6 April 2026
Beranda blog Halaman 244

Pakar Unpad Ungkap Alasan Iran Sulit Digoyahkan Militer AS

Pengamat Hubungan Internasional dari Universitas Padjajaran Prof. Teuku Rezasyah. ANTARA/Katriana/pri.
Pengamat Hubungan Internasional dari Universitas Padjajaran Prof. Teuku Rezasyah. ANTARA/Katriana/pri.

Jakarta, aktual.com – Pakar hubungan internasional Universitas Padjadjaran, Teuku Rezasyah memaparkan sejumlah faktor strategis Iran sulit untuk diusik atau dihancurkan oleh militer negara mana pun, termasuk Amerika Serikat (AS).

“Iran tidak mudah digoyahkan apalagi dihancurkan,” kata Reza dalam webinar Global Insight Forum bertajuk “Setelah Venezuela, Iran & Greenlad : ‘Siapa’ Target Selanjutnya”, yang dipantau secara daring di Jakarta, Sabtu (31/1).

Reza mengatakan alasan pertama yakni, Iran merupakan salah satu pusat peradaban awal, seperti halnya China, India, dan Romawi. Kesadaran historis ini menumbuhkan semangat besar untuk menjaga marwah bangsa, baik di kalangan pemerintah maupun masyarakat.

Alasan kedua, kepemimpinan Iran relatif dihormati dan dicintai oleh masyarakatnya karena dianggap menunjukkan keteladanan ideologis serta berupaya memenuhi kebutuhan dasar rakyat dalam kerangka kemandirian nasional dan perlawanan terhadap dominasi asing.

Ketiga, Iran memiliki kekuatan militer yang mandiri dan autentik, dengan teknologi pertahanan yang dikembangkan di dalam negeri tanpa ketergantungan signifikan pada pihak luar.

“Karena itu, peluru kendali, telah disiapkan untuk berbagai jarak—pendek, menengah, hingga jauh—termasuk untuk menghadapi kapal induk di kawasan Timur Tengah. Sementara, Angkatan Laut Iran juga rutin menggelar latihan di perairan strategis,” kata Reza, yang juga selaku Direktur Eksekutif Global Insight Forum (GIF).

Menurutnya, dalam skenario konflik terbuka, Iran berpotensi melakukan blokade Selat Hormuz yang akan berdampak besar terhadap lalu lintas energi dan perdagangan global.

“Jika Amerika Serikat menyerang Iran, langkah ini (blokade) sangat mungkin dilakukan,” katanya melanjutkan.

Keempat, negara-negara Teluk berada dalam tingkat kewaspadaan tinggi terhadap kemungkinan pembalasan Iran. Jika Iran diserang, respons balasan dapat berupa peluncuran misil dalam jumlah besar yang mengguncang kawasan Timur Tengah.

Pengalaman konflik sebelumnya menunjukkan bahwa dalam perang singkat di masa lalu, kota-kota besar Israel mengalami kerusakan signifikan dan hanya mampu bertahan setelah keterlibatan langsung Amerika Serikat.

“Saat ini, Iran disebut memiliki stok peluru kendali dalam jumlah sangat besar,” katanya.

Reza menambahkan bahwa alasan kelima, yakni adanya keengganan serius negara-negara NATO untuk mendukung serangan langsung terhadap Iran.

“NATO dinilai telah belajar dari AS yang juga menggunakan tekanan ekonomi sebagai alat geopolitik,” ucapnya.

Alasan terakhir, yakni Iran memiliki kemampuan intelijen yang kuat dalam mendeteksi, menyisir, dan menindak jaringan lawan, baik di dalam maupun di luar negeri dan ketegasan dalam menghukum agen dan simpatisan asing menjadi faktor pencegah signifikan.

Dengan demikian, katanya, diperkirakan AS hanya melakukan serangan kecil atas Iran sebelum 11 Februari, dan sesudahnya menyatakan diri sebagai pemenang, sekadar untuk menjaga citra di panggung internasional.

Sebelumnya pada 22 Januari, Presiden AS Donald Trump memperingatkan Iran agar tidak melanjutkan kembali program nuklir, seraya menegaskan bahwa pelanggaran itu dapat memicu tindakan militer.

