Jakarta, Aktual.co — Nelayan di Kabupaten Jembrana, Bali, bersyukur dan berpesta dengan melakukan ritual petik laut atau sedekah laut yang diisi dengan melakukan doa serta hiburan. 
Pantauan di Desa Pengambengan, yang menjadi sentra perikanan tangkap di Jembrana, Sabtu (8/11), ritual sedekah laut dilakukan tiga kali masing-masing di Pelabuhan Perikanan Nusantara, mulai Jumat (7/11) malam hingga Sabtu malam, disusul nelayan di Kampung Kedunen, Dusun Munduk, Minggu (9/11) dan terakhir di Dusun Ketapang Muara, oleh perahu Bintang Group, yang merupakan usaha perahu terbesar di desa tersebut.
“Sedekah laut ini dilakukan setiap tahun pada bulan Muharam dalam kalender Islam. Meskipun sedang paceklik ikan, kegiatan tersebut tetap dilaksanakan,” kata Bisri, salah seorang tukang panggung atau nahkoda perahu.
Menurutnya, ritual dilakukan sebagai wujud rasa syukur masyarakat nelayan, terhadap hasil tangkap yang mereka peroleh, serta berharap ikan segera melimpah saat musim paceklik.
Ia juga mengungkapkan, sedekah laut tidak selalu harus terpisah-pisah, karena beberapa kali juga dilakukan bersama-sama yang biasanya dipusatkan di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pengambengan.
“Mungkin sedekah laut yang sekarang dipisah-pisah, karena hasil tangkapan tiga bulan terakhir melimpah, sehingga masing-masing nelayan membuat kegiatan di dusun masing-masing,” ujarnya.
Ali Usman, seorang anak buah perahu mengatakan, ritual sedekah laut sudah menjadi semacam kewajiban tidak tertulis bagi nelayan, yang dalam situasi apapun akan dilakukan.
Selain berisi pengajian dan doa-doa yang merupakan acara inti, hiburan seperti konser dangdut biasanya juga diadakan setelahnya.
“Maksudnya biar nelayan serta seluruh warga terhibur, dan melepas penat sejenak setelah terus melaut. Mudah-mudahan ikan terus ada,” katanya.
Bagi armada perahu dengan jumlah banyak seperti Bintang Group, pemiliknya membagikan berbagai hadiah kepada anak buahnya, serta kuliner gratis.
Sekitar dua tahun terakhir, hasil tangkap nelayan yang rata-rata beroperasi di Selat Bali dengan perahu tradisional menurun drastis.
Seringkali mereka berangkat melaut, pulang tidak membawa hasil tangkapan, sehingga banyak nelayan sementara waktu mencari pekerjaan lain.
Akibat paceklik yang cukup panjang tersebut, suasana Pelabuhan Perikanan Nusantara Pengambengan, menjadi sepi yang biasanya dipenuhi ribuan orang.
Saat tangkapa melimpah seperti sekarang, pelabuhan tersebut kembali ramai dengan ribuan orang yang mencari nafkah dari ikan, mulai awak perahu, makelar ikan, hingga warga yang memunguti ikan yang jatuh saat diangkut dari perahu ke penimbangan.
“Orang yang memunguti ikan dari perahu ke penimbangan, bisa mendapatkan hasil Rp200 ribu setiap hari. Pokoknya kalau ikan banyak seperti ini, suasana menjadi meriah,” kata Kariono, seorang warga setempat.
Informasi yang diperoleh, saat tangkapan ikan melimpah, perputaran uang di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pengambengan, bisa mencapai miliaran rupiah setiap hari.

()