17 April 2026
Beranda blog Halaman 102

Momentum Idulfitri 1447 H Pererat Kebersamaan Demi Bangun Indonesia yang Lebih Baik

Ketua DPR RI Dr. (H.C.) Puan Maharani. Aktual/DOK DPR RI

Jakarta, aktual.com – Ketua DPR RI Dr. (H.C.) Puan Maharani menyampaikan selamat Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah kepada seluruh masyarakat Indonesia. Ia berharap momen Lebaran 2026 dapat mempererat kebersamaan bangsa, demi membangun Indonesia yang lebih baik.

“Selamat Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah. Minal Aidin Wal Faizin, mohon maaf lahir dan batin,” kata Puan dalam keterangan tertulisdi Jakarta, Jumat (20/3/2026).

Puan pun mengajak umat Muslim untuk menyambut Hari Kemenangan dengan sukacita setelah sebulan lamanya menjalankan ibadah puasa.

“Ramadan telah menempa diri kita, membersihkan jiwa dan menjernihkan hati,” ungkap perempuan pertama yang menjabat sebagai Ketua DPR RI itu.

“Kini, Idulfitri hadir membawa kita kembali pada kesucian diri. Di Hari yang fitri ini, marilah kita saling membukan pintu maaf,” imbuh Politisi Fraksi PDI-Perjuangan itu.

Meski ada perbedaan Hari Raya Idulfitri, Puan mengajak semua pihak untuk terus menjaga kebersamaan dan selalu membangun toleransi.

Seperti diketahui, Pemerintah resmi menetapkan Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah atau Lebaran 2026 pada Sabtu (21/3). Sementara Muhammadiyah menetapkan awal bulan Syawal 1447 H jatuh pada hari ini.

“Mari kita mempererat kebersamaan, dan memperkuat semangat gotong royong demi membangun Indonesia yang lebih baik,” tutur Puan.

Puan juga mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk memperkuat kepedulian dan kebersamaan.

“Di momen Idulfitri ini, mari kita meningkatkan rasa empati kepada sesama, terutama bagi mereka yang kekurangan dan membutuhkan,” ujarnya.

Puan pun menilai aksi kepedulian sangat penting, apalagi dunia tengah dilanda berbagai dinamika geopolitik yang mempengaruhi stabilitas ekonomi global termasuk perekonomian Indonesia. Ia juga mendorong Pemerintah untuk semakin peka dalam memperjuangkan kesejahteraan rakyat.

“Rakyat masih terus menaruh harapan besar agar negara hadir, khususnya di saat-saat rakyat paling membutuhkan,” tegas Puan.

Lebih lanjut, Puan meminta Pemerintah memastikan kelancaran momen Idulfiitri.

“Mulai dari kelancaran umat Muslim dalam merayakan Hari Idul Fitri, kelancaran transportasi dan semua infrastruktur arus mudik-arus balik, hingga kepastian keamanan dan kenyamanan masyarakat saat libur Lebaran,” paparnya.

Kepada seluruh rakyat Indonesia, Puan mengucapkan selamat bersilaturahmi bersama keluarga di momen libur Lebaran 2026.

“Semoga seluruh umat Muslim menyambut Hari Kemenangan dengan gembira. Dan bagi seluruh masyarakat, selamat berkumpul dengan keluarga di momen libur Lebaran ini,” tutup Puan.

Artikel ini ditulis oleh:

Tino Okt

Tuai Kritik, Pola Perang Zionis Israel Sasar dan Bunuh Elite Iran

Ilustrasi - Rudal balistik Iran. ANTARA/Anadolu/py/am.

Strategi Israel yang secara langsung menargetkan elite Iran dalam konflik yang terus meningkat kini menjadi sorotan para pengamat internasional. Serangan yang menewaskan Ali Larijani pada 17 Maret 2026 dinilai bukan sekadar operasi militer, tetapi bagian dari pergeseran pola perang yang lebih agresif dan berisiko tinggi.

Sejumlah laporan menilai bahwa, “menargetkan pimpinan tertinggi dapat mengganggu struktur komando, tetapi juga berisiko memicu eskalasi yang tidak terkendali.”