Trump mengatakan Washington akan memastikan posisi Teheran saat ini terkait aktivitas nuklir dan tidak akan menoleransi upaya apa pun untuk mengembangkan senjata nuklir.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Friderica Widyasari Dewi Ditunjuk Sebagai Ketua OJK Baru

Dokumentasi - Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK Friderica Widyasari Dewi di Jakarta, Senin (16/6/2025). (ANTARA/HO-OJK)
Dokumentasi - Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK Friderica Widyasari Dewi di Jakarta, Senin (16/6/2025). (ANTARA/HO-OJK)

Jakarta, aktual.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengambil langkah penataan internal dengan menetapkan Pejabat Pengganti Anggota Dewan Komisioner (ADK) guna menjaga keberlangsungan kepemimpinan serta memastikan fungsi pengaturan dan pengawasan sektor jasa keuangan tetap berjalan normal. Keputusan tersebut diambil dalam Rapat Dewan Komisioner OJK yang berlangsung di Jakarta, Jumat (30/1/2026) kemarin.

Dalam penetapan itu, Friderica Widyasari Dewi yang menjabat sebagai Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen ditugaskan sebagai Anggota Dewan Komisioner Pengganti Ketua dan Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK. Sementara itu, Hasan Fawzi yang saat ini menjabat Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto dipercaya mengisi posisi Anggota Dewan Komisioner Pengganti Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon.

Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan dan Komunikasi OJK M Ismail Riyadi menyampaikan bahwa penunjukan pejabat pengganti tersebut merupakan bagian dari ketentuan yang telah diatur dalam Peraturan Dewan Komisioner OJK. “Ini bagian dari mekanisme kelembagaan untuk menjaga stabilitas organisasi,” ujarnya, Sabtu (31/1/2026).

Ia menuturkan, keputusan terkait jabatan Pejabat Pengganti ADK mulai berlaku efektif pada 31 Januari 2026. Seiring dengan itu, OJK akan melakukan penajaman terhadap arah kebijakan, program kerja, dan agenda strategis agar tetap selaras dengan perkembangan sektor keuangan yang terus bergerak. “Penyesuaian kebijakan akan terus dilakukan,” kata Ismail.

Selain memastikan kesinambungan kepemimpinan, OJK menegaskan koordinasi dengan para pemangku kepentingan akan terus diperkuat. Pelayanan kepada masyarakat juga dipastikan tetap berjalan optimal sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas sektor jasa keuangan sekaligus memperkuat pelindungan konsumen.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Ahmad Muzani : NU Berusia 100 Tahun, Pilar Persatuan dan Penjaga Republik

Ketua MPR RI H. Ahmad Muzani. Aktual/DOK MPR RI

Jakarta, aktual.com – Ketua MPR RI H. Ahmad Muzani menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama (NU) memiliki peran historis dan strategis dalam perjalanan bangsa Indonesia, sejak masa penjajahan hingga mengisi kemerdekaan.

Muzani menyampaikan bahwa NU genap berusia satu abad dan bahkan lebih tua dibanding Republik Indonesia yang baru akan memasuki usia 100 tahun pada 2045 mendatang.

“Hari ini, Sabtu 31 Januari 2026, usia NU tepat 100 tahun. NU lebih tua dari Republik Indonesia yang baru akan berusia 100 tahun pada 2045, 19 tahun lagi,” ujar Ahmad Muzani dalam peringatan 100 tahun NU, Sabtu, 31/1/2026.

Ia mengingatkan bahwa saat NU didirikan pada 1926, kondisi bangsa Indonesia masih sangat memprihatinkan. Rakyat hidup dalam kemiskinan, keterbatasan pendidikan, dan tekanan penjajahan. Namun para ulama dan kiai memiliki kesadaran tinggi terhadap nasib bangsa, rakyat, dan umat.

“Pada saat NU berdiri, kondisi rakyat kita miskin, tidak berpendidikan, dan serba kekurangan. Tapi para ulama dan kiai memiliki kesadaran yang tinggi akan bangsanya, akan rakyatnya, akan umatnya, kemudian mendirikan NU,” kata Muzani.

Menurutnya, sejak awal NU telah menanamkan kesadaran untuk melawan penjajahan melalui pendidikan pesantren dan pengajaran agama. Semangat menegakkan keadilan dan mengusir penjajah terus tumbuh seiring perjalanan NU.

“Kontribusi NU terhadap Republik Indonesia sejak berdiri sampai sekarang begitu besar,” tegasnya.

Ia mencontohkan lahirnya organisasi-organisasi perjuangan NU seperti Ansor pada 1934 dan Banser pada 1936, bahkan sebelum Republik Indonesia berdiri. Organisasi tersebut menjadi bagian dari upaya NU memperkuat basis perlawanan terhadap penjajah.

