Jakarta, Aktual.co — Pertumbuhan ekonomi RI pada kuartal I tahun 2015 hanya tumbuh sebesar 4,7 persen, angka tersebut jauh dari target prediksi yang sebesar 5,7 persen. Pun perkiraan pertumbuhan ekonomi RI sepanjang 2015 hanya mampu menyentuh angka 5,4 persen saja.
Kondisi pertumbuhan ekonomi RI yang masih tak berdaya tersebut tak ayal membuat dampak buruk di beberapa sektor. Tak hanya sejumlah perusahaan industri yang menjadi korban dan harus gulung tikar, sektor properti pun kini diketahui dalam kondisi buruk.
Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan P Roslaeni mengemukakan, di sektor properti, perhotelan menjadi yang terparah terkena dampak perekonomian yang lesu. Dikatakan dia, banyak perhotelan yang akhirnya banting harga hingga 30 persen.
“Paling berat itu sebenarnya terjadi di hotel. Karena sudah banyak yang banting harga sampai 30%. Karena demand nya itu turun,” ungkapnya di sela-sela acara Rakernas, di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (25/5)
Dalam hal ini, kata Rosan, dalam catatan perbankan, perhotelan paling sering mengalami kredit bermasalah atau NPL (Non Performing Loans). Banyak hotel yang akhirnya tidak melunasi pinjaman yang sudah jatuh tempo.
“NPL itu banyak yang berasal dari hotel. Karena terjadi banyak pembangunan dan demand menurun, lalu mereka banting harga. Tapi kan margin hotel itu tipis sekali. Jadi saat banting harga itu mereka nggak untung dan nggak bisa bayar utangnya di bank,” lanjutnya kemudian.
Kondisi ini, kata Rosan, tentu berbeda dengan kondisi tiga tahun terakhir, permintaan hotel masih sangat tinggi lantaran pertumbuhan ekonomi yang masih diatas enam persen.
“Kalau properti hampir 3 tahun ini mengalami pertumbuhan yg signifikan. Sekarang ekonomi melambat dan otomatis properti seperti hotel yang high end itu agak stagnan,” tukasnya.
Artikel ini ditulis oleh: