13 April 2026
Beranda blog Halaman 265

OJK Ajukan Solusi ke MSCI soal UBO dan Free Float Pasar Modal Indonesia

Anggota Dewan Komisioner OJK, Pengganti Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi. Aktual/HO

Jakarta, aktual.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan sejumlah hasil diskusi dalam pertemuan daring bersama indeks provider global MSCI yang dihadiri Bursa Efek Indonesia (BEI) serta sejumlah self regulatory organization (SRO) lainnya. Pertemuan tersebut digelar secara daring pada Senin sore, 2 Februari 2026.

Dalam agenda tersebut, OJK bersama otoritas pasar modal Indonesia mengajukan proposal solusi untuk menjawab berbagai isu yang menjadi perhatian MSCI. Fokus pembahasan mencakup pengungkapan ultimate beneficial ownership (UBO) serta aspek likuiditas guna mendorong peningkatan free float sebagai kebijakan baru di pasar modal Indonesia.

Anggota Dewan Komisioner OJK sekaligus Pengganti Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, mengatakan salah satu poin utama yang disampaikan adalah rencana pembukaan data kepemilikan saham emiten di bawah 5%.

“Ke depan, Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) akan menyajikan data pemilik saham suatu emiten, bahkan hingga di atas 1%,” ujar Hasan dalam konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta.

Selain itu, OJK juga akan meningkatkan granularitas data klasifikasi investor yang selama ini dikelola KSEI. Hasan menjelaskan, saat ini klasifikasi investor masih terbatas pada sembilan tipe utama dan akan diperluas menjadi 27 sub-tipe investor.

“Kedua, kami akan menghadirkan granularitas atau perincian klasifikasi investor. Ini penting untuk memperkuat klarifikasi dan kredibilitas pengungkapan UBO atas kepemilikan saham,” katanya.

Di sisi lain, OJK dan BEI turut menyampaikan proposal kenaikan free float minimum dari ketentuan saat ini sebesar 7,5% menjadi 15%. Hasan menegaskan, kebijakan tersebut akan diterapkan secara bertahap dengan dukungan seluruh pelaku pasar modal.

“Kebijakan ini akan dilakukan secara gradual dan didukung oleh para pemangku kepentingan pasar modal, termasuk Danantara yang hadir dalam pertemuan hari ini,” ujarnya.

Hasan menambahkan, diskusi dengan MSCI berlangsung konstruktif dan akan dilanjutkan pada pertemuan lanjutan di tingkat teknis. Bahkan, MSCI disebut akan memberikan panduan terkait metodologi dan perhitungan yang digunakan dalam proses evaluasi.

“MSCI juga akan menyediakan guidance dalam menjelaskan metodologi dan cara perhitungan yang mereka lakukan,” kata Hasan.

OJK pun memastikan akan melakukan pembaruan informasi secara berkala kepada publik terkait perkembangan dan komitmen atas rancangan kebijakan tersebut sebagai bagian dari upaya meningkatkan transparansi pasar modal.

“Mudah-mudahan ini menjadi progres yang baik dan pada akhirnya, setelah melalui evaluasi, kita berharap mendapatkan konfirmasi penerimaan,” pungkas Hasan.

Artikel ini ditulis oleh:

Tino Oktaviano

Prabowo Ultimatum Mantan Bos BUMN, Terancam Dipanggil Kejaksaan soal Aset Negara

Jakarta, Aktual.com – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto melayangkan ultimatum keras kepada para mantan pimpinan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terkait pengelolaan aset negara. Pernyataan tersebut disampaikan dalam Pembukaan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah 2026 di Sentul, Bogor, Senin (2/2/2026).

Ultimatum itu disampaikan seiring klaim pemerintah dalam menyelamatkan kekayaan negara melalui pembentukan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, yang berfungsi sebagai pengelola terpusat aset-aset strategis BUMN.

