Jakarta, aktual.com – Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar menilai ketegangan geopolitik antara Rusia dan Ukraina tidak akan selesai dalam satu dekade sehingga perlu diantisipasi dampaknya bagi perekonomian Indonesia.

“Kita tahu ada eskalasi ketegangan geopolitk yang berkepanjangan dan mungkin saya melihat, mendengar, dan mungkin agak menyetujui ketegangan geopolitik ini mungkin tidak akan selesai kurang dari sepuluh tahun. Itu yang kita harus digest (cerna),” ujar Mahendra dalam CEO Networking 2022 di Jakarta, Kamis (24/11).

Mahendra menyampaikan, pertemuan bersejarah di Bali dua minggu lalu yang difasilitasi oleh Presidensi G20 Indonesia memang menunjukkan bahwa kontribusi Indonesia yang luar biasa. Kendati demikian di lain pihak, lanjut Mahendra, berharap bahwa ketegangan geopolitik akan mereda dalam waktu dekat dinilai masih terlalu awal untuk bisa dijadikan ekspektasi pada saat ini.

“Jadi saya sarankan itu lebih baik kita pakai sebagai the new reality setidaknya sepuluh tahun ke depan dan tentu akibatnya rantai pasok dunia dan juga sistem logistik sangat terganggu. Semua terganggunya karena pandemi, karena lockdown, kekurangan pasokan armada pengapalan, pelabuhan dan sebagainya, sekarang sudah mulai bergerak pada persoalan sistem logistik dan rantai pasok dunia yang disebabkan oleh persaingan dan ketegangan geopolitik,” kata Mahendra.

Menurut Mahendra, banyak rantai pasok dan sumber produksi yang selama ini tergantung dari satu negara, ingin dipindahkan ke negara lain bukan karena pertimbangan komersial atau pertimbangan efisiensi, tapi lebih karena pertimbangan poolitik.

“Geopolitiknya sendiri kita tidak berharap dalam sepuluh tahun akan selesai, tapi implikasinya ini harus kita perhitungkan karena sudah bukan lagi fenomena tapi sudah dalam suatu kerangka pemikiran dan perumusan keputusan politik yang baru yang sebelumnya sama sekali kita tidak kenal,” ujar Mahendra.

Mahendra mengatakan, ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina merupakan salah satu penyebab terjadinya ketidakpastian ekonomi global yang kompleks atau disebut The Perfect Storm.

Penyebab lainnya yaitu agresivitas normalisasi kebijakan bank sentral Amerika Serikat The Federal Reserve (The Fed) dalam menaikkan tingkat suku bunganya yang berimplikasi kepada pengetatan likuiditas yang luar biasa.

“Ini akan berlanjut dan kita harus mengantisipasi terus dengan baik karena bisa dikatakan ini di luar dari kendali negara lain, termasuk Indonesia,” kata Mahendra.

Penyebab terakhir yaitu melesunya perekonomian di negara-negara maju. Mahendra menuturkan, The Perfect Storm semakin kelihatan kemungkinannya menuju kondisi stagflasi. Di beberapa negara hal itu sudah terjadi di mana inflasinya mencapai rekor tertinggi dalam 40-50 tahun terakhir.

“Bahkan negara seperti Inggris bisa double digit inflation yang untuk Indonesia saja mungkin 15 tahun terakhir sudah tidak ada dan di lain pihak mengalami pertumbuhan yang negatif. Jadi sebenarnya stagflation di beberapa negara seperti Inggris bukan perkiraan di tahun depan, tapi sedang mereka alami,” ujar Mahendra.

(Antara)

(Rizky Zulkarnain)