Kalau kita membahas bisnis kosmetika halal, kita tak bisa mengabaikan nama Nurhayati Subakat. Dengan merek utama Wardah Cosmetics, Nurhayati dikenal sebagai pelopor kosmetika halal di Indonesia. “Wardah” berarti bunga mawar dalam bahasa Arab.

World Halal Council telah menobatkan Wardah sebagai pelopor brand kosmetika halal dunia sejak 1999. Kesuksesan lain, Wardah adalah merek Indonesia pertama yang masuk dalam kategori Global Fastest Growing Brand 2014-2015, berdasarkan laporan Euromonitor International in Cosmetics Paris 2016.

Nurhayati lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat, 27 Juli 1950. Ia adalah seorang pengusaha kosmetik asal Indonesia. Dia merupakan pendiri PT Pusaka Tradisi Ibu yang kini telah berubah menjadi PT Paragon Technology and Innovation (PTI), yang mengelola merek kosmetik Wardah, Make Over, dan perawatan rambut Putri dan IX.

Nurhayati merupakan putri kedua dari delapan bersaudara, yang berasal dari Minangkabau. Ia menghabiskan masa kecilnya di kota kelahiran, Padang Panjang. Seusai menamatkan sekolah Diniyah Putri, ia kemudian pindah ke Padang. Di sini, sambil bersekolah ia juga membantu usaha orang tuanya.

Setelah itu ia melanjutkan pendidikannya di Jurusan Farmasi, Institut Teknologi Bandung (ITB). Apoteker ITB itu lulus dan mendapat predikat lulusan terbaik pada 1976.

Nurhayati memulai kariernya sebagai apoteker di Rumah Sakit Umum Padang. Kemudian ia pindah ke Jakarta dan bekerja di perusahaan kosmetik Wella, sebagai staf quality control. Dari sinilah ia mencoba berinsiatif untuk berbisnis sendiri.

Pada 1985, ia memulai usahanya dari industri rumahan dengan memproduksi sampo bermerek Putri. Sukses membesut produk pertama, ia mendirikan pabrik di Cibodas dan Tangerang. Selain sampo, kini produk-produknya juga mencakup perawatan kulit, dan perlengkapan make-up.

Selama 10 tahun, Nurhayati fokus pada bisnis produk perawatan rambut. Lantas, pada 1995 barulah kosmetik halal dengan merek Wardah muncul. Ide membuat produk kosmetik datang dari komunitas Nurhayati di Pesantren Hidayatullah.

Awalnya sangat sulit memasarkan produk kosmetik halal. “Bahkan saya merasa produk halal ini tidak akan diterima di masyarakat. Pasalnya, ketika saya pasarkan di beberapa pesantren, antusiasme terhadap produk ini sangat minim,” ujar Nurhayati.

Untuk mendapatkan distributor, ia butuh waktu yang tidak sebentar. Maklum, saat itu, pengguna produk kosmetik tidak sebanyak sekarang. Apalagi, kosmetik yang berlabel halal merupakan hal baru. Banyak orang yang tidak bisa menerima produk Wardah.

Untuk beberapa lama, Wardah sempat dipasarkan dengan metode direct selling atau multi-level marketing. Cara ini berlangsung selama beberapa tahun. Namun, seiring bertambahnya gerai kosmetik yang menjual produk Wardah, metode ini pun ditinggalkan.

Sejak 2003, Nurhayati mulai melakukan perubahan. Misalnya dengan menghadirkan kemasan baru untuk menarik minat pembeli. Untuk meningkatkan brand awareness, Wardah menggunakan jasa brand ambassador, seperti Marissa Haque dan Inneke Koesherawati.

Kemudian, pada 2006, proses rebranding Wardah pun berlangsung. Promosi semakin gencar. “Tetapi, harus saya akui, baru pada 2009, merek Wardah melejit. Ini didukung oleh kehadiran fenomena hijab dan hijabers. Pada saat bersamaan, saya pun melakukan re-launching Wardah dengan produk Wardah New Look,” ujar Nurhayati kepada tabloid “Kontan.”

Dengan segudang prestasinya, Nurhayati terpilih sebagai salah satu penerima penghargaan Tokoh Perubahan Republika 2016. Dari industri rumahan dengan karyawan dua orang, kini PTI yang didirikan Nurhayati sudah memiliki sekitar 7.500 karyawan. Lahan awal seluas 350 meter persegi tempat produksi pada 1985 kini berkembang menjadi area pabrik seluas 15 hektare.

Produk Wardah sudah berjaya memberdayakan umat. Nurhayati menyebutkan kunci kesuksesannya, yakni selalu berinovasi dan memasrahkan segala urusan kepada Allah. “Kalau orang-orang pakai strategi pemasaran mix marketing 4P, yaitu product, price, promotion, dan place, saya tambahkan ‘P’ kelima, pertolongan Allah,” tutur Nurhayati.

Ketua Umum Persatuan Perusahaan Kosmetik Indonesia (PERKOSMI) Pusat itu berharap, keberhasilan Wardah dan PTI semakin berdampak luas bagi pengembangan ekonomi umat. Ia pun kerap menularkan virus semangat ke umat Islam lewat berbagai ceramah, bahwa siapa saja bisa sukses asal konsisten kerja keras dan bekerja baik.

Tentang persaingan dengan produk luar, Nurhayati menegaskan, produk kosmetika lokal siap bersaing di kancah global. Hal tersebut telah ia buktikan lewat bisnis kosmetika yang dibangun di bawah bendera PTI. “Produk karya anak bangsa bisa bersaing dan siap jadi raja di negeri sendiri,” ujarnya.

Nurhayati beranggapan, pemerintah tidak perlu lagi memberikan insentif untuk menarik investor dari luar negeri. Insentif yang diperlukan cukup pada industri hulu saja, alih-alih industri hilir kosmetik.

Tentang keberhasilannya, Nurhayati mengatakan, itu takkan didapat tanpa kerja sama tim solid yang menyokongnya sejak 1985. Pada 20 tahun pertama bisnisnya, Nurhayati mengungkap, amat banyak kejadian jatuh bangun perusahaan. Namun, ia selalu yakin pertolongan Allah selalu ada sehingga ia bersemangat untuk kembali bangkit.

Ibu tiga anak tersebut mengaku bangga sekaligus tertantang dengan penghargaan yang didapatkan. Meski sukses mengubah peta kosmetik Indonesia dan menjadi trend setter, Wardah ingin terus tumbuh dan berkembang bersama konsumen.

“Salah satu visi perusahaan kami adalah terus berkembang mengadakan perubahan, membuat produk berkualitas yang lebih baik lagi,” tuturnya. Menjadi pengusaha dan memimpin perusahaan sejatinya bukan impian Nurhayati. Namun, setelah beberapa tahun bekerja di dunia farmasi, ia ingin menyelaraskan kehidupan keluarga dengan karier. ***

()