Prabowo menyampaikan bahwa pemerintahannya telah mengonsolidasikan seluruh aset BUMN ke dalam satu sistem pengelolaan terintegrasi guna menutup celah kebocoran anggaran.

“Saya telah menghimpun semua kekuatan milik negara dalam satu pengelolaan yang nilainya lebih dari satu triliun dolar AS,” ujar Prabowo.

Kepala negara menilai pola lama yang membiarkan aset negara tersebar di lebih dari seribu perusahaan sebagai kebijakan yang tidak masuk akal dan menyulitkan pengawasan. Menurutnya, skema tersebut membuka ruang inefisiensi sekaligus potensi penyimpangan dalam pengelolaan aset negara.

“Bayangkan siapa yang bisa mengelola seribu perusahaan. Ini jelas tidak masuk akal,” katanya.

Prabowo menegaskan tidak akan membiarkan kesalahan masa lalu berlalu tanpa pertanggungjawaban hukum. Ia secara terbuka memperingatkan para mantan pimpinan BUMN agar tidak merasa aman.

“Pimpinan-pimpinan BUMN yang dulu jangan merasa aman. Siap-siap dipanggil kejaksaan,” tegasnya.

Presiden juga menepis anggapan bahwa pernyataannya hanya sebatas retorika politik di atas podium. Komitmen penegakan hukum, kata dia, akan dibuktikan melalui langkah nyata, bukan sekadar pernyataan.

Lebih lanjut, Prabowo mengajak seluruh pejabat negara menghentikan praktik korupsi dan memilih jalan pengabdian yang bersih. Ia mengingatkan bahwa kekuasaan bersifat sementara dan setiap tindakan pada akhirnya akan dimintai pertanggungjawaban.

(Nur Aida Nasution)

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi

KPK Periksa Tiga Saksi Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Mesin EDC BRI

Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi Budi Prasetyo. Aktual/HO

Jakarta, aktual.com – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadwalkan pemeriksaan terhadap tiga saksi terkait dugaan tindak pidana korupsi pengadaan mesin Electronic Data Capture (EDC) Bank Rakyat Indonesia (BRI). Pemeriksaan dilakukan di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Senin, 2 Februari 2026.

Juru Bicara KPK Budi Prasetyo mengatakan pemeriksaan tersebut merupakan bagian dari penyidikan perkara pengadaan mesin EDC BRI.
“Hari ini KPK menjadwalkan pemeriksaan saksi terkait pengadaan mesin EDC BRI,” kata Budi dalam keterangannya di Jakarta.

Saksi pertama yang dipanggil adalah Arif Wicaksono selaku Kepala Divisi Retail Payment BRI pada periode 2019 hingga Maret 2020. Saksi kedua, Aditya Prabhaswara, menjabat Wakil Kepala Bagian Merchant Operasional pada Divisi Retail Payment and Transaction BIT.

Sementara itu, saksi lainnya yakni Eka Rusdiani yang menjabat Department Head Procurement Group BRI. Pemeriksaan para saksi dilakukan untuk melengkapi berkas perkara sekaligus mendalami proses pengadaan mesin EDC tersebut.

Budi memastikan penyidikan perkara ini masih terus berjalan. Penyidik KPK akan memanggil sejumlah pihak terkait guna mengungkap dugaan penyimpangan dalam proyek pengadaan tersebut.

Selain itu, penyidik juga mendalami peran penyedia sistem dan sinyal dalam proyek EDC BRI. Pendalaman dilakukan terhadap keterkaitan antara perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software) yang digunakan dalam sistem transaksi.

Sebelumnya, KPK turut memanggil Direktur PT Indosat, Irsyad Sahroni, namun yang bersangkutan tidak memenuhi panggilan penyidik.
“Tidak hadir dan sedang dicek alasan ketidakhadirannya,” ujar Budi.

Budi menjelaskan, PT Indosat diduga berkaitan dengan penyediaan perangkat lunak dalam pengadaan mesin EDC.
“Mesin EDC mencakup hardware dan software sehingga sistemnya perlu didalami,” katanya.

