinang Jeera sampai Rp2,5 juta,” katanya.

Saat ini Erik sedang mencoba membuat miniatur monas dan rumah gadang yang saat ini prosesnya masih dalam bentuk kerangka.

Selama pandemi COVID-19, Erik dan Dedi berhasil membuat 12 karya kaligrafi dari balik penjara yang kini dipasarkan melalui koperasi ke pasaran.

Uang hasil transaksi pembelian produk tersebut digunakan untuk pengadaan modal serta pembayaran pajak kepada negara.

Sementara sisanya dipergunakan Erik untuk membeli kebutuhan di koperasi, seperti makanan dan minuman serta kebutuhan lainnya.

Kepala Lapas Narkotika Kelas IIA Cipinang, Oga Darmawan, mengatakan produk yang dihasilkan Erik dan rekanya merupakan salah satu klaster pembinaan kemandirian yang difasilitasi lapas bersama otoritas terkait di Jakarta.

“Ada banyak pelatihan kemandirian bagi warga binaan, seperti beternak, memperbaiki AC, barista, konveksi, berseni musik dan sebagainya,” katanya.

Dikatakan Oga, kemandirian warga binaan disalurkan melalui Koperasi Jeera yang kini tersebar di sejumlah kawasan di Jakarta di antaranya berada di kawasan wisata Kota Tua, dan Taman Senopati.

“Bentuknya kafe. Produk warga binaan ini kita pamerkan di sana dan bahkan keterampilan mereka akan kita rekrut sebagai pegawai di Jeera selepas mereka bebas,” katanya.

(Zaenal Arifin)