Pendekatan yang dikenal sebagai decapitation strike ini dinilai memiliki konsekuensi serius. Akademisi dari Johns Hopkins University, Vali Nasr, menilai bahwa konflik Iran–Israel telah memasuki fase baru yang lebih berbahaya. Ia menekankan bahwa kawasan ini sedang bergerak menuju fase konfrontasi yang lebih berbahaya,” yang menandai meningkatnya risiko benturan terbuka antarnegara.

Pandangan serupa disampaikan Fawaz Gerges dari London School of Economics. Ia menilai bahwa serangan terhadap tokoh kunci Iran berpotensi memperluas konflik di kawasan. Dalam pengamatannya disebutkan bahwa, ini dapat memperluas konflik melampaui batas yang ada saat ini,” terutama dengan keterlibatan tidak langsung Amerika Serikat yang semakin memperumit dinamika geopolitik.

Sementara itu, Rosemary Kelanic dari University of Notre Dame menyoroti keterbatasan strategi tersebut. Ia menyatakan bahwa “strategi pemenggalan kepemimpinan jarang menghasilkan hasil politik jangka panjang,” yang menunjukkan bahwa dampaknya cenderung sementara dan tidak menyelesaikan akar konflik.

Analisis lain juga menyoroti potensi efek berantai dari strategi tersebut. Serangan terhadap pejabat tinggi dinilai dapat memicu respons yang lebih luas dari Iran dan sekutunya. Dalam sejumlah laporan disebutkan, “serangan semacam ini dapat memicu pembalasan yang lebih luas di seluruh kawasan,” yang memperbesar risiko konflik regional yang sulit dikendalikan.

Di tengah kritik tersebut, Israel tetap mempertahankan pendekatan militernya. Namun, sorotan internasional menunjukkan bahwa langkah ini tidak hanya dinilai sebagai strategi militer, tetapi juga sebagai ujian terhadap batas-batas hukum dan norma dalam konflik modern. Sejumlah pengamat menilai bahwa “penargetan terhadap kepemimpinan politik menantang norma yang selama ini berlaku dalam hubungan internasional,” yang mengindikasikan adanya pergeseran dalam praktik perang kontemporer.

Artikel ini ditulis oleh:

Andry Haryanto

Muhammadiyah: Beda Lebaran Bukan Soal Taat atau Tidak

Ilustrasi - Bendera Muhammadiyah

Perbedaan penetapan 1 Syawal 1447 Hijriah kembali terjadi antara pemerintah dan Muhammadiyah. Namun, Ketua PP Muhammadiyah Muhadjir Effendy meminta publik tidak memandang perbedaan itu sebagai sesuatu yang perlu dipertentangkan.

Di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Jakarta Pusat, Muhadjir menegaskan bahwa kedua pihak memiliki dasar yang sama-sama kuat dalam menentukan awal Idulfitri. Perbedaan yang muncul, menurutnya, semata-mata terletak pada pendekatan metode yang digunakan.

“Perbedaan ini sudah biasa. Jangan diartikan sebagai ketidaktaatan. Yang lebaran hari ini maupun besok, keduanya tetap taat kepada pemerintah,” ujar Muhadjir, Jumat (20/3/2026).

Ia menjelaskan, Muhammadiyah kini menggunakan pendekatan baru melalui Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Sistem ini tidak lagi membatasi penentuan hilal pada wilayah tertentu, melainkan berlaku secara global sebagai satu kesatuan kalender umat Islam.

Pendekatan tersebut, kata dia, merupakan hasil pembaruan (tajdid) dalam metode penentuan kalender Hijriah. Jika sebelumnya konsep wujudul hilal lebih bersifat lokal, kini Muhammadiyah mengadopsi sistem yang mempertimbangkan posisi hilal secara global.

“Sekarang wujudul hilal tidak hanya untuk Indonesia, tapi berlaku untuk seluruh dunia,” kata Muhadjir.

Ia juga menyebutkan bahwa kalender Hijriah global tersebut telah mendapat pengakuan internasional dan diratifikasi oleh lebih dari 10 negara. Muhammadiyah sendiri mulai menerapkan KHGT sejak Juni 2025.

Dalam konteks itu, Muhadjir mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak pada perdebatan yang berulang setiap tahun. Baginya, perbedaan penetapan hari raya merupakan bagian dari dinamika ijtihad dalam Islam, bukan sumber perpecahan.