Dalam perkara ini, KPK telah menetapkan lima tersangka. Tiga tersangka berasal dari internal BRI, yakni mantan Wakil Direktur Utama BRI Catur Budi Harto, Direktur Digital dan Teknologi Informasi BRI sekaligus mantan Direktur Utama Allo Bank Indra Utoyo, serta SEVP Manajemen Aktiva dan Pengadaan BRI Dedi Sunardi.

Dua tersangka lainnya berasal dari pihak swasta, yakni Direktur Utama PT Pasific Cipta Solusi Elvizar dan Direktur Utama PT Bringin Inti Teknologi Rudy Suprayudi Kartadidjaja.

Penyidik KPK menduga kerugian negara dari dua pengadaan mesin EDC tersebut mencapai Rp744 miliar. KPK memastikan penelusuran akan diperluas untuk mengungkap peran pihak-pihak lain yang terlibat.

Artikel ini ditulis oleh:

Tino Oktaviano

Banjir di Jakarta & Sejumlah Daerah Jadi Tempat Bermain Baru….Warga

Artikel ini ditulis oleh:

Tino Oktaviano

Banggar DPR RI Harap Pimpinan Baru OJK Pulihkan Kepercayaan Pasar Modal

Ketua Badan Anggaran DPR RI Said Abdullah. ANTARA/HO-DPR

Jakarta, aktual.com – Ketua Badan Anggaran DPR RI Said Abdullah berharap pimpinan baru Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mampu membangun kembali kepercayaan pasar modal melalui sikap independen dan profesional dalam setiap pengambilan kebijakan.

Hal itu disampaikan Said menyusul perubahan kepemimpinan di OJK setelah empat pimpinan lembaga tersebut mengundurkan diri. Saat ini, posisi pimpinan OJK dirangkap oleh Friderica Widyasari Dewi sebagai Ketua dan Wakil Ketua OJK, serta Hasan Fawzi yang menjabat Kepala Eksekutif Pasar Modal sekaligus merangkap jabatan sebelumnya.

“Salah satu fondasi utama kepercayaan pasar adalah bahwa OJK harus tetap independen dan profesional dalam setiap pengambilan keputusannya,” kata Said dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Senin.

Ia menegaskan, independensi OJK merupakan prinsip yang tidak bisa ditawar. Karena itu, pemerintah dan DPR diminta untuk tetap menjaga batas kewenangan dan tidak mencampuri ranah teknis regulator keuangan, termasuk kebijakan yang berada di bawah kewenangan OJK maupun Bank Indonesia.

“Posisi pemerintah dan DPR hanya sebatas memberikan masukan, bukan penilaian,” ujarnya.

Said juga menyarankan OJK untuk terus memperkuat kebijakan terkait saham beredar bebas atau free float. Ia menyambut positif langkah OJK yang menaikkan batas minimum free float dari 7,5 persen menjadi 15 persen pada Februari 2026, dan berharap kebijakan tersebut diperluas secara bertahap.

Selain itu, ia menekankan pentingnya transparansi kepemilikan saham oleh seluruh emiten di bursa, termasuk keterbukaan informasi mengenai pemilik manfaat akhir atau ultimate beneficial owner. Langkah ini dinilai penting agar lembaga pemeringkat global seperti MSCI dapat menilai risiko emiten secara objektif.

Dalam aspek pengawasan, Said menegaskan OJK harus menjadi otoritas utama dalam penegakan hukum di pasar modal, khususnya terhadap praktik manipulasi harga saham atau goreng-menggoreng saham yang dapat merusak mekanisme pasar.

“Apabila dalam proses penegakan hukum OJK membutuhkan aparat lain, maka sepenuhnya hal itu berada dalam komando OJK. Hal ini semata-mata untuk menjaga independensi OJK sebagai otoritas tertinggi di lembaga keuangan,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti peran media sosial yang kini dimanfaatkan sebagian perusahaan efek untuk membentuk opini pasar. Menurutnya, praktik tersebut berpotensi menjadi bagian dari sindikasi manipulasi saham dan merugikan investor.

