OJK
Ilustrasi logo OJK

Jakarta, Aktual.com – Otoritas Jasa Keuangan ( OJK ) mencatat sejak Desember 2021, pertumbuhan kredit UMKM terus melampaui level pra pandemi Covid-19. Per Juli 2022, kredit UMKM tumbuh signifikan yakni 18,08 persen secara tahunan.

Kini porsi kredit UMKM terhadap total kredit lebih tinggi dibandingkan sebelum pandemi. Total kredit UMKM per Juli 2022 mencapai Rp 1.299,4 triliun atau 21 persen dari total kredit perbankan.

Hal ini dipaparkan Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI pada hari ini (31/8).

Mahendra menjelaskan, seiring dengan pertumbuhan kredit tersbeut, sektor UMKM juga mencatatkan penurunan restriksi kredit kredit Covid-19. Pada Juli 2022 restrukturisasi kredit UMKM sisa Rp 196,46 triliun, menurun dari bulan sebelumnya yang masih sebesar Rp 204,1 triliun.

“Secara umum restukturisasi total, diikuti juga dengan restrukturisasi UMKM di puncaknya mencapai Rp 335 triliun. Saat ini berada di bawah Rp 200 triliun, ini menunjukkan cukup besar UMKM yang telah menyelesaikan program restukturisasi,” jelasnya.

Segmen UMKM memiliki porsi restrukturisasi yang paling besar yaitu Rp 78,2 triliun atau 14 persen dari total restrukturisasi UMKM.

Kemudian secara agregat total kredit kualitas rendah atau kolektabilitas 2 hingga kolektabilitas 5 turun menjadi Rp 120,4 triliun dibandingkan Juni 2022 yang masih Rp 124,3 triliun.

Dari total kredit kualitas rendah tersebut, sebanyak Rp 48,6 triliun antara lain adalah UMKM, dengan porsi terbesar dari UMKM kecil.

Dia mengatakan, sektor akomodasi dan makanan-minuman (mamin) di UMKM memiliki porsi restruktruisasi kredit Covid-19 yang terbesar, yaitu 14,18 persen.

Tidak hanya itu, sektor akomodasi dan mamin di UMKM ini besaran kredit macetnya (non performing loan/NPL) juga berada di atas batas 5 persen.

“Sektornya juga tidak berbeda dari sektor yang terjadi di seluruh program restrukturisasi yaitu akomodasi dan mamin,” kata Mahendra.

 

(Arie Saputra)