Sementara itu, pemerintah melalui sidang isbat yang digelar pada Kamis (19/3/2026) menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Keputusan tersebut didasarkan pada hasil pemantauan hilal di berbagai titik di Indonesia.

Dengan dua metode yang berbeda, Muhadjir menilai masyarakat seharusnya bisa melihat perbedaan ini sebagai ruang keberagaman, bukan konflik.

Artikel ini ditulis oleh:

Andry Haryanto

Bila Zionis Netanyahu Mati, Israel di Persimpangan Jalan

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. ANTARA/Xinhua/am.

Spekulasi soal kemungkinan matinya Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di tengah konflik membuka pertanyaan besar tentang arah politik Israel. Analis politik dan militer Universitas Nasional (UNAS), Dr. Selamat Ginting, menilai skenario itu akan menjadi titik krusial yang menentukan wajah Israel ke depan.

“Kematian pemimpin di tengah konflik selalu menghadirkan ketidakpastian sekaligus percepatan sejarah,” ujar Selamat dalam keterangan tertulis diterima Aktual.com, Jumat (20/3/2026).

Secara sistem, Israel memiliki mekanisme cepat untuk mengisi kekosongan melalui kabinet atau parlemen (Knesset). Namun persoalan utamanya bukan sekadar prosedur, melainkan siapa figur yang mampu mengonsolidasikan kekuatan di tengah koalisi yang rapuh dan polarisasi politik yang tajam.

Sejumlah nama mencuat. Menteri Pertahanan Yoav Gallant dinilai kuat dalam konteks perang. Yair Lapid mewakili kubu moderat, sementara Benny Gantz sering dilihat sebagai figur kompromi antara kekuatan militer dan sipil.

“Ini bukan hanya soal siapa pengganti, tapi arah negara akan dibawa ke mana,” kata Selamat.

Ia melihat dua skenario besar. Dalam jangka pendek, pendekatan militer hampir pasti menguat, terutama jika kematian Netanyahu terkait serangan eksternal. Dalam logika keamanan, kehilangan pemimpin saat perang dipandang sebagai ancaman langsung terhadap negara.

“Respons Israel cenderung keras. Politik sipil akan mengikuti ritme militer,” ujarnya.

Konsekuensinya, operasi militer berpotensi meluas dan meningkatkan risiko konflik regional, termasuk dengan Iran, Hezbollah di Lebanon, hingga Gaza.

Namun di balik itu, ada peluang perubahan. Ketiadaan figur dominan seperti Netanyahu bisa membuka ruang konsolidasi politik baru dan pendekatan lebih diplomatis.

“Figur moderat bisa muncul, tapi itu sangat tergantung pada situasi keamanan. Tanpa jeda konflik, moderasi sulit terjadi,” kata Selamat.

Dampaknya akan meluas ke kawasan. Negara-negara Arab berpotensi meninjau ulang hubungan diplomatik, sementara Amerika Serikat akan berupaya menahan eskalasi.

Selama lebih dari satu dekade, Netanyahu menjadi arsitek utama politik Israel yang keras terhadap Iran dan skeptis terhadap solusi dua negara. Tanpa dirinya, Israel menghadapi pilihan: bertahan dalam pendekatan keamanan ekstrem atau mencari keseimbangan baru.

“Pergantian pemimpin bukan otomatis menghadirkan perdamaian. Yang dibutuhkan adalah keberanian keluar dari logika perang, dan itu yang paling sulit,” ujar Selamat.

Artikel ini ditulis oleh:

Andry Haryanto

Prabowo: Bangun Pukul 03.00 WIB Pantau Dunia, Istirahat Disiasati di Sela Agenda

Presiden Indonesia, Prabowo Subianto. Aktual/BPMI-SETPRES

Presiden Prabowo Subianto mengungkap kebiasaannya mengikuti perkembangan isu global sejak dini hari. Ia mengaku kerap terbangun sekitar pukul 03.00 WIB untuk memantau informasi internasional, terutama melalui platform digital, agar tetap responsif terhadap dinamika global.

Dalam diskusi bersama jurnalis senior dan pengamat di Hambalang, Jawa Barat, Prabowo menyebut dirinya sudah terbiasa berada dalam arus informasi yang padat. Ia bahkan melabeli dirinya sebagai bagian dari kalangan yang tak bisa lepas dari berita.

“Kita ini sudah seperti ‘news junkies’, terus mengikuti perkembangan,” ujarnya, dikutip Jumat (20/3/2026).

Menurut Prabowo, kebiasaan bangun dini hari dipengaruhi oleh perbedaan waktu Indonesia dengan negara lain. Saat Indonesia memasuki dini hari, sejumlah peristiwa penting di kawasan lain justru sedang berlangsung.

“Jam tiga pagi di sini, di Washington DC masih sore. Kalau ada pemimpin dunia menyampaikan sesuatu, saya bisa langsung mengikuti,” kata dia.

Ia menambahkan, kebiasaan itu membuatnya dapat merespons isu global dengan cepat, bahkan dalam waktu yang berdekatan dengan pernyataan yang muncul di luar negeri.

Di tengah ritme kerja yang padat, Prabowo menegaskan tetap menjaga kebutuhan istirahat. Ia mengaku memiliki pola tidur yang tidak kaku dan bisa menyesuaikan kondisi.

“Saya terbiasa tidur di mana saja, di kendaraan atau saat perjalanan. Ini mungkin kebiasaan sejak di militer,” ujarnya.

Selain itu, ia juga memanfaatkan waktu jeda di antara agenda untuk beristirahat singkat. Durasi 15 hingga 30 menit dinilainya cukup untuk memulihkan energi sebelum kembali melanjutkan aktivitas.

“Kalau ada waktu kosong, saya gunakan untuk tidur sebentar. Lima belas menit saja sudah terasa seperti mengisi ulang tenaga,” tutur Prabowo.

 

Artikel ini ditulis oleh:

Andry Haryanto

Kedaulatan Rakyat atau Kedaulatan Partai Politik? Meninjau Praktik Demokrasi Indonesia

Rinto Setiyawan , A.Md., S.H., CTP Ketua Umum Ikatan Wajib Pajak Indonesia, Anggota Majelis Tinggi Partai X, Wakil Direktur Sekolah Negarawan (Aktual)
Rinto Setiyawan , A.Md., S.H., CTP Ketua Umum Ikatan Wajib Pajak Indonesia, Anggota Majelis Tinggi Partai X, Wakil Direktur Sekolah Negarawan (Aktual)

Oleh: Rinto Setiyawan , A.Md., S.H., CTP
Ketua Umum Ikatan Wajib Pajak Indonesia, Anggota Majelis Tinggi Partai X, Wakil Direktur Sekolah Negarawan

Jakarta, aktual.com – Konstitusi Indonesia menegaskan bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat. Prinsip ini tertulis jelas dalam Pasal 1 ayat (2) UUD NRI 1945 yang menyatakan bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar. Secara teoritis, rumusan ini menunjukkan bahwa rakyat adalah pemilik negara, sedangkan lembaga negara, pemerintah, dan seluruh perangkat kekuasaan hanyalah pelaksana mandat rakyat.

Namun dalam praktik demokrasi Indonesia hari ini, muncul pertanyaan yang semakin sering terdengar di tengah Masyarakat yaitu apakah kedaulatan benar-benar berada di tangan rakyat, atau justru telah bergeser menjadi kedaulatan partai politik?

Pertanyaan ini tidak muncul tanpa sebab. Ia lahir dari kenyataan bahwa hampir seluruh jalur kekuasaan negara harus melalui partai politik, sehingga rakyat tidak memiliki akses langsung terhadap proses pengambilan keputusan negara.

Dalam teori republik, negara terdiri dari wilayah, rakyat, dan pemerintahan. Rakyat adalah pemilik kedaulatan, negara adalah organisasi milik rakyat, dan pemerintah hanyalah sebagian kecil rakyat yang diberi kewenangan untuk menjalankan urusan sehari-hari.

Dengan logika ini, partai politik seharusnya hanya menjadi sarana, bukan pusat kekuasaan. Partai berfungsi sebagai perantara aspirasi rakyat, bukan sebagai pemilik negara.

Namun praktik demokrasi Indonesia menunjukkan sesuatu yang berbeda.
Presiden hanya dapat maju melalui partai politik.