Ahmad Muzani juga menyinggung peran besar NU dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia, khususnya saat peristiwa November 1945 di Surabaya.

“Ketika Belanda dan Inggris ingin kembali menguasai Indonesia pada November 1945, generasi muda NU, para santri, dan seluruh rakyat Surabaya bersatu melawan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa fatwa jihad kala itu menjadi pemantik persatuan santri dan rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan.

“Tanpa diminta, fatwa jihad keluar. Seluruh santri NU, laki-laki dan perempuan, di desa dan di kota, mengangkat bambu runcing untuk mempertahankan Republik Indonesia,” katanya.

Dalam perjalanan sejarah berikutnya, NU juga disebut berperan besar dalam menjaga ideologi negara saat Indonesia menghadapi ancaman komunisme. Banyak pesantren dan santri menjadi korban demi keselamatan bangsa.

Tak hanya dalam perjuangan politik dan ideologi, NU juga selalu hadir di tengah rakyat termasuk saat bencana melanda berbagai daerah di Indonesia.

“NU hadir menenangkan umatnya, menenangkan rakyatnya, bahwa bencana adalah ujian dari Allah, ujian kesabaran dan kekuatan,” ujar Muzani.

Ia menyebut doa-doa yang dipanjatkan melalui yasinan, tahlilan, zikir, dan selawat menjadi bagian dari ikhtiar NU menjaga ketenangan dan persatuan bangsa.

“Barangkali itulah yang menyebabkan kita masih kuat dan tetap bersatu sampai sekarang. Bangsa ini berutang kepada NU,” ucapnya.

Karena itu, Ahmad Muzani menegaskan negara membutuhkan NU yang kuat. Menurutnya, NU yang kuat akan melahirkan Indonesia yang kuat.

“Kalau NU kuat, Indonesia akan kuat. NU kuat apabila jamaahnya sehat, kenyang, bekerja, dan hidup layak. Indonesia akan kuat apabila rakyatnya sehat jasmani dan rohani, cerdas pikirannya, dan memiliki pekerjaan,” katanya.

Menutup sambutannya, Ketua MPR RI menekankan bahwa NU tidak mengejar pujian ataupun takut terhadap celaan.

“Pimpinan NU, santri NU, pengurus NU, dan para nyai NU tidak perlu pujian dan tidak perlu makian. Yang penting bagi NU adalah ridho Allah SWT,” pungkas Ahmad Muzani.

Artikel ini ditulis oleh:

Tino Oktaviano

Pelabuhan, Logistik, dan Arah Baru Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Setiap hari ribuan kapal melintasi perairan Indonesia, dari Selat Malaka hingga Selat Lombok. Namun, meski berada di jalur utama perdagangan dunia, Indonesia kerap hanya menjadi penonton. Di tengah pembangunan pelabuhan dan reformasi logistik yang terus digencarkan, muncul satu pertanyaan krusial: apakah Indonesia benar-benar siap naik kelas menjadi pusat perdagangan global, atau kembali melewatkan peluang emasnya?

Oleh: Dr. Arya I.P. Palguna
(IEPR/Institute of Economic and Political Resources)

Jakarta, Aktual.com — Indonesia berada tepat di jantung jalur perdagangan dunia. Selat Malaka, Selat Sunda, dan Selat Lombok bukan sekadar jalur pelayaran, melainkan nadi utama arus barang global. Namun, selama puluhan tahun keunggulan geografis ini belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi keunggulan ekonomi. Indonesia lebih sering menjadi “penonton” arus logistik internasional, sementara nilai tambah justru dinikmati oleh negara-negara hub pelabuhan di kawasan.

Situasi ini mulai berubah ketika pengembangan Tanjung Priok Tahap II, operasional Pelabuhan Patimban, serta percepatan digitalisasi logistik menandai keseriusan Indonesia untuk naik kelas, dari sekadar negara transit menjadi hub pelabuhan internasional. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah mungkin, melainkan seberapa besar dampaknya terhadap ekonomi nasional.

Dari sudut pandang ekonomi makro, dampaknya signifikan. Saat ini sektor perdagangan dan transportasi menyumbang sekitar 15 persen Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, atau sekitar 210 miliar dolar AS dari total PDB Indonesia yang berada di kisaran 1,4 triliun dolar AS. Jika Indonesia berhasil memposisikan diri sebagai hub pelabuhan global, peningkatan aktivitas bongkar muat, transshipment, pergudangan, dan jasa logistik bernilai tambah dapat mendorong lonjakan kontribusi sektor ini secara substansial.

