Ilustrasi: Aktivitas Petani Mengambil Gabah/ANTARA
Ilustrasi: Aktivitas Petani Mengambil Gabah/ANTARA

Jakarta, Aktual.com – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai tukar petani (NTP) pada Oktober 2021 sebesar 106,67 atau naik 0,93 persen dibandingkan September 2021 sebesar 105,68.

“Kalau kita perhatikan, hampir seluruh subsektor mengalami kenaikan nilai tukar petaninya, kecuali subsektor peternakan,” kata Kepala BPS Margo Yuwono dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (1/11).

Margo mengatakan kenaikan NTP pada Oktober 2021 disebabkan kenaikan indeks harga hasil produksi pertanian lebih tinggi dibandingkan kenaikan indeks harga barang dan jasa yang dikonsumsi rumah tangga maupun biaya produksi dan penambahan barang modal.

Menurut dia, kenaikan NTP Oktober 2021 dipengaruhi oleh naiknya NTP di empat subsektor pertanian, yaitu tanaman pangan sebesar 0,59 persen, tanaman hortikultura sebesar 0,81 persen, tanaman perkebunan rakyat sebesar 2,01 persen, dan perikanan sebesar 0,32 persen.

Sementara itu, NTP pada subsektor peternakan mengalami penurunan sebesar 0,16 persen.

“NTP di subsektor peternakan mengalami penurunan disebabkan oleh menurunnya harga telur ayam ras, ayam ras petelur, dan babi,” ujarnya.

Adapun secara nasional, NTP Januari-Oktober 2021 lebih tinggi 2,61 persen dibandingkan periode yang sama 2020.

Perubahan tertinggi terjadi pada subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 15,51 persen.

NTP Januari-Oktober 2021 tertinggi terjadi pada subsektor tanaman perkebunan rakyat yakni sebesar 118,98 dan terendah terjadi pada tanaman pangan yakni sebesar 97,91.

Margo menambahkan, dari 34 provinsi, sebanyak 28 provinsi mengalami kenaikan NTP dan 6 provinsi mengalami penurunan NTP.

Kenaikan NTP tertinggi pada Oktober 2021 terjadi di Provinsi Bengkulu, yaitu 2,94 persen, sedangkan penurunan NTP terbesar terjadi di Provinsi Gorontalo sebesar 1,21 persen.

“Kenaikan tertinggi NTP di Provinsi Bengkulu disebabkan oleh kenaikan pada tanaman perkebunan rakyat sebesar 5,09 khususnya komoditas kelapa sawit,” pungkasnya.

(A. Hilmi)