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) berasal dari partai politik.
Kepala daerah harus melalui partai politik.
Bahkan banyak jabatan strategis negara ditentukan oleh konfigurasi partai.

Akibatnya, rakyat tidak berhadapan langsung dengan negara, tetapi harus melalui partai. Kedaulatan rakyat menjadi tidak langsung, bahkan sering terasa jauh dari kenyataan.

Kondisi ini pernah dikritik secara tajam oleh Cak Nun, yang melihat bahwa rakyat Indonesia sering kali tidak memiliki perlindungan nyata dalam struktur negara. Beliau menyatakan:

“Saya mohon izin, karena di negara ini Anda tidak dilindungi siapa-siapa. Anda tidak dilindungi siapa-siapa. Orang Indonesia kenapa kuat? Kenapa hebat? Karena tidak ada perlindungan dari negara dan pemerintah. Pemerintah banyak ngancam kepada penduduknya, begitu. Maka bangsa Indonesia adalah bangsa yang sangat tangguh karena cari duit sendiri, berlindung sendiri, ya toh? Jadi mereka sangat luar biasa.”

Pernyataan tersebut menggambarkan perasaan yang banyak dirasakan Masyarakat yakni rakyat harus bertahan sendiri, sementara struktur negara terasa jauh dan sulit dijangkau.

Cak Nun juga pernah mengkritik dominasi partai politik dalam sistem demokrasi Indonesia dengan ungkapan yang sangat tajam:

“Semua parpol itu kerajaan, dan kerajaan terbesar adalah kerajaan Bung Karno. Maka keputusan PDIP tetap Megawati. Sama halnya Demokrat tetap SBY. Semua bikin kerajaan sekarang.”

Kritik ini menunjukkan bahwa partai politik dalam praktik sering tidak lagi sekadar organisasi demokrasi, tetapi berubah menjadi pusat kekuasaan yang tertutup, yang menentukan arah negara tanpa keterlibatan rakyat secara nyata.

Dalam teori demokrasi, rakyat adalah pemegang kedaulatan. Tetapi dalam praktik, rakyat hanya memilih dari pilihan yang sudah ditentukan oleh partai.

Rakyat memilih presiden, tetapi calon presiden harus disetujui partai.
Rakyat memilih anggota DPR, tetapi daftar calon disusun partai.

Rakyat memilih kepala daerah, tetapi pencalonan dikendalikan partai.

Situasi ini menimbulkan kontradiksi bahwa kedaulatan disebut berada di tangan rakyat, tetapi pintu kekuasaan berada di tangan partai.

Dalam kajian ketatanegaraan, kondisi seperti ini menunjukkan bahwa demokrasi prosedural berjalan, tetapi demokrasi substantif melemah. Rakyat tetap memilih, tetapi tidak sepenuhnya menentukan.

Jika partai politik menjadi satu-satunya jalan menuju kekuasaan, maka partai akan memiliki posisi yang lebih kuat daripada rakyat. Negara dapat berjalan berdasarkan kesepakatan elite, bukan berdasarkan kehendak rakyat secara langsung.

Inilah yang menimbulkan kesan bahwa Indonesia bukan lagi sepenuhnya menjalankan kedaulatan rakyat, melainkan kedaulatan partai politik.

Dalam situasi seperti ini, rakyat tetap disebut berdaulat, tetapi sering merasa tidak dilindungi. Rakyat tetap menjadi sumber legitimasi, tetapi tidak selalu menjadi pusat keputusan.

Demokrasi yang sehat tidak berarti menghilangkan partai politik, tetapi memastikan bahwa partai tidak menggantikan rakyat sebagai pemilik kedaulatan.
Partai harus menjadi alat rakyat, bukan penguasa rakyat.

Pemerintah harus menjadi pelayan rakyat, bukan pemilik negara.

Negara harus berdiri untuk melindungi rakyat, bukan hanya untuk mengatur rakyat.
Jika prinsip ini tidak dijaga, maka demokrasi akan tetap berjalan secara formal, tetapi kehilangan makna. Pertanyaan “kedaulatan rakyat atau kedaulatan partai politik” bukan sekadar kritik, melainkan pengingat bahwa republik hanya akan kuat jika rakyat benar-benar menjadi pemilik negara, bukan hanya disebut sebagai pemilik dalam konstitusi.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Berita Lain