Jakarta, aktual.com – Abu Lahab adalah orang yang pertama yang menentang dakwah jahr (terang-terangan) nabi Muhammad saw, ketika nabi Muhammad diperintahkan oleh Allah swt untuk berdakwah secara terang-terangan, nabi langsung naik ke atas bukit shafa dan menyeru bani fihr dan bani ‘adi, agar berkumpul di bukit shafa, ketika mereka berkumpul, nabi langsung mengatakan kepada mereka “saya adalah pemberi peringatan dan dihadapan kalian ada siksa yang sangat pedih”. Lalu Abu Lahab berkata kepada nabi Muhammad saw, “celakalah kau, hannya untuk ini sajakah kau kumpulkan kami semua?” kemudian Allah-lah yang membalas perkataan Abu Lahab dengan diturunkannya surat al-Lahab.

Dahulu Abu Lahab, sewaktu keponakannya (nabi Muhammad) dilahirkan, ia merasa bahagia. Abu Lahab merasa bahagia ketika mendapatkan kabar dari Tsuaibah (budak perempuan Abu Lahab), bahwa siti Aminah sudah melahirkan seorang anak, dan karena sangat bahagianya, akhirnya Tsuaibah di merdekakan oleh Abu Lahab. Sebab bahagia tersebut, Allah meringankan siksa Abu Lahab setiap hari senin, sebagaimana dijelaskan dalam kitab al-Dakhair al-Muhammadiyah

Imam Muhammad bin Nasir mengatakan “Abu Lahab saja yang non muslim bahkan ia dicela didalam al-Qur’an dalam surat al-Lahab, ia diringankan siksanya setiap hari senin sebab berbahagia dengan kelahiran nabi Muhammad, maka bagaimana balasannya, bagi seorang hamba yang setiap hari ia senang dengan nabi muhammad dan meninggal dalam keadaan islam”.

Berbahagian dengan nabi muhammad itu di perintahkan Allah swt, “Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. [QS.Yunus:58]. Abuya sayyid Muhammad menyatakan bahwa nabi Muhammad saw adalah rahmat terbesar dari Allah swt.

Artinya senang dengan kelahiran nabi Muhammad adalah sangat dianjurkan dalam islam dan memiliki manfaat yang besar dalam kehidupan dunia dan akhirat, sebagaimana Abu Lahab yang non muslim mendapatkan kemanfaatan dengan diringankan siksanya di akhirat, bahkan Tsuaibah mendapatakan kemerdekaan sebab hanya memberitakan lahirnya seorang bayi (nabi Muhammad saw). [Eko Priyanto]

 

(Zaenal Arifin)