Hutang luar negeri. (ilustrasi/aktual.com)

Jakarta, Aktual.com – Kondisi keuangan tiga bank BUMN terbesar kian mengkhawatirkan. Hal ini dilihat dari rasio kredit macet (NPL) dan utang ketiga bank yang terus meninggi. Kondisi ini sebagai akibat mengikuti keinginan pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) untuk membangun infrastruktur.

Menurut pengamat ekonomi politik Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Salamuddin Daeng, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, baru-baru ini berencana akan menjual aset mereka hanya untuk menangani utang mereka yang besar.

“Kebijakan itu dilakukan, karena adanya kegagalan investasi kepada para taipan yang dibiayainya di sektor tambang,” jelas Daeng kepada Aktual.com, Jumat (2/6).

Kondisi seperti itu, kata dia, membuat keuntungan perusahaan jatuh hampir separuh pada 2016 lalu dibandingkan tahun 2015. Bahkan NPL bank ini sangat buruk yakni berada pada posisi 4 persen per April 2017 lalu.

“NPL tinggi karena adanya pemberian pinjaman dari China itu dikucurkan ke debiturnya karena untuk membeli saham Newmont Nusa Tenggara,” jelasnya.

Sementara, PT BRI (Persero) Tbk memiliki utang paling besar dari jajaran bank pelat merah itu yakni mencapai Rp83,783 triliun dengan Rp220 triliun lebih pemegang saham yang sebagian besar adalah asing. NPL perusahaan sangat buruk mencapai 5,61 persen.

“Tampak sekali bank ini hendak dibangkrutkan untuk dijual kepada asing dan taipan,” kata dia.

(Ismed Eka Kusuma)