Dalam skenario realistis, tambahan nilai ekonomi dari sektor perdagangan dan transportasi diperkirakan mencapai sekitar 63 miliar dolar AS. Estimasi ini merupakan simulasi penulis yang didasarkan pada data PDB Indonesia serta struktur kontribusi sektor perdagangan dan transportasi Badan Pusat Statistik (BPS), termasuk asumsi peningkatan aktivitas logistik yang lazim digunakan dalam sejumlah studi, baik oleh World Bank maupun OECD, terkait pengembangan hub pelabuhan.

Dengan tambahan tersebut, PDB nasional berpotensi meningkat menjadi sekitar 1,46 triliun dolar AS hanya dari satu klaster sektor. Dalam skenario optimistis, dengan efisiensi logistik tinggi dan arus perdagangan internasional yang masif, tambahan PDB dapat mencapai sekitar 95 miliar dolar AS. Sementara dalam skenario pesimistis, potensi tambahan tetap berada di atas 30 miliar dolar AS. Dengan demikian, kontribusi sektor perdagangan dan transportasi terhadap PDB nasional dapat meningkat dari sekitar 15 persen menjadi 17 hingga 21 persen.

Lebih dari sekadar kenaikan angka makroekonomi, pergeseran ini akan memperkuat daya tarik investasi asing, memperluas penciptaan lapangan kerja, dan menurunkan biaya logistik nasional yang selama ini menjadi salah satu hambatan utama daya saing industri. Kota-kota pelabuhan berpotensi berkembang menjadi pusat ekonomi regional baru, tempat bertemunya aktivitas manufaktur, jasa, dan perdagangan bernilai tambah tinggi. Dalam kerangka ini, penguatan sektor pelabuhan tidak hanya memberikan dampak langsung, tetapi juga memicu multiplier effect yang menyebar ke ekonomi lokal dan nasional sehingga memperkuat struktur pertumbuhan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Peluang besar ini tidak akan terwujud secara otomatis. Pemerintah memerlukan pendekatan kebijakan yang terintegrasi. Pertama, peningkatan kapasitas pelabuhan harus diiringi konektivitas darat dan laut yang andal dengan dukungan pembiayaan kreatif melalui skema Public–Private Partnership (PPP). Kedua, reformasi birokrasi kepabeanan dan harmonisasi regulasi antara pusat dan daerah mutlak diperlukan agar arus barang bergerak cepat dan pasti. Ketiga, insentif fiskal serta pengembangan kawasan perdagangan bebas di sekitar pelabuhan akan menentukan daya tarik Indonesia dalam peta logistik global.

Tidak kalah penting, pembangunan sumber daya manusia dan pengelolaan dampak lingkungan harus menjadi bagian dari strategi. Hub pelabuhan modern menuntut tenaga kerja terampil, sistem digital canggih, serta praktik berkelanjutan agar pertumbuhan tidak mengorbankan lingkungan dan masyarakat pesisir.

Singkatnya, menjadikan Indonesia sebagai hub pelabuhan global bukan semata proyek infrastruktur, melainkan strategi transformasi ekonomi. Jika dikelola dengan visi kebijakan yang tepat, pelabuhan dapat menjadi mesin pertumbuhan baru yang mendorong Indonesia tidak hanya sebagai produsen barang, tetapi juga sebagai simpul logistik strategis dalam perdagangan dunia.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi

Gatot Kritik Keras Kapolri, Tuding Ada Pembangkangan terhadap Negara

Jakarta, aktual.com – Mantan Panglima TNI periode 2015–2017 Gatot Nurmantyo melontarkan kritik keras terhadap pernyataan Kapolri Listyo Sigit Prabowo yang disampaikan di ruang Komisi III DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (21/1/2025). Dalam forum tersebut, Listyo menolak wacana penempatan Polri di bawah kementerian dan menyatakan lebih memilih mundur menjadi petani jika Polri tidak lagi berada di bawah presiden.

Menurut Gatot, pernyataan Kapolri yang menegaskan akan mempertahankan posisi institusinya hingga titik darah penghabisan patut dipandang sebagai bentuk ancaman. Terlebih, Gatot menyoroti adanya instruksi kepada jajaran Polri untuk berjuang mempertahankan marwah institusi.