Karena itu, Said mendukung penuh langkah OJK untuk mengatur kerja sama antara perusahaan efek, pegiat media sosial, dan penyedia jasa teknologi, termasuk kewajiban sertifikasi guna memastikan kepatuhan dan etika dalam perdagangan saham.

Di sisi lain, Said meminta OJK mengevaluasi penempatan dana perusahaan asuransi di pasar saham hingga 20 persen, yang dinilai memiliki risiko spekulatif tinggi. Ia mengingatkan, sejumlah kasus gagal bayar perusahaan asuransi sebelumnya menjadi pelajaran penting dalam pengelolaan dana masyarakat.

Dalam jangka menengah dan panjang, Said juga mendorong OJK mengkaji risiko penempatan dana pensiun di saham dan obligasi. Ia menilai dana pensiun memiliki peran penting sebagai penyedia likuiditas domestik, namun juga menghadapi risiko ketika terjadi tekanan pasar atau arus keluar dana asing.

Untuk itu, OJK diharapkan merumuskan mekanisme penyangga likuiditas yang jelas guna melindungi dana pensiun masyarakat sekaligus menjaga stabilitas pasar keuangan nasional.

“Langkah ini penting agar dana pensiun tetap aman, sekaligus mencegah risiko yang dapat mengganggu stabilitas pasar saham dan obligasi,” kata Said.

Artikel ini ditulis oleh:

Tino Okt

BPS: Kesenjangan Petani dan Nelayan Melebar pada Januari 2026

Jakarta, Aktual.com — Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono mengungkapkan, nilai tukar nelayan naik 2,51 persen pada Januari 2026, sementara nilai tukar petani justru mengalami penurunan. Data tersebut mencerminkan perbedaan kondisi ekonomi yang tajam antara sektor perikanan dan pertanian di awal tahun.

“Indeks harga yang diterima nelayan naik 2,24 persen, sementara indeks harga yang dibayar turun 0,26 persen,” ungkap Ateng saat ditemui di Kantor BPS RI, Jakarta, Senin (2/2/2026).

Ia menambahkan, sejumlah komoditas perikanan menjadi pendorong utama perbaikan tersebut. Ikan cakalang, layang, tongkol, kembung, dan cumi-cumi memberikan kontribusi besar terhadap kenaikan pendapatan nelayan.

Sebaliknya, sektor pertanian menghadapi tekanan pada periode yang sama. Nilai Tukar Petani (NTP) Januari 2026 tercatat sebesar 123,60 atau turun 1,40 persen dibandingkan Desember 2025.

“Indeks harga yang diterima petani turun 1,85 persen, sedangkan indeks harga yang dibayar hanya turun 0,45 persen,” kata Ateng.

Lebih lanjut, Ateng menyampaikan tekanan paling besar dirasakan subsektor hortikultura akibat melimpahnya pasokan setelah panen raya di berbagai sentra produksi. BPS mencatat NTP hortikultura merosot hingga 13,76 persen, terutama dipicu turunnya harga cabai rawit, bawang merah, dan cabai merah.

Di tengah penurunan pendapatan petani, harga beras justru menunjukkan kecenderungan naik pada Januari 2026. Rata-rata harga beras di tingkat penggilingan meningkat 0,75 persen secara bulanan dan 6,19 persen secara tahunan, dengan kenaikan tertinggi terjadi pada beras premium.

Kondisi petani semakin tertekan oleh faktor cuaca pada akhir 2025. “Curah hujan yang tinggi menyebabkan sebagian lahan pertanian tergenang, menghambat aktivitas tanam dan panen, serta membatasi peluang pemulihan ekonomi petani pada awal 2026,” tuturnya.

(Nur Aida Nasution)

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi

Berita Lain