Gatot menilai situasi itu sebagai tanda bahaya serius bagi demokrasi. “Itu yang disampaikan Kapolri itu bahasa konflik, bahasa tekanan kekuasaan, bahasa intimidasi. Ini puncak dari tiga kali pembangkangan kebjakan terhadap negara oleh Kapolri,” kata Gatot dalam video viral yang dikutip di Jakarta, Jumat (30/1/2025).

Ia kemudian merinci tiga kekeliruan Kapolri dalam merespons tuntutan publik terkait pembenahan internal Polri dalam waktu berdekatan. “Pertama, membentuk tim reformasi tandingan, menerbitkan Peraturan Kepolisian Nomor 10, dan mengunci ruang koreksi, walaupun sudah ada Mahkamah Konstitusi,” ucap Gatot saat mengisi kuliah umum di Universitas Sangga Buana YPKP, Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (29/1/2026).

Yang membuatnya kian heran, lanjut Gatot, Kapolri justru melontarkan pernyataan bernada tantangan ke ruang publik. Padahal, putusan Mahkamah Konstitusi bersifat final dan mengikat, termasuk ketentuan bahwa anggota Polri yang berdinas di kementerian atau lembaga harus mundur atau pensiun dini.

“Kini nantang di ruang publik secara terbuka dengan diksi esktrem, ini sinyal bahaya bahwa disiplin konstitusi sedang diuji secara terbuka. Pernyataan sebenarnya, tantangan itu ditujukan kepada siapa sih?” kata mantan KSAD itu, yang hadir bersama pegiat politik Rocky Gerung.

Gatot pun mempertanyakan arah dan sasaran pernyataan Kapolri tersebut. “Iya dong, dia menantang kan, tantangannya itu kepada siapa? Pertanyaan mendasar yang tidak perlu dihindari harus dijawab itu. Siapa sebenarnya target tantangan Kapolri? Artinya kapolri menguji batas kewenangan presiden sebagai pemegang mandat konstitusional tertinggi,” ujar Gatot.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

PDIP Ungkap Perombakan Kabinet Kewenangan Presiden

Jakarta, aktual.com – Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan menyebutkan perombakan susunan Kabinet Merah Putih merupakan kewenangan Presiden Prabowo Subianto.

“Itu adalah kewenangan sepenuhnya dari Presiden,” ujar Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat PDI P, Hasto Kristiyanto, saat ditemui di Jakarta, Sabtu (31/1).

Saat ditanya mengenai sudah adanya komunikasi maupun tindak lanjut mengenai perombakan tersebut antara Presiden dengan PD IP, Hasto pun tak menjawab.

Sebelumnya, Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, menyatakan, hingga saat ini belum ada pembahasan mengenai perombakan dari susunan Kabinet Merah Putih.

Hal itu disampaikan Prasetyo, menjelang agenda pelantikan Anggota Dewan Energi Nasional, di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (28/1), untuk merespons berbagai pertanyaan terkait dinamika kabinet, termasuk isu pengisian sejumlah jabatan kabinet.

“Enggak ada,” katanya menjawab pertanyaan awak media Istana Kepresidenan, Jakarta, seputar beredarnya informasi terkait perombakan kabinet.

Prasetyo menjelaskan bahwa tidak ada reshuffle dalam arti perombakan kabinet. Perubahan yang terjadi sejauh ini hanya berkaitan dengan beralihnya penugasan Wakil Menteri Keuangan, Thomas Djiwandono, yang saat ini tengah menjalani proses untuk menjabat sebagai deputi gubernur Bank Indonesia (BI).

Terkait kekosongan jabatan di posisi itu, Prasetyo menegaskan bahwa hingga kini belum ada keputusan untuk mengisi posisi tersebut.

Menurutnya, pemerintah masih menunggu rampungnya seluruh proses pengangkatan Deputi Gubernur BI yang tengah berjalan.

Ia juga menepis adanya pembahasan mengenai kandidat calon Wamenkeu, termasuk soal jumlah wakil menteri yang akan mengisi pos tersebut.

Menurut Prasetyo, Presiden akan terlebih dahulu melakukan kajian dan meminta masukan dari Menteri Keuangan sebelum mengambil keputusan.

Prasetyo menyatakan bahwa hingga saat ini tidak ada rencana reshuffle di pos-pos kementerian lain. Ia juga menegaskan bahwa isu perombakan kabinet belum dibahas di internal Istana.

“Belum ada. Belum dibicarakan,” katanya menegaskan.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